Keteguhan Hati Pengrajin Rapai Bertahan dalam Sunyi

Kompas.com - 09/10/2016, 17:46 WIB
Pengrajin rapai sedang membuat alat musik tradisional sejenis rebana itu di Desa Blang Weu Panjo, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, Minggu (9/10/2016) Kontributor Lhokseumawe, Masriadi Pengrajin rapai sedang membuat alat musik tradisional sejenis rebana itu di Desa Blang Weu Panjo, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, Minggu (9/10/2016)
|
EditorCaroline Damanik

LHOKSEUMAWE, KOMPAS.com – Deru mesin penghalus kayu terdengar nyaring di salah pojok Desa Blang Weu Panjo, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, Minggu (9/10/2016). Dua pekerja sibuk memegang kayu, sebagian lainnya sibuk menyiapkan rotan.

Tempat ini adalah sentra pembuatan alat musik Rapai, sejenis rebana, di Aceh. Alat musik tradisional itu melegenda hingga ke pelosok nusantara. Dari alat musik inilah muncul seni Rapai Debus, Rapai Uroh, dan lainnya. Dimainkan dengan cara ditabuh.

Kini, lamat-lamat alat musik itu nyaris sirna. Para pengrajin, kesulitan mendapatkan bahan baku. Misalnya, pengrajin sulit mendapatkan kayu kualitas terbaik seperti kayu merbau (caesalpiniaceae).

“Rotan juga sulit kami dapatkan,” sebut salah seorang pengrajin, Suniadi.

Dia menyebutkan, untuk kulit gendang digunakan kulit kambing. Biasanya diperoleh dari peternak lokal. Namun, untuk kayu, dibeli dari masyarakat di kawasan hutan Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah.

“Jika menggunakan kayu lain, bunyinya akan berbeda. Tidak nyaring dan tidak indah ketika dimainkan,” ujarnya.

Saat ini, pengrajin kesulitan memenuhi pesanan dari sejumlah daerah di tanah air. Bahkan, pengrajin mengaku terkadang tidak bekerja selama sepekan, hanya karena kesulitan memperoleh bahan baku.

Untuk harga, pengrajin membandrol Rp 1,2 juta sampai Rp 5 juta per unit. Sangat tergantung ukuran rapai. Dia menyebutkan, memproduksi rapai butuh waktu satu atau dua hari.

“Dalam sepekan paling delapan unit bisa kami buat. Itu pun dengan catatan kayu tersedia,” ujarnya.

Bisnis pembuatan rapai yang dirintis sejak 2002 silam itu kini digeluti oleh tiga orang. Seluruhnya keluarga Suniadi. Mereka memberi label proyeknya dengan nama Keneubah Nanggro. Namun, di sisi lain, Suniadi menyayangkan minimnya pagelaran seni rapi di Aceh akhir-akhir ini. Sehingga, sangat jarang masyarakat yang memesan rapai dalam jumlah besar.

“Kalau pagelaran seni rapai ramai, pemilik sanggar juga pasti bersemangat, dari situ akan dipesan terus rapai baru,” ungkapnya.

Dia khawatir, satu waktu generasi muda Aceh tidak akan bisa menikmati seni tradisi turun temurun itu. Malah, sambung Suniadi, rapai banyak dipesan oleh masyarakat di luar Aceh hingga mancanegara.

“Saya harap agar seni tradisional Aceh ini, dilestarikan generasi muda, tentu dengan dukungan semua pihak termasuk pemerintah,” pungkasnya.

Meski di tengah kesulitan bahan baku dan minimnya pementasan seni, Suniadi dan keluarganya terus berkarya, membuat rapai, agar seni itu tak hanya menjadi rekam sunyi dalam ingatan manusia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Klarifikasi soal Hoaks, KPU Ogan Ilir Pastikan Calon Petahana Masih Didiskualifikasi

Klarifikasi soal Hoaks, KPU Ogan Ilir Pastikan Calon Petahana Masih Didiskualifikasi

Regional
Anggota DPRD Jeneponto Dibacok, Berawal dari Masalah Knalpot Bising

Anggota DPRD Jeneponto Dibacok, Berawal dari Masalah Knalpot Bising

Regional
Usai Bertemu Calon Suami, Perempuan Ini Kehilangan Indra Penciuman, Ternyata Kena Corona

Usai Bertemu Calon Suami, Perempuan Ini Kehilangan Indra Penciuman, Ternyata Kena Corona

Regional
Detik-detik Perwira Polisi Ditangkap Bawa 16 Kg Sabu, Sempat Diberondong Tembakan agar Menyerah

Detik-detik Perwira Polisi Ditangkap Bawa 16 Kg Sabu, Sempat Diberondong Tembakan agar Menyerah

Regional
Awalnya untuk Usir Kebosanan, Kini Usaha Sofa Botol Plastik Andi Bisa Raup Jutaan Rupiah

Awalnya untuk Usir Kebosanan, Kini Usaha Sofa Botol Plastik Andi Bisa Raup Jutaan Rupiah

Regional
Mayat Wanita Pekerja Kafe Ditemukan di Kolam Penangkaran Buaya, Ini Dugaan Polisi

Mayat Wanita Pekerja Kafe Ditemukan di Kolam Penangkaran Buaya, Ini Dugaan Polisi

Regional
Seorang Perwira Polisi di Pekanbaru Ditangkap karena Edarkan Sabu

Seorang Perwira Polisi di Pekanbaru Ditangkap karena Edarkan Sabu

Regional
Viral, Detik-detik Polisi Tangkap Pengedar Narkoba, Diwarnai Kejar-kejaran Mobil dan Suara Tembakan

Viral, Detik-detik Polisi Tangkap Pengedar Narkoba, Diwarnai Kejar-kejaran Mobil dan Suara Tembakan

Regional
Gugus Tugas Covid-19 Klaim 70 Persen Warga Banten Patuh Protokol Kesehatan

Gugus Tugas Covid-19 Klaim 70 Persen Warga Banten Patuh Protokol Kesehatan

Regional
Kandang Ayam Kebakaran, 40.000 Ekor Ayam Hangus Terbakar

Kandang Ayam Kebakaran, 40.000 Ekor Ayam Hangus Terbakar

Regional
Banyak Layangan Dimainkan di Sekitar Bandara, Salah Satunya Tersangkut di Pesawat

Banyak Layangan Dimainkan di Sekitar Bandara, Salah Satunya Tersangkut di Pesawat

Regional
Libur Panjang Akhir Oktober, 6 Kawasan Wisata di Jateng Dijaga Ketat

Libur Panjang Akhir Oktober, 6 Kawasan Wisata di Jateng Dijaga Ketat

Regional
Pesan Terakhir Wali Kota Tasikmalaya untuk Warganya Sebelum Ditahan KPK

Pesan Terakhir Wali Kota Tasikmalaya untuk Warganya Sebelum Ditahan KPK

Regional
Fransiska Ditemukan Tewas di Kolam Penangkaran Buaya, Tangannya Diikat Lakban

Fransiska Ditemukan Tewas di Kolam Penangkaran Buaya, Tangannya Diikat Lakban

Regional
Sederet Fakta Oknum Polisi dan TNI Jadi Pemasok Senjata Api KKB di Papua

Sederet Fakta Oknum Polisi dan TNI Jadi Pemasok Senjata Api KKB di Papua

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X