Dimas Kanjeng Abal-abal

Kompas.com - 04/10/2016, 16:07 WIB
SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ Dimas Kanjeng Taat Pribadi menjawab pertanyaan wartawan saat digiring aparat Kepolisian menuju ruang pemeriksaan di Subdit I Keamanan Negara Ditreskrimum Polda Jatim, Rabu (28/9/2016). Taat Pribadi ditahan Polisi karena diduga menjadi otak pembunuhan mantan jamaahnya.

Pada 11 Januari 2016, Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang sekarang ini merajai berita nasional karena kasus penggandaan uang dan pembunuhan, dinobatkan sebagai Raja Anom. Gelar yang dipilih adalah “Sri Raja Prabu Rajasa Negara” yang mengingatkan kita pada gelar-gelar jaman Majapahit.

Salah satu istrinya, diberi kedudukan permaisuri dengan gelar “Nyi Ageng Rahmawati” yang dekat dengan gelar kebangsawanan di Banten.

Tulisan ini akan mengupas tentang kedudukan Taat Pribadi sebagai raja abal-abal, seabal-abal demonstrasi penggandaan dan pengadaan uang yang dilakukannya.

Sejak reformasi, bermunculan puluhan bahkan ratusan orang yang mengaku-aku sebagai raja dan sultan di seluruh Indonesia. Jumlahnya semakin lama semakin banyak.

Sebagian besar dari mereka kemudian bergabung dalam organisasi-organisasi raja dan sultan yang sengaja mereka dirikan untuk memperkuat legitimasi para pengaku-aku bangsawan ini.

Pemerintah tidak bisa berbuat banyak. Konstitusi kita mengatur bahwa setiap orang punya hak untuk berkumpul, berorganisasi dan menyampaikan pendapat.

Mereka juga menempuh jalur hukum sehingga mendapatkan akta notaris dan pengesahan dari instansi pemerintah yang menaungi organisasi kemasyarakatan.

Pemerintah juga tidak bisa melarang jika ada warga negaranya yang menjahitkan baju warna-warni dan sedikit norak, membuat beberapa pin besar-besar yang terbuat dari emas atau kuningan yang di beberapa sisinya dipenuhi batu zirconia, dan kemudian mengaku sebagai Raja Madangkara misalnya.

Sekali lagi, itu adalah ekspresi individual dan kebebasan konstitusional yang diatur undang-undang. Tapi sebenarnya, berapa jumlah kerajaan yang memiliki perjanjian panjang (lange contraact) dan pendek (korte verklaring) dengan Belanda sebelum Jepang datang?

Dokumen Belanda (Staatblad) mengatur terdapat 14 kerajaan/kesultanan di Indonesia yang memiliki kontrak panjang dengan Belanda dan 268 yang memiliki kontrak pendek.

Di Jawa terdapat empat kesultanan yang berada di Yogyakarta dan Surakarta. Cirebon sudah menjadi bagian dari pemerintahan langsung (direct-rule) sejak diambil alih Inggris. Probolinggo, tentu saja tidak ada. Beberapa bagian di Jawa Timur adalah bagian dari Kasunanan Surakarta dan pemerintahan langsung.

Selain kontrak panjang, ke 268 kontrak pendek yang diatur melalui Staatblad 1919/822 lebih banyak terdiri dari kepala-kepala desa mayoritas berada di wilayah Timur. Para kepala adat setingkat desa ini, misalnya di Maluku, Tapanuli dan Flores, juga disebut sebagai “Raja”.

Asosiasi Keraton Kesultanan Indonesia (AKKI) yang menobatkan Taat Pribadi menjadi Raja Anom mengklaim memiliki 147 anggota yang tidak terdaftar dalam Staatblad Belanda 1919.


Page:
EditorWisnubrata

Terkini Lainnya

SBY Minta Demokrat Tak Terlibat Kegiatan yang Bertentangan dengan Konsitusi

SBY Minta Demokrat Tak Terlibat Kegiatan yang Bertentangan dengan Konsitusi

Nasional
Perludem Minta Semua Pihak Hormati Proses Penghitungan Suara oleh KPU

Perludem Minta Semua Pihak Hormati Proses Penghitungan Suara oleh KPU

Nasional
Jumat Siang, Hujan Diprediksi Guyur Beberapa Wilayah Jabodetabek

Jumat Siang, Hujan Diprediksi Guyur Beberapa Wilayah Jabodetabek

Megapolitan
Catatan Perludem soal Pemilu, TPS Masih Ada yang Kurang Ramah Penyandang Disabilitas

Catatan Perludem soal Pemilu, TPS Masih Ada yang Kurang Ramah Penyandang Disabilitas

Nasional
Ganjar Pranowo Puas dengan Perolehan Suara Jokowi-Ma'ruf di Jateng

Ganjar Pranowo Puas dengan Perolehan Suara Jokowi-Ma'ruf di Jateng

Regional
Polisi: Pengemudi Camry Tabrak 5 Kendaraan Bermotor, 7 Orang Luka-luka

Polisi: Pengemudi Camry Tabrak 5 Kendaraan Bermotor, 7 Orang Luka-luka

Megapolitan
Hasil 'Quick Count' Sejumlah Lembaga: Jokowi-Ma'ruf Unggul di DKI Jakarta

Hasil "Quick Count" Sejumlah Lembaga: Jokowi-Ma'ruf Unggul di DKI Jakarta

Megapolitan
'Contohlah Pak Jokowi, meski Menang Tidak Deklarasi Kemenangannya, Dia Minta Tunggu KPU'

"Contohlah Pak Jokowi, meski Menang Tidak Deklarasi Kemenangannya, Dia Minta Tunggu KPU"

Nasional
Pengemudi Camry yang Tabrak Sejumlah Pengendara Motor di Tendean Diduga Mabuk

Pengemudi Camry yang Tabrak Sejumlah Pengendara Motor di Tendean Diduga Mabuk

Megapolitan
Sepekan Jalani Perawatan, Seorang Korban Ledakan Ruko di Medan Meninggal

Sepekan Jalani Perawatan, Seorang Korban Ledakan Ruko di Medan Meninggal

Regional
Imigrasi Georgia: Dua Perempuan Saudi Bersedia Ajukan Suaka

Imigrasi Georgia: Dua Perempuan Saudi Bersedia Ajukan Suaka

Internasional
Pengemudi Camry Tabrak Sejumlah Pengendara Motor di Tendean hingga Saharjo

Pengemudi Camry Tabrak Sejumlah Pengendara Motor di Tendean hingga Saharjo

Megapolitan
Dosen yang Racuni Anggota DPRD Sragen Dijerat Pasal Pembunuhan Berencana

Dosen yang Racuni Anggota DPRD Sragen Dijerat Pasal Pembunuhan Berencana

Regional
Ancaman Arsenik dan Ironi Pencarian Air Bersih di Bangladesh...

Ancaman Arsenik dan Ironi Pencarian Air Bersih di Bangladesh...

Internasional
Kiriman Kedua Bantuan Kemanusiaan Akan Tiba di Venezuela dalam Tiga Pekan

Kiriman Kedua Bantuan Kemanusiaan Akan Tiba di Venezuela dalam Tiga Pekan

Internasional

Close Ads X