Kisah-kisah Para Pemimpi Kekayaan Korban Dimas Kanjeng

Kompas.com - 01/10/2016, 06:15 WIB
Gubuk derita para pemimpi kekayaan berlipat di sekitar Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Dusun Sumber Cengkelek , Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Probolinggo. Surya/Galih LintartikaGubuk derita para pemimpi kekayaan berlipat di sekitar Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Dusun Sumber Cengkelek , Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Probolinggo.
EditorFarid Assifa

PROBOLINGGO, KOMPAS.com — Dari ratusan tenda yang berdiri di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, terdapat satu tenda dengan tulisan mencolok, "Tenda Perjuangan".

Tulisan tersebut memakai cat warna kuning sehingga akan lebih tampak mencolok dibanding tenda lainnya yang berdiri di padepokan yang berlokasi di Dusun Sumber Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Probolinggo.

Tenda ini berada di belakang Padepokan. Lokasinya berbatasan dengan sawah. Luas tenda diperkirakan 4 meter x 4 meter. Tenda itu hanya terbuat dari terpal.

Konon ceritanya, tulisan ini dibuat oleh salah seorang pengikut yang resah dan gelisah menunggu pencairan uang mahar yang dijanjikan akan digandakan oleh Dimas Kanjeng, guru besar padepokan.

Salah satu pengikut yang namanya tidak mau diumumkan mengatakan, tulisan itu dibuat oleh temannya yang bernama Agus asal Jawa Tengah. Ia mengaku tidak mengenalnya secara dekat. Hanya sebatas menyapa antar-pengikut Dimas Kanjeng.

"Tulisan itu dibuat untuk menyemangatinya yang sudah lelah. Ia memang sudah putus asa karena uangnya hilang ratusan juta di tangan Dimas Kanjeng. Makanya, dia buat tulisan tenda perjuangan," katanya.

Dia menjelaskan, Agus menganggap bahwa tenda itu saksi hidup perjuangannya selama di padepokan. Menurut dia, Agus memang sudah lebih dari tujuh bulan bertahan di padepokan dengan kondisi kekurangan. Ia pun rela meninggalkan pekerjaannya sebagai pedagang daging di daerah asalnya, termasuk meninggalkan keluarganya.

"Akhirnya Agus tidak kuat memperjuangkannya. Ia memilih pulang kampung sebelum Dimas Kanjeng ditangkap. Ia sudah tidak memikirkan uangnya," paparnya.

Ia pun mengalami hal yang sama. Ia merasakan bahwa hidup di tenda padepokan ini ibarat sebuah perjuangan mencapai kesuksesan. Namun, ia mengaku bahwa titik kesuksesannya ini terlalu panjang dan berliku. Bahkan, ia pun tidak memiliki gambaran apa yang ada di depannya.

"Saya mau pulang saja, tapi ini masih menunggu transferan uang dari istri saya. Begitu ada uang, saya pulang ke rumah," paparnya.

Kompas TV Membongkar Modus Penipuan Dimas Kanjeng (Bag 1)

Dia menuturkan sudah tujuh bulan di padepokan. Tujuannya sama dengan pengikut lainnya, menunggu pencairan uang mahar. Sebab, syaratnya sebelum uang mahar yang digandakan cair, pengikut diwajibkan belajar agama mulai mengaji, shalat, puasa, dan mengamalkan amalan-amalan lainnya.

"Intinya memperbanyak tirakat. Tapi, sampai tujuh bulan ini belum ada pencairan sama sekali. Saya dulu tahu padepokan ini dari teman saya," tuturnya.

Dia mengaku, niatnya memberikan uang mahar ini untuk memperkaya diri. Ia menyebut memiliki utang dan jumlahnya puluhan juta. Ia tidak memiliki uang sebanyak itu untuk menutupi utangnya.

"Saya justru semakin banyak utang sekarang, uang mahar tidak kembali sama sekali," tutupnya. (Galih Lintartika)

Berita ini sudah tayang di Tribunnews, Sabtu 1 Oktober 2016 dengan judul Kisah Dari Balik Gubuk Derita Para Pemimpi Kekayaan Korban Dimas Kanjeng

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X