BBM Langka di Majene, Nelayan Menganggur dan Sopir Angkot Sulit Penuhi Setoran - Kompas.com

BBM Langka di Majene, Nelayan Menganggur dan Sopir Angkot Sulit Penuhi Setoran

Kompas.com - 26/09/2016, 18:32 WIB
KOMPAS.com/JUNAEDI Akibat kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak, sejumlah nelayan di sepanjang pesisir pantai Majene, Sulawesi Barat, berhenti melaut, Senin (26/9/2016). Mereka menghabiskan waktu dengan memperbaiki kapal atau kegiatan lain di rumah.

MAJENE, KOMPAS.com - Kelangkaan bahan bakar minyak di Majene, Sulawesi Barat, sejak sepekan terakhir menyebabkan sejumlah usaha kecil dan kerakyatan terpuruk.

Kelangkaan BBM itu tidak hanya mempersulit sopir angkutan umum untuk menggejar setoran. Nelayan yang selama in menggantungkan hidup mencari ikan di laut juga terpukul oleh ketiadaan BBM.

Sejumlah sopir angkutan umum mengeluh sulit mendapatkan penumpang karena waktu mereka lebih banyak digunakan untuk antre di stasiun pengisian bahan bakar umum.

 

(Baca juga Stok BBM Terbatas, Antrean Kendaraan di SPBU Mengular hingga 2 Km)

Sementara sejumlah nelayan yang kesulitan mendapatkan BBM kini terpaksa berhenti melaut. Karena tidak punya keterampilan selain melaut, beberapa nelayan menganggur. Mereka menghabiskan waktu dengan membersihkan rumah, mengecat perahu, atau membenahi gasebo di sekitar rumahnya.

Jamal, salah satu nelayan di Rangas, Kecamatan Banggae, Majene, mengaku sudah beberapa hari terakhir menganggur lantaran kesulitan mendapatkan BMM.

Jamal kerap kesal saat dituding sebagai pedagang BBM eceran saat mengantre sambil membawa jeriken di SPBU.

"Saya sudah beberapa hari ini stres menganggur di rumah karena tak bisa beraktivitas. Susah cari BBM, di pengecer juga susah dapat," ujar Jamal.

Ia berharap agar pemerintah dan Pertamina segera mengatasi kelangkaan BBM ini agar dampaknya tidak semakin luas.

Kelangkaan BBM ini diakui pula oleh Rahayu, pengelola SPBU di Kelurahan lmebang. Menurut dia, ada pengurangan jatah BBM hingga separuh dari biasanya.

Menurut Rahayu, stok BBM normal yang biasanya dipasok dari depot Pertamina Pare-pare berkisar antara 24.000 dan 32.000 liter per hari kini hanya menjadi 8.000 hingga 16.000 liter.

Ia menyebutkan, pihak depot Pertamina Pare-pare mengurangi jatah BBM di SPBU dengan maksud untuk pemerataan dengan SPBU di daerah lain.

Untuk sementara, Rahayu tidak melayani pembelian BBM dengan jeriken, kecuali nelayan. Itu pun nelayan harus bisa menunjukkan surat bukti dari instansi terkait.


EditorLaksono Hari Wiwoho

Close Ads X