Pengorbanan Dewi Suryana menjadi Lulusan Tercepat di Singapura (4-Habis) Halaman all - Kompas.com

Pengorbanan Dewi Suryana menjadi Lulusan Tercepat di Singapura (4-Habis)

Kompas.com - 22/09/2016, 07:02 WIB
DOK. PRIBADI Dewi Suryana dan kedua orangtuanya saat acara wisuda di Nanyang Technological University (NTU) Singapura, 30 Juni 2016.

SINGAPURA, KOMPAS.com - Terbayar sudah seluruh pengorbanan Dewi Suryana untuk menyelesaikan kuliahnya di Singapura. Ia telah lulus dengan predikat First Class Honours dan lulusan S-1 tercepat di Nanyang Technological University (NTU) pada Juni 2016.

Itu sebuah capaian luar biasa bagi seorang gadis dari sebuah keluarga sederhana di Pontianak, Kalimantan Barat. Prestasi itu ia rengkuh melalui serangkaian perjuangan hidup sejak ia masih belia.

(Baca juga Kisah Dewi Suryana: Dari Keluarga Sederhana, Lulus Memuaskan di Singapura [1])

Ketika masih SMP, kelahiran 9 September 1995 itu seringkali melewati masa istirahatnya tanpa makan di sekolah. Waktu rehat ia gunakan untuk belajar atau bertanya kepada gurunya di SMP Immanuel Pontianak.

Menginjak SMA, ia pindah ke Tangerang dengan beasiswa untuk pelajar berbakat. Tiga tahun sekolah di SMAK Penabur Gading Serpong, Dewi tak pernah kembali ke Pontianak karena tidak ada uang untuk membeli tiket pesawat.

Jauh dari orangtuanya yang sakit-sakitan, Dewi berusaha mencari uang tambahan dengan mengajar les privat di Bintaro dan Gading Serpong. Tak ada waktu baginya untuk bersenang-senang layaknya anak muda masa kini.

Kesibukan serba melelahkan itu berlanjut setelah ia berada di Singapura pada 2013. Pertama kali ia terbang ke sana, tidak ada yang menemani. Ia menginap semalam di Bandara Changi dan keesokan paginya langsung menuju kampus NTU.

(Baca juga Kisah Dewi Suryana: Jalan Berliku Peraih Beasiswa di Singapura [2])

Beasiswa yang ia terima untuk kuliah di NTU tidak serta-merta mencukupi seluruh kebutuhannya.

Gadis berkacamata itu masih harus mengumpulkan uang di masa jeda pencairan beasiswa.

Dewi juga menghabiskan akhirnya pekannya untuk mengajar les pelajaran eksakta untuk anak SMP dan SMA di sana.

"Pagi hari saya kuliah dan malam saya mengajar, bahkan Sabtu-Minggu saya habiskan untuk mengajar," kata Dewi saat ditemui kontributor Kompas.com di Singapura, Ericssen, awal September lalu.

Tuntutan hidup itu menyita waktunya. Meski demikian, ia tetap menomorsatukan studinya. Sesibuk apa pun, Dewi tetap hadir di ruang kuliah.

(Baca juga Kisah Dewi Suryana: Beli Lauk Seadanya demi Kuliah di Singapura [3])

Dewi menempa dirinya lebih keras dibanding rekan-rekannya. Di saat teman-temannya mengambil 18-20 satuan kredit semester (SKS), Dewi melahap 27 SKS per semester. Di awal kuliah, ia mengambil 10 modul kuliah sekaligus per semester.

Itu sebabnya Dewi bisa lulus dalam waktu tiga tahun dari jurusan Teknik Material, sementara rata-rata mahasiswa lain merampungkannya dalam empat tahun.

"Sebenarnya sejumlah materi yang diajarkan di sini terutama di semester-semester awal sudah saya pelajari di SMA atau di pelatihan olimpiade," tutur peraih medali perak pada International Junior Science Olympiad (IJSO) di Azerbaijan (2009) dan International Chemistry Olympiad (IChO) di Amerika Serikat (2012) itu.

"Saya sudah memahaminya, tetapi saya memilih tetap datang untuk melihat perspektif lain, mendalami, dan juga mengulang kembali materi," ujarnya.

Anak kedua dari empat bersaudara itu mengakui bukan sosok yang sangat mudah bergaul. Namun, dia bersyukur karena memiliki sejumlah teman dekat, baik kawan Indonesia maupun Singapura, yang dapat memahami latar belakang dan kesibukannya.

Tidak ada cerita Dewi kongko dengan kawan-kawannya di restoran atau menonton bioskop atau bersenang-senang di kelab malam.

"Bagi kita, berkumpul makan siang bersama di kantin atau bahkan belajar bersama sudah merupakan sebuah kesenangan bersama," katanya dengan wajah ceria.

Di antara kesibukannya itu, Dewi masih menyempatkan diri ikut dalam sejumlah kegiatan ekstrakurikuler NTU, seperti klub teknik material, klub investasi, dan perkumpulan rohani.

Harus diakuinya bahwa aktivitasnya yang bejibun itu seringkali membuatnya lelah dan kurang jam tidur.

"Ada hari di mana saya hanya ingin tidur seharian," ucapnya sambil tertawa.

Saat ini Dewi telah bekerja di Lam Research Corporation sebagai field process engineer. Perusahaan ini telah menerimanya sebelum dia lulus kuliah. Dewi juga masih tetap mengajar privat di malam hari seusai jam kerja kantor.

Kini dia berencana mengurangi jumlah muridnya supaya mendapatkan lebih banyak waktu untuk beristirahat, jalan-jalan di kebun, berkomunikasi dengan keluarganya di Pontianak, dan sejumlah aktivitas ringan lainnya.

Gadis berumur 21 ini mengakhiri wawancara dengan rasa syukur atas apa yang sudah didapatkannya walau harus menghadapi jalan terjal dan luar biasa berliku.

"Saya bersyukur yang paling utama keadaaan keluarga sudah lebih baik dan kami juga sudah dapat membeli rumah melalui KPR," kata Dewi yang semasa kecil hidup bersama keluarga dan menumpang di rumah saudara ayahnya.

Dewi sangat senang karena ayah ibunya tidak perlu lagi bekerja dan dapat menikmati hari tua mereka.

Kondisi ayahnya kini berangsur-angsur membaik. Ia lega karena telah membawa ayahnya berobat, padahal dulu ayahnya kerap tak punya uang untuk ke dokter.

Ayah dan ibunya terlihat bangga dan penuh haru ketika menghadiri wisuda Dewi pada 30 Juni 2016.

Ketika ditanya apakah akan kembali ke Indonesia, Dewi hanya tersenyum. Dia berharap, kelak ketika ia kembali ke Tanah Air, ia ingin menjalankan usaha dan membuka sebuah yayasan untuk menolong orang-orang yang memerlukan uluran tangan.

Dengan pengalaman hidup yang penuh warna ini, Dewi berpesan bahwa siapa pun dapat mewujudkan mimpinya asalkan diiringi kerja keras dan motivasi kuat tanpa mengenal lelah.

"Bagi yang merasa tidak seberuntung orang lain, baik dari segi finansial atau latar belakang, fokuslah pada kelebihanmu. Tidak ada impian yang mustahil," pesan Dewi.

"Saya berharap kisah saya dapat menginspirasi teman-teman lain terutama yang punya mimpi ingin berkuliah di luar negeri," ujarnya mengakhiri dengan senyum.

Simak kisah-kisah Dewi pada artikel-artikel yang lain:

Kisah Dewi Suryana: Dari Keluarga Sederhana, Lulus Memuaskan di Singapura (1)

Kisah Dewi Suryana: Jalan Berliku Peraih Beasiswa di Singapura (2)

Kisah Dewi Suryana: Beli Lauk Seadanya demi Kuliah di Singapura (3)


Page:
EditorLaksono Hari Wiwoho

Close Ads X