Bangun Apartemen Tamansari, Ridwan Kamil Tak Akan Beri Uang Ganti Rugi

Kompas.com - 19/09/2016, 20:51 WIB
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil saat ditemui di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalemkaum, Senin (19/9/2016) malam. KOMPAS.com/DENDI RAMDHANI Kontributor Bandung, Dendi RamdhaniWali Kota Bandung Ridwan Kamil saat ditemui di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalemkaum, Senin (19/9/2016) malam. KOMPAS.com/DENDI RAMDHANI
|
EditorFarid Assifa

BANDUNG, KOMPAS.com - Pemerintah Kota Bandung akan kembali membangunan apartemen rakyat di lahan milik pemerintah di kawasan bantaran sungai Cikapundung, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan.

Ridwan memastikan, dalam pembangunan apartemen rakyat itu tidak ada uang pengganti bagi warga terdampak. Pasalnya, pihaknya tak punya dasar hukum untuk memberikan uang kompensasi bagi warga yang menduduki lahan pemerintah.

Namun, ia menjamin seluruh warga terdampak akan kembali ditempatkan di apartemen rakyat Tamansari jika proses pembangunan sudah rampung.

"Tidak ada dasar hukumnya. Pemkot pasti akan melakukan tindakan yang win-win. Kalau ada dasar hukumnya saya pasti lakukan. Kalau saya ditangkap berperkara hukum kan mereka enggak akan nolong. Jadi saya harus mengedukasi kepada warga yang menolak karena tidak paham hukumnya," tutur Emil, sapaan akrabnya di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalemkaum, Senin (19/9/2016) malam.

Baca juga: Curhat Warga dan Bandung yang Kian Mirip Jakarta

Emil menjelaskan, ada tiga situasi saat Pemkot Bandung membangun apartemen rakyat, yakni memanfaatkan lahan kosong, menata lahan milik pemkot yang diisi kekumuhan, serta berkolaborasi dengan pihak ketiga.

"(Di Tamansari) kita sedang lakukan tipe kedua. Dicek dulu tata ruangnya kalau kekumuhan ini tata ruangnya aman, berarti bisa ditempati lagi. Beda kasus sama Babakan Siliwangi, berada di tanah pemkot tapi tata ruangnya hijau (ruang terbuka). Tamansari memang dicek untuk permukiman, maka kita akan bangun apartemen rakyat di situ," tuturnya.

Apartemen rakyat di Tamansari rencananya akan dibangun dengan populasi tiga kali lipat dari total jumlah penduduk terdampak penggusuran di Tamansari. Hal itu dilakukan agar bisa menampung warga di daerah lain yang terkena penggusuran serupa.

"Artinya warga harusnya senang mereka akan kembali di lingkungan permanen yang lebih modern dan bersih. Tapi selama konstruksi setahun setengah mereka harus pindah dulu nanti balik lagi," ujar Emil.

"Ini contoh membangun tanpa harus memindahkan secara permanen. Karena orang selalu berasumsi kalau ada penggusuran berarti pindah permanen. Karena tata ruangnya memungkinkan bisa ditempati lagi," jelasnya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X