Aktivis Satwa Liar Desak Peredaran Senapan Angin Diperketat

Kompas.com - 14/09/2016, 11:27 WIB
|
EditorErlangga Djumena

MALANG, KOMPAS.com - Sejumlah pegiat perlindungan satwa liar dari Lembaga Centre for Orangutan Protection (COP) menggelar aksi demonstrasi di depan Balai Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (14/9/2016).

Mereka menuntut pengawasan terhadap peredaran senapan angin diperketat karena berbahaya bagi satwa liar, khususnya satwa liar yang dilindungi.

Koordinator Kampanye COP Malang Nathanya Rizkiani mengatakan, selama ini peredaran senapan angin menjadi teror bagi satwa liar. Sebab, banyak dari satwa liar yang berhasil diselamatkan dari perburuan terkena tembakan senapan angin. Padahal, senapan angin tidak diperuntukkan untuk aksi perburuan satwa liar.

"Kami ingin menyampaikan aspirasi kami kepada polisi untuk memperketat pengawasan dan peredaran senapan angin. Upaya konservasi satwa liar akan terhambat manakala perburuan dan pembunuhan dengan senapan angin masih berlangsung," katanya.

Berdasarkan data yang dihimpun, sepanjang 2004 hingga Agustus 2016, sudah ada 23 kasus orangutan yang tertembak oleh senapan angin. Dari 23 kasus itu, orangutan mengalami kritis, cacat permanen hingga mengalami kematian. Kebanyakan, kasus itu terjadi di Kalimantan dan Sumatera.

"Itu hanya untuk orangutan. Belum lagi satwa liar lainnya," ungkapnya.

Dijelaskan Nathanya, sesuai dengan Peraturan Kepolisian Republik Indonesia nomor 8 tahun 2012 tentang pengawasan dan pengendalian senjata api untuk kepentingan olahraga padal 4 ayat 3, senapan angin hanya digunakan untuk kepentingan olahraga menembak sasaran atau target. Tidak diperuntukkan bagi perburuan hewan liar.

"Kemudian pada pasal 5 ayat 3, penggunaan senapan angin di lokasi pertandingan dan pelatihan," jelasnya.

Oleh karenanya, Nathanya meminta kepada pihak kepolisian untuk memberketat pengawasan terhadap peredaran dan penggunaan senapan angin. Selain itu, ia meminta kepada polisi untuk melakukan razia dan penegakan hukum karena banyak ditemui penyalahgunaan senapan angin. "Sejauh ini, laporan yang ada kebanyakan terkena senapan angin," ucapnya.

Terkait dengan pengusutan kasus itu, hingga saat ini masih belum bisa diproses secara hukum kecuali untuk kasus satwa liar yang dilindungi.

"Kalau kasus pada satwa yang dilindungi sudah dilakukan pengusutan. Tapi kalau satwa liar yang tidak dilindungi, tidak bisa ditindak lanjuti. Karena belum ada aturannya," ungkapnya.

Aksi tersebut dilakukan setentak oleh 11 lembaga perlindungan satwa liar di sepuluh kota di Indonesia. Diantaranya Malang, Aceh, Palembang, Pekanbaru dan Bandung. Selain itu juga di Yogyakarta, Solo, Surabaya, Samarinda dan Palangka Raya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jumlah Pasien Positif Corona di Sumsel Bertambah Jadi 16 Orang

Jumlah Pasien Positif Corona di Sumsel Bertambah Jadi 16 Orang

Regional
Terdengar Suara Benda Jatuh di Atap Rumah, Ternyata Bayi Dibuang Ibunya

Terdengar Suara Benda Jatuh di Atap Rumah, Ternyata Bayi Dibuang Ibunya

Regional
Polisi Aceh Perketat Wilayah Laut, Antisipasi TKI dari Malaysia

Polisi Aceh Perketat Wilayah Laut, Antisipasi TKI dari Malaysia

Regional
Masuk ke Kota Padang Wajib Gunakan Masker jika Tak Ingin Kena Denda

Masuk ke Kota Padang Wajib Gunakan Masker jika Tak Ingin Kena Denda

Regional
Kegigihan Napi Perempuan, Produksi Masker di Tengah Wabah Corona

Kegigihan Napi Perempuan, Produksi Masker di Tengah Wabah Corona

Regional
Ditemukan 21 Klaster Penyebaran Virus Corona di Jatim, Pelatihan Petugas Haji Terbesar

Ditemukan 21 Klaster Penyebaran Virus Corona di Jatim, Pelatihan Petugas Haji Terbesar

Regional
Dalam 3 Hari, Tiga PDP di Banjarmasin Meninggal, 2 Orang Positif Covid 19

Dalam 3 Hari, Tiga PDP di Banjarmasin Meninggal, 2 Orang Positif Covid 19

Regional
Sumbangan Berdatangan, Ribuan APD Siap Dibagikan kepada Tim Medis

Sumbangan Berdatangan, Ribuan APD Siap Dibagikan kepada Tim Medis

Regional
Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Halmahera Barat, Maluku Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Halmahera Barat, Maluku Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Regional
Pasien Positif Corona di Riau Bertambah Jadi 11 Orang

Pasien Positif Corona di Riau Bertambah Jadi 11 Orang

Regional
Kisah Haru Tiga Bocah di Makassar Bongkar Celengan untuk Tenaga Medis Beli Masker

Kisah Haru Tiga Bocah di Makassar Bongkar Celengan untuk Tenaga Medis Beli Masker

Regional
Bocah 5 Tahun Tiba-tiba Menghilang Saat Diajak Ibunya Isi Pulsa, Besoknya Ditemukan Tewas di Gorong-gorong

Bocah 5 Tahun Tiba-tiba Menghilang Saat Diajak Ibunya Isi Pulsa, Besoknya Ditemukan Tewas di Gorong-gorong

Regional
Gempa 6,1 M Guncang Maluku Utara, Warga di Sitaro, Sulut, Sempat Keluar Rumah

Gempa 6,1 M Guncang Maluku Utara, Warga di Sitaro, Sulut, Sempat Keluar Rumah

Regional
Cegah Corona, Pemkab Nias Selatan Tutup Akses Masuk Wilayah

Cegah Corona, Pemkab Nias Selatan Tutup Akses Masuk Wilayah

Regional
Tak Bayar Rp 700.000, Penumpang Ojol Ini Hanya Tinggalkan Sandal Jepit, Begini Ceritanya

Tak Bayar Rp 700.000, Penumpang Ojol Ini Hanya Tinggalkan Sandal Jepit, Begini Ceritanya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X