Tak Hanya Tukang Bubur, Tukang Pencari Rumput Ini Juga Mampu Pergi Haji

Kompas.com - 17/08/2016, 07:12 WIB
Mutaji dan istinya Munawaroh bercerita tentang kisahnya mencari uang untuk mendaftar haji. Dia akan berangkat pada 2 September 2016 mendatang melalui embarkasi Donohudan, Boyolali. Kontributor Semarang, Nazar NurdinMutaji dan istinya Munawaroh bercerita tentang kisahnya mencari uang untuk mendaftar haji. Dia akan berangkat pada 2 September 2016 mendatang melalui embarkasi Donohudan, Boyolali.
|
EditorSabrina Asril

SEMARANG, KOMPAS.com – Kehidupan rasa-rasanya memang terus berputar. Jika dahulu, untuk pergi menunaikan ibadah haji, hanya mampu dilakukan orang berduit. Kini, pergi berhaji tak selalu demikian. Selalu saja ada hal unik yang terjadi.

Begitu pula dengan pasangan Sutaji (58) dan Munawaroh (57), yang nyata telah mempraktekkan hal itu. Pasangan ini bukan dari keluarga berada. Pekerjaannya serabutan. Penghasilannya sangat minim, dan kehidupannya juga pas-pasan. Namun dengan tekad kuat dan niat yang tulus, salah satu impian besarnya akhrnya bisa terwujud.

Ya, meski harus menunggu hingga hampir 11 tahun, impian pergi naik haji bisa terlaksana di tahun 2016 ini. Mutaji-Munawaroh akan diberangkatkan pada 2 September 2016 dari Kloter 68 Kota Semarang.

Bersama dengan para jamaah lain, ia akan diberangkatkan ke Arab Saudi melalui Embarkasi Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah.


Pencari rumput

Kisah warga kampung Kliwonan Rt 03/07 Kelurahan Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang itu meninggalkan kesan mendalam. Sebelum berniat pergi berhaji, keduanya minta restu pada ketiga anaknya.

“Nak, bapak dan ibu mau niat haji ya. Setuju atau tidak?” kata Mutaji, menceritakan asal mula keinginanya pada tahun 2005 lalu.

Ketiga anaknya pun merestui orangtuanya nantinya menabung pergi berhaji. Sejak itu, pasangan ini sepakat mencari nafkah sebanyak-banyaknya untuk mendaftar biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH).

Setelah bekerja serabutan sebagai kuli panggul di pasar, Mutaji mulai berbenah. Dia menyadari usia tuanya tidak mampu mengangkat beban berlebih. Sejak saat itulah, dia menawarkan jasa untuk mengelola ternak sapi. Ia memilih ternak penggemukan, ketimbang peternakan.

Kepada warga, dia menyampaikan siapa yang ingin mengembangkan usahanya. Setelah lama ditawarkan akhirnya ada warga yang membantu untuk menggemukkan sapi. Setelah ada yang bersedia, Mutaji akhrinya mencari rumput sebagai pakan ternak saban harinya.

“Setiap hari saya selalu mandikan (sapi) pakai air panas. Saya merawatnya rutin, bahkan tiap malam selalu kepikiran, besoknya (sapi) mau dikasih makan apa,” kisah Sutaji, saat ditemui Kompas.com, di kediamannya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X