Begini Pendidikan Berkarakter yang Diterapkan Purwakarta - Kompas.com

Begini Pendidikan Berkarakter yang Diterapkan Purwakarta

Kompas.com - 11/08/2016, 05:30 WIB
KOMPAS.com/RENI SUSANTI Suasana pembelajaran siswa di Kabupaten Purwakarta. Ini merupakan proses terciptanya pendidikan berkarakter.

BANDUNG, KOMPAS.com - Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menilai bahwa pendidikan berkarakter merupakan cara bagaimana membentuk karakteristik manusia dan menggali potensi anak didik.

"Ada 4 karakter, yaitu tanah, air, udara, dan matahari. Pendidikan berkarakter ini merupakan pembentukan manusia yang bersenyawa dengan 4 karakter tadi," ucap Dedi saat dihubungi, Rabu (10/8/2016).

Dari perpaduan tersebut, lahirlah budaya, produk komunal yang berasal dari alam dan individual. Produk komunal yang dimaksud, misalnya, di pesisir laut. Di tempat ini, pendidikan yang diberikan seputar laut.

"Berikan pendidikan seluas-luasnya tentang laut. Ajarkan pemahaman manusia tentang laut sehingga manusia di pesisir menguasai laut, teknologi penangkapan ikan, perkapalan, dan lainnya," tuturnya.

Begitupun yang ada di pegunungan. Anak-anak perlu mendapat ilmu seluas-luasnya tentang perkebunan dan peternakan.

Di Purwakarta, setidaknya ada 17 sekolah negeri yang mengadopsi kurikulum tambahan berupa pendidikan karakter. Salah satu contohnya adalah SD/SMP Satu Atap Terpadu 12 Ciseureuh. Di sekolah tersebut, anak-anak diajarkan cara berkebun hingga mengolah sampah.

"Anak-anak tidak hanya belajar di kelas. Mereka belajar di sawah. Mereka menanam padi, menggembala kerbau, menanam berbagai macam sayuran," kata Dedi.

Untuk menciptakan hal itu, Pemkab Purwakarta menyediakan lahan luas untuk praktik.

Dedi pun memberikan sepasang domba pada siswa untuk digembala. Nantinya, domba ini akan menjadi banyak dan semuanya untuk siswa tersebut.

"Secara tidak lamgsung mereka belajar tentang ilmu beternak dan enterpreneur," ucapnya.

Dedi mengingatkan, setiap daerah memiliki kultur berbeda sehingga cara mendidik anak-anaknya pun tidak bisa digeneralisasi. Pengembangan karakter manusia pun harus disesuaikan kemampuan dan bakatnya.

Orang yang juga matematika atau fisika, genjot siswa di sana hingga ke ilmu terapannya. Begitupun anak yang berbakat di sastra tidak perlu dipaksakan menguasai matematika.

"Namun yang itu belum bisa dilakukan, karena ada kurikulum yang harus dijadikan acuan," kata dia.


EditorLaksono Hari Wiwoho
Komentar

Close Ads X