"Kalau Siswa Hanya Keleleran di Sekolah, Bukan 'Full Day' Namanya"

Kompas.com - 10/08/2016, 06:31 WIB
Siswa SD Negeri Satu Atap Terpadu 12 Ciseureuh di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, belajar dalam kelas semiterbuka. Di sekolah ini, anak-anak belajar tentang kearifan lokal, antara lain dengan berkebun dan belajar seni karawitan. KOMPAS.com/LAKSONO HARI WIWOHOSiswa SD Negeri Satu Atap Terpadu 12 Ciseureuh di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, belajar dalam kelas semiterbuka. Di sekolah ini, anak-anak belajar tentang kearifan lokal, antara lain dengan berkebun dan belajar seni karawitan.
|
EditorLaksono Hari Wiwoho

SLEMAN, KOMPAS.com - Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prof Wuryadi, menilai perlu ada kajian mendalam terhadap sarana dan prasarana sekolah untuk mendukung program kokurikuler. Program ini memungkinkan siswa berada di sekolah selama lebih dari 7 jam sehari.

"Saya kira kalau mau menerapkan program full day, ya harus dilihat dari kondisi sekolah-sekolahnya," ujar Wuryadi saat dihubungi, Selasa (9/8/2016).

Menurut dia, program seperti itu hanya bisa diterapkan pada sekolah-sekolah yang telah memenuhi syarat. Sekolah pelaksananya harus memiliki sarana komplet, baik di kelas, laboraturium, maupun perpustakaan sebagai penunjang kegiatan siswa di sekolah.

Sebelum itu semua diterapkan, alangkah lebih baik jika penyelenggara pendidikan memperhitungkan berapa sekolah yang telah memenuhi syarat untuk program tersebut.

Jangan sampai masih ada sekolah yang belum memenuhi syarat lantas dipaksakan untuk menjalankan program Full Day.

"Jadi harus komplet sarananya. Kalau siswa hanya keleleran (telantar) di sekolah, ya bukan full day namanya. Kasihan anak disengsarakan di sekolah, bukan disenangkan," ujarnya.

Menurut Wuryadi, ada dua hal yang perlu dilihat dari program tersebut. Dengan satu hari penuh di sekolah, maka hal itu mengurangi waktu siswa bertemu dan berinteraksi dengan keluarganya. Di sisi lain, program ini dapat mengurangi beban tugas sekolah anak di rumah.

"Jadi setelah selesai di sekolah, ya selesai. Urusan di rumah, ya di rumah," kata dia.

Ia mengatakan, belajar tidak hanya di sekolah, tetapi bisa di mana saja. Ia menilai program itu akan mengurangi proses integritas anak dan ini patut mendapat catatan bagi menteri.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Seorang Istri di Bengkulu Tengah Merekayasa Kasus Pembunuhan Suaminya

Seorang Istri di Bengkulu Tengah Merekayasa Kasus Pembunuhan Suaminya

Regional
Kronologi Avanza Terbakar di Tol Bawen, Polisi Kejar Truk yang Diduga Kabur

Kronologi Avanza Terbakar di Tol Bawen, Polisi Kejar Truk yang Diduga Kabur

Regional
Kisah Agus, Penyandang Tunanetra Dirikan Rumah Belajar Gratis Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Kisah Agus, Penyandang Tunanetra Dirikan Rumah Belajar Gratis Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Regional
Kasus Pembubaran Paksa Acara Midodareni di Solo, Kapolda Jateng: Kita Kejar Pelaku Lainnya

Kasus Pembubaran Paksa Acara Midodareni di Solo, Kapolda Jateng: Kita Kejar Pelaku Lainnya

Regional
2 Staf Sekwan DPRD Kabupaten Bogor Dinyatakan Positif Covid-19

2 Staf Sekwan DPRD Kabupaten Bogor Dinyatakan Positif Covid-19

Regional
Polisi Mulai Selidiki Kasus Kebakaran Lahan di Ogan Ilir

Polisi Mulai Selidiki Kasus Kebakaran Lahan di Ogan Ilir

Regional
'Pak Ganjar, Saya Ingin Kaki Saya Sembuh, Saya Ingin Sekolah...'

"Pak Ganjar, Saya Ingin Kaki Saya Sembuh, Saya Ingin Sekolah..."

Regional
Polemik Potret Nyonya Meneer di Kemasan Minyak Telon, Ini Kata Saksi Ahli dalam Sidang

Polemik Potret Nyonya Meneer di Kemasan Minyak Telon, Ini Kata Saksi Ahli dalam Sidang

Regional
Fakta Gedung Telkom di Pekanbaru Terbakar, Toko Kartu Perdana Laris Manis hingga Keluhan Warga

Fakta Gedung Telkom di Pekanbaru Terbakar, Toko Kartu Perdana Laris Manis hingga Keluhan Warga

Regional
[POPULER NUSANTARA] Anak Gugat Ibu agar Harta Warisan Dibagikan | Kesaksian Warga Melihat Awan Tsunami

[POPULER NUSANTARA] Anak Gugat Ibu agar Harta Warisan Dibagikan | Kesaksian Warga Melihat Awan Tsunami

Regional
Anggota DPRD Ketapang Positif Corona Usai Kembali dari Kunker ke Jakarta

Anggota DPRD Ketapang Positif Corona Usai Kembali dari Kunker ke Jakarta

Regional
Kisah Efi Lahirkan Bayi Kembar 3, Sang Suami Menghilang dan Asuh 6 Anak Seorang Diri

Kisah Efi Lahirkan Bayi Kembar 3, Sang Suami Menghilang dan Asuh 6 Anak Seorang Diri

Regional
Dilindungi Ibu, Bayi 40 Hari Itu Tewas di Tangan Ayah

Dilindungi Ibu, Bayi 40 Hari Itu Tewas di Tangan Ayah

Regional
Kisah Pilu Balita Akhmad, Bermain Bola dan Terseret Ombak, Ditemukan Nelayan 5 Hari Kemudian

Kisah Pilu Balita Akhmad, Bermain Bola dan Terseret Ombak, Ditemukan Nelayan 5 Hari Kemudian

Regional
Usut Kasus Penganiayaan dan Pembubaran Acara Midodareni di Solo, Polisi: Tak Ada Ruang Bagi Kelompok Intoleran

Usut Kasus Penganiayaan dan Pembubaran Acara Midodareni di Solo, Polisi: Tak Ada Ruang Bagi Kelompok Intoleran

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X