Bupati Dedi Tolak Rencana "Full Day School"

Kompas.com - 09/08/2016, 10:20 WIB
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Fabian Januarius KuwadoBupati Purwakarta Dedi Mulyadi
|
EditorCaroline Damanik

BANDUNG, KOMPAS.com - Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menolak wacana penerapan full day school yang disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

"Jangan hanya lihat Jakarta. Lihat Papua, Kalimantan, Sumatera, bahkan Jawa Barat. Tidak semua sekolah cocok dengan penerapan full day school," ujar Dedi saat dihubungi, Selasa (9/8/2016).

Dedi menilai, full day school hanya untuk anak perkotaan yang kedua orangtuanya sibuk dengan berbagai pekerjaan. Namun, full day school juga akan efektif jika fasilitas di sekolah memadai.

"Fasilitasnya harus memadai. Laboratorium, ruang seni, ruang olahraga, harus representatif. Begitupun dengan kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, PMR, Paskibra, harus bagus," tuturnya.

Dengan fasilitas mumpuni, lanjutnya, selama seharian anak bisa tidak memegang buku. Mereka bisa menyalurkan bakat dan ekspresinya lewat kegiatan yang mereka sukai. Namun bagi sekolah yang fasilitasnya tidak memadai, anak hanya akan depresi.

"Jika sekolah pengap, sempit, disuguhkan banyak mata pelajaran, anak akan depresi," ucapnya.

(Baca juga: "Full Day School" Disarankan agar Diterapkan Bertahap)

Karena itu, Kabupaten Purwakarta tetap akan menggunakan konsep yang sudah ada. Di pedesaan yang warganya rata-rata berprofesi sebagai petani, sekolah di Purwakarta lebih singkat. Masuk pukul 6.00 WIB dan pulang pukul 11.00 WIB.

"Sepulang sekolah, mereka membantu orang tuanya menjadi petani. Mereka berada di sawah, ladang, sambil beternak domba, sapi, dan lainnya," ucapnya.

Seharusnya, kegiatan-kegiatan anak di sawah, ladang, atau ketika membantu orangtuanya menjadi nelayan juga menjadi poin penting pendidikan.

"Sekolah harusnya bisa menjawab tantangan kebutuhan publik. Indonesia masih impor daging, ikan, sayur, buah-buahan. Harusnya sekolah berbasis lingkungan yang bisa menjawab itu semua," tuturnya.

Caranya, guru Biologi tidak hanya mengajarkan cara menanam tauge di kelas. Tapi turun langsung ke lokasi produksi dan menanam tauge.

Penyeragaman konsep pendidikan menjadi full day school tidak akan efektif. Karena suasana, sarana prasarana, dan kebutuhannya berbeda apalagi bagi anak-anak yang rumahnya jauh dari sekolah.

Jika full day school diberlakukan, mereka akan pulang malam. Karena sampai sekarang, bukan hanya Papua atau Kalimantan yang akses sekolah ke rumah jauh. Di Jabar pun, masih ada anak yang harus menempuh perjalanan tiga jam ke sekolah.

"Kalau full day school digeneralisasi saya tidak setuju dan menolaknya. Kalau itu yang diputuskan, saya akan surati kementerian menyampaikan ketidaksetujuan ini," tutupnya.

(Baca juga: Ini Alasan Mendikbud Usulkan "Full Day School")



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X