Risma: Saya Tidak Pernah Pamit

Kompas.com - 05/08/2016, 06:51 WIB
Risma ikut melukis di dinding bekas wisma lokalisasi Dolly KOMPAS.com/Achmad FaizalRisma ikut melukis di dinding bekas wisma lokalisasi Dolly
EditorCaroline Damanik

SURABAYA, KOMPAS.com — Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meminta maaf kepada semua warga Surabaya.

Permintaan maaf itu disampaikan saat dia menghadiri peluncuran Kampung KB di RW XII Sidotopo Jaya, Semampir, Kamis (4/8/2016) pagi.

"Ini adalah hari-hari terakhir, hari-hari penghabisan. Oleh karena itu, saya meminta maaf atas nama pribadi maupun semua pegawai dari kelurahan, kecamatan, sampai SKDP. Mohon maaf bila ada kekhilafan dan kesalahan saya selama ini," katanya di hadapan para tamu yang hadir.

Permintaan ini menimbulkan pertanyaan besar terkait kemungkinan dirinya jadi ikut serta dalam Pilkada DKI Jakarta. Pasalnya, namanya kerap disebut-sebut sebagai calon yang paling bisa mengimbangi sosok calon petahana, Basuki Tjahaja Purnama.


(Baca juga: Sebut Ini Hari Terakhir, Risma Minta Maaf kepada Warga Surabaya)

Bagaimana tanggapan Risma?

Seperti disadur dari harian Kompas, Jumat (5/8/2016), Risma membantah. Risma menegaskan bahwa dia akan terus menyelesaikan tugasnya sebagai Wali Kota Surabaya hingga masa jabatannya berakhir.

"Saya jangan ditarik-tarik ke pemilihan gubernur Jakarta karena justru membuat suasana semakin gaduh. Saya tidak pernah pamit," kata Risma saat ditemui Kompas di ruang kerjanya, Kamis siang.

Risma lalu menjelaskan maksudnya meminta maaf di depan warga. Pernyataan itu, lanjut Risma, disampaikan dalam konteks memasuki hari-hari terakhir pada bulan Syawal.

"Meminta maaf kepada siapa saja, termasuk hadirin di satu acara, pasti saya lakukan. Sebagai pemimpin, pasti ada kekurangan sehingga wajar minta maaf. Terlebih lagi, hari ini adalah hari terakhir bulan Syawal. Minta maaf, kok, dibilang pamit. Bisa marah warga Surabaya," ujarnya.

Menurut Risma, dalam setiap acara yang dihadirinya, warga setempat yang hadir telah menyampaikan permohonan kepadanya agar tidak meninggalkan Surabaya. Banyak proyek besar di kota berpenduduk 2,9 juta jiwa itu yang belum rampung.

"Warga khawatir, jika saya meninggalkan Surabaya, perhatian pemerintah kota terhadap siswa, anak-anak, lanjut usia, dan keluarga kurang mampu juga berhenti. Jadi, tidak mungkin saya pamit. Bisa marah semua orang," ungkap Risma.

(Baca juga: Wawali Wisnu: Saya dan Bu Risma Sudah Komitmen Pimpin Surabaya hingga 2020)

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X