"'Illegal Logging' Semakin Marak, Pelaku Nyaris Tak Tersentuh Hukum"

Kompas.com - 26/07/2016, 07:05 WIB
 Hutan Lindung Pulau Nunukan yang sudah rusak parah. Diperkirakan lebih dari 1.300 kawasan hutan lindung rusak dari luasan 2.800 hektar. Akibat kerusakan tersebut warga mulai merasakan dampak kesulitan air bersih. Kontributor Nunukan, Sukoco Hutan Lindung Pulau Nunukan yang sudah rusak parah. Diperkirakan lebih dari 1.300 kawasan hutan lindung rusak dari luasan 2.800 hektar. Akibat kerusakan tersebut warga mulai merasakan dampak kesulitan air bersih.
|
EditorFarid Assifa

NUNUKAN, KOMPAS.com – Penggiat lingkungan hidup Gappeta Borneo menemukan puluhan pelanggaran di Hutan Lindung Pulau Nunukan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Pemetaan pelanggaran yang dilaksanakan selama 3 bulan terakhir.

Ketua Gappeta Borneo Simon mengatakan, pelanggaran seperti illegal logging, alih fungsi Hutan Lindung Pulau Nunukan (HLPN) menjadi perumahan dan perkebunan sawit, bahkan pengavelingan lahan di dalam hutan lindung dilakukan oleh masyarakat.

"Yang paling parah itu di daerah persemaian. Semua aktifitas di dalam situ. Illegal logging-nya ada, pemukiman masyarakatnya ada di situ, terus perkebunan sawitnya ada di situ, sampai kaveling yang temen-temen temukan di lapangan itu kan ada kayak tulisan si pemilik seperti itu,” ujar Simon, Senin (25/7/20106).

Pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat maupun pejabat di hutan lindung membuat fungsi hutan sebagai pengatur tata air dan mencegah banjir sudah tidak bisa berjalan.

Gappeta Borneo mencatat tahun 2015 banjir menyeret sebuah rumah di daerah Mamolo, sementara awal tahun 2016 kekeringan membuat PDAM Nunukan kesulitan mendapatkan bahan baku untuk disalurkan kepada lebih dari 3.000 pelanggannya.

Ilegal logging semakin marak terjadi, sementara para pelaku nyaris tak tersentuh proses hukum,” imbuh Simon.

Hutan Lindung Pulau Nunukan seluas 2.857 hektar sesuai dengan SK Menteri Kehutanan no.718/Menhut-II/2014 tingkat kerusakannya sudah tergolong parah. Namun penegakan hukum di kawasan hutan lindung sangat memprihatinkan.

Hal ini, menurut Simon, karena aparat penegak hukum selalu berpatokan kepada keputusan penetapan, sementara status HLPN hingga saat ini masih keputusan penunjukan.

“Penegakan hukum terhadap pelaku illegal logging seharusnya tetap dilakukan, misalnya aparat fokus pada sahnya asal dan pengangkutan kayu. Aparat juga bisa menggunakan UU No 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan yang tidak menjadi objek putusan MA,” kata Simon.

Terhadap temuan pelanggaran di dalam HLPN tersebut, Gappeta Borneo mengaku akan menindaklanjuti hingga ke level pemerintah pusat dan pemerintah Provinsi Kalimantan Utara. Kerusakan HLPN diperkirakan lebih dari 1.300 hektar dari luasan lebih dari 2.800 hektar.

"Memetik daun di hutan lindung saja melanggar hukum, yang terjadi justru perusakan secara terstruktur,” pungkas Simon.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

ASN Positif Covid-19, Ratusan Pegawai Pemkab Nunukan Jalani 'Rapid Test'

ASN Positif Covid-19, Ratusan Pegawai Pemkab Nunukan Jalani "Rapid Test"

Regional
Cerita Anggota TNI Sembuh dari Covid-19: Cemas dan Was-was Begitu Tahu Terpapar...

Cerita Anggota TNI Sembuh dari Covid-19: Cemas dan Was-was Begitu Tahu Terpapar...

Regional
Waspada, 5 Titik Jalur Kereta Api di Daop 5 Rawan Bencana

Waspada, 5 Titik Jalur Kereta Api di Daop 5 Rawan Bencana

Regional
Info Terbaru, BNN Menduga Ada Ladang Ganja Tersembunyi di Tasikmalaya

Info Terbaru, BNN Menduga Ada Ladang Ganja Tersembunyi di Tasikmalaya

Regional
Olah Pangan Lokal, Usaha Kelompok Masyarakat Ini Beromzet Jutaan Rupiah Selama Pandemi

Olah Pangan Lokal, Usaha Kelompok Masyarakat Ini Beromzet Jutaan Rupiah Selama Pandemi

Regional
Mayat Perempuan Terbakar dalam Mobil di Sukoharjo Korban Pembunuhan

Mayat Perempuan Terbakar dalam Mobil di Sukoharjo Korban Pembunuhan

Regional
Tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja, Buruh Demo di Gedung DPRD Kalsel

Tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja, Buruh Demo di Gedung DPRD Kalsel

Regional
Pemilik Tanaman Ganja di Tasik Lakukan Riset dan Gunakan Cara Ilmiah

Pemilik Tanaman Ganja di Tasik Lakukan Riset dan Gunakan Cara Ilmiah

Regional
Kisah Vera Key, Sukses Usaha Reparasi Boneka Bekas Diminati hingga ke Mancanegara

Kisah Vera Key, Sukses Usaha Reparasi Boneka Bekas Diminati hingga ke Mancanegara

Regional
Kisah TKW Indramayu Meninggal di Malaysia karena TBC, Kabur dari Majikan dan Dirawat Pria Myanmar

Kisah TKW Indramayu Meninggal di Malaysia karena TBC, Kabur dari Majikan dan Dirawat Pria Myanmar

Regional
Heboh Pendaki Foto Bugil di Gunung Gede, Ini Kata Pengelola

Heboh Pendaki Foto Bugil di Gunung Gede, Ini Kata Pengelola

Regional
Ingat, Wisatawan yang Ingin ke Bali Tetap Wajib Menunjukkan Hasil Rapid Test

Ingat, Wisatawan yang Ingin ke Bali Tetap Wajib Menunjukkan Hasil Rapid Test

Regional
Sultan HB X Ogah Komentari Satu Tahun Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf

Sultan HB X Ogah Komentari Satu Tahun Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf

Regional
Mengaku Dipukul Kekasihnya di Apartemen, Perempuan Ini Pecah Kaca Jendela untuk Cari Bantuan

Mengaku Dipukul Kekasihnya di Apartemen, Perempuan Ini Pecah Kaca Jendela untuk Cari Bantuan

Regional
Wartawan Dibunuh karena Masalah Sepele, Keluarga Minta Pelaku Dihukum Seberat-beratnya

Wartawan Dibunuh karena Masalah Sepele, Keluarga Minta Pelaku Dihukum Seberat-beratnya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X