India Tertarik Tangani Kasus Bocah Arya yang Berbobot 189,5 Kg

Kompas.com - 12/07/2016, 13:38 WIB
Arya Permana (10) penderita severe obesity ditangani 13 dokter spesialis RSHS. Berat badan normal Arya kurang dari 50 kg, namun saat ini beratnya mencapai 189,5 kg. KOMPAS.com/Reni Susanti Arya Permana (10) penderita severe obesity ditangani 13 dokter spesialis RSHS. Berat badan normal Arya kurang dari 50 kg, namun saat ini beratnya mencapai 189,5 kg.
|
EditorCaroline Damanik

BANDUNG, KOMPAS.com – Kasus Arya Permana (10) yang menderita severe obesity atau berat badan sangat berlebih menarik perhatian dunia. Bahkan India sudah menawari orangtuanya untuk menangani kasus Arya.

“Secara viral kasus ini mengalir di media sosial dan media massa. Luar negeri sudah melirik, menawari orangtuanya membawa ke India,” ujar Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat, Netty Prasetiyani Heryawan di Bandung, Selasa (12/7/2016).

Netty menjelaskan, informasi tentang ketertarikan India ini didapatkannya dari tim dokter yang menangani kasus Arya. Netty bertemu dengan Arya dan tim dokter kemarin malam untuk membicarakan guru yang akan mengajar Arya di rumah sakit.

“Menurut tim dokternya, baru India yang menawarkan, karena mereka memiliki sistem dan metodologi, mungkin seperti sedot lemak dan lainnya,” ungkapnya.

Netty menilai, India bisa jadi uji coba dalam penanganan obesitas. Hal itu wajar dilakukan berbagai negara untuk mengembangkan kemampuan metodologi maupun keahlian dokternya.

Namun selama Arya masih bisa ditangani di Indonesia, istri dari Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan ini meminta pasien tersebut ditangani di Indonesia. Apalagi selama ini Arya belum ditangani secara maksimal.

“(Penaganan) Arya putus sambung. Tahun lalu datang dalam kondisi berat badannya 100 kg, lalu sebelum Lebaran datang ke rumah sakit dan berhasil turun dari 189 kg menjadi 186 kg," tuturnya.

Namun Arya mengambil cuti perawatan dan baru kembali pasca-Lebaran. Seusai Lebaran, berat badannya kembali naik menjadi 189,5 Kg. Ini memperlihatkan penanganan Arya di Indonesia belum selesai. Sebelum menyerahkan pada pihak lain, tentunya tim dokter harus mengerahkan kemampuannya.

"Saya katakan ke dokter semalam, kalau kita punya sistem penatalaksanaan obesitas dengan baik, harus kita pertahankan. Daripada orang lain dapat nama, orang lain merendahkan martabat kita," ucapnya.

(Baca juga: Bobot Mencapai 140 Kg, Bocah 10 Tahun Tak Bisa ke Sekolah Lagi)

Netty menambahkan, kasus ini menjadi pertaruhan integritas kedokteran. Di sini integritas kedokteran Indonesia diuji.

Ada beberapa langkah yang akan dilakukan tim dokter yang terdiri dari 13 dokter spesialis. Beberapa program untuk menurunkan berat badan Arya akan dilakukan. Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) pun akan mencari penyebabnya selain pola makan dan gerak.

"Bisa screening untuk menemukan penyebabnya apa. Apakah kelainan hormonal atau genetis," tuturnya.

Jenis pemeriksaan ini, lanjutnya, tidak ditanggung oleh BPJS dan biayanya mahal. Karena berkejaran dengan waktu, tim dokter akan menjalankan skala prioritas dalam penanganan Arya. 

(Baca juga: Bocah Berbobot 189,5 Kg Ini Doyan Minuman Kemasan dan Mi Instan)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tak Terpengaruh Aksi Teror, Bali Tetap Aman Dikunjungi

Tak Terpengaruh Aksi Teror, Bali Tetap Aman Dikunjungi

Regional
Kisah Pengungsi Gempa Maluku, Sengsara di Tenda, Dipungut Rp 100.000 untuk Nikmati Penerangan

Kisah Pengungsi Gempa Maluku, Sengsara di Tenda, Dipungut Rp 100.000 untuk Nikmati Penerangan

Regional
Rektor UMI Bentuk Tim Pencari Fakta Usut Pelaku Penyerangan Mahasiswa

Rektor UMI Bentuk Tim Pencari Fakta Usut Pelaku Penyerangan Mahasiswa

Regional
Hujan Es Hingga Pohon Tumbang Terjadi di Kota Serang

Hujan Es Hingga Pohon Tumbang Terjadi di Kota Serang

Regional
Pergi Mancing sejak Tiga Hari Lalu, Pria di Bali Ditemukan Tak Bernyawa

Pergi Mancing sejak Tiga Hari Lalu, Pria di Bali Ditemukan Tak Bernyawa

Regional
Pelaku Bom Bunuh Diri di Mapolrestabes Medan, Warga: Orangnya Baik

Pelaku Bom Bunuh Diri di Mapolrestabes Medan, Warga: Orangnya Baik

Regional
Pasca Bom Bunuh Diri di Medan, Markas Polisi di Jabar Tingkatkan Keamanan

Pasca Bom Bunuh Diri di Medan, Markas Polisi di Jabar Tingkatkan Keamanan

Regional
Tembak Kontraktor, Anak Bupati Majalengka Masih Jadi Saksi

Tembak Kontraktor, Anak Bupati Majalengka Masih Jadi Saksi

Regional
Pelaku Bom Bunuh Diri di Medan Dikenal Sebagai Pengemudi Ojek Online dan Penjual Bakso Bakar

Pelaku Bom Bunuh Diri di Medan Dikenal Sebagai Pengemudi Ojek Online dan Penjual Bakso Bakar

Regional
Mantan Menaker Hanif Dhakiri Ramaikan Bursa Calon Wali Kota Surabaya

Mantan Menaker Hanif Dhakiri Ramaikan Bursa Calon Wali Kota Surabaya

Regional
Denny Indrayana Optimistis Maju Sebagai Calon Gubernur Kalsel Lewat Jalur Partai

Denny Indrayana Optimistis Maju Sebagai Calon Gubernur Kalsel Lewat Jalur Partai

Regional
Menteri hingga Gubernur Kirim Karangan Bunga untuk Keluarga Djaduk Ferianto

Menteri hingga Gubernur Kirim Karangan Bunga untuk Keluarga Djaduk Ferianto

Regional
Polda Jatim Akan Tetapkan Tersangka Baru Kasus Sekolah Ambruk di Pasuruan

Polda Jatim Akan Tetapkan Tersangka Baru Kasus Sekolah Ambruk di Pasuruan

Regional
Buntut Kematian Mahasiswa di Kampus, Rektor UMI Minta Polisi Berjaga 1 Bulan

Buntut Kematian Mahasiswa di Kampus, Rektor UMI Minta Polisi Berjaga 1 Bulan

Regional
Pelamar CPNS Tak Penuhi Syarat Seleksi Administrasi Bisa Manfaatkan Waktu Sanggah

Pelamar CPNS Tak Penuhi Syarat Seleksi Administrasi Bisa Manfaatkan Waktu Sanggah

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X