Cerita Suami Istri Polisi Batalkan Umrah lalu Dirikan Mushala dan Mengajar "Ngaji"

Kompas.com - 30/06/2016, 08:57 WIB
Pasangan suami istri Aiptu Ririn Mufiah dan Aiptu Darmawan Prihandoko, pasangan suami istri yang membangun mushala dan mengajar mengaji. KOMPAS.com/Ira RachmawatiPasangan suami istri Aiptu Ririn Mufiah dan Aiptu Darmawan Prihandoko, pasangan suami istri yang membangun mushala dan mengajar mengaji.
|
EditorCaroline Damanik

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Seorang perempuan berseragam dan berkerudung coklat baru saja turun dari sepeda motor di sebelah bangunan kecil persis depan bekas tambak di Lingkungan Wonosari pesisir Kelurahan Sobo Kabupaten Banyuwangi.

Setelah mengucapkan salam, perempuan yang dipanggil 'Bu Darmawan' itu langsung diserbu puluhan anak-anak untuk bersalaman.

"Bu Darmawan aku sudah baca sampai halaman 10," kata seorang anak laki-laki berusia 10 tahun sambil menunjukkan bukunya.

Pakaian seragam polisi yang dikenakan perempuan yang memiliki nama Ririn Mufiah tersebut juga tidak membuat anak-anak canggung untuk mendekat dan duduk di pangkuannya.

"Ini kegiatan saya setiap sore selepas dinas. Mengajar ngaji mereka. Karena waktunya mepet dan jarak rumah jauh saya ya langsung ke sini tanpa harus ganti baju," ujar Aiptu Ririn Mufiah, Rabu (29/6/2016).

Sehari-hari, perempuan kelahiran Tulungagung tersebut berdinas di Binmas Polsek Kota Banyuwangi. Suaminya, Aiptu Darmawan Prihandoko, bertugas di Polair Banyuwangi.

Ririn bercerita bahwa mushala kecil tersebut didirikannya bersama suaminya sejak akhir tahun 2010. Saat itu, dia mengalami sakit parah dan dokter mengatakan sulit untuk sembuh.

"Sudah berbulan-bulan saya keluar masuk rumah sakit. Akhirnya kami meniatkan untuk membangun mushala dari uang yang akan kami digunakan untuk umrah," katanya sambil tersenyum.

Mereka sengaja memilih di lingkungan Wonosari Pesisir karena daerah tersebut berada di pinggiran dan jarang mendapatkan perhatian walaupun masuk wilayah Kecamatan Kota Banyuwangi.

Ada sekitar 25 rumah tangga yang mayoritas adalah buruh nelayan dan dari kalangan tidak mampu. Saat musim hujan, daerah tersebut menjadi langganan banjir rob dan sama sekali tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah.

"Saat saya dan suami jalan kaki di daerah sini saya trenyuh. Anak-anak banyak yang bermain di jam sekolah. Mereka tidak ada yang mengarahkan. Banyak juga yang tidak sekolah karena mereka tidak mampu," tuturnya.

Dia percaya bahwa mendirikan mushala di daerah tersebut lebih banyak bermanfaat dibandingkan dia mendirikan mushala di sekitar rumahnya sendiri.

Di tanah seluas 4x8 yang dibelinya dari warga sekitar, pasangan Ririn dan Darmawan kemudian mendirikan mushala kecil. Pembangunannya tidak sampai 2 bulan karena dibantu oleh masyarakat sekitar.

"Ada yang bilang, Alhamdulilah ada mushala, Bu. Suami saya jarang shalat soalnya," katanya sambil tertawa.

Untuk operasional mushala tersebut, mereka mengeluakan biaya dari uang pribadi termasuk membeli buku serta peralatan mengaji untuk anak-anak. Kemudian ada beberapa donatur dari rekannya membantu membuatkan plafon mushala.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polisi Amankan 3 Pengibar Bendera RMS di Saparua

Polisi Amankan 3 Pengibar Bendera RMS di Saparua

Regional
Wisatawan Membludak, Pantai Selatan Garut Ditutup, Polisi Lakukan Penyekatan

Wisatawan Membludak, Pantai Selatan Garut Ditutup, Polisi Lakukan Penyekatan

Regional
Beberapa Titik di Medan Dilanda Banjir, Bobby Pastikan Warga Terdampak Tak Kekurangan Pangan

Beberapa Titik di Medan Dilanda Banjir, Bobby Pastikan Warga Terdampak Tak Kekurangan Pangan

Regional
Bupati Bener Meriah Alami Pecah Pembuluh Darah, Dibawa ke Medan

Bupati Bener Meriah Alami Pecah Pembuluh Darah, Dibawa ke Medan

Regional
Hari Pertama Lebaran, Bobby dan Kahiyang Datangi Lokasi Banjir Luapan Sungai Deli

Hari Pertama Lebaran, Bobby dan Kahiyang Datangi Lokasi Banjir Luapan Sungai Deli

Regional
Gelar Open House Virtual, Ganjar Sapa Warga Jateng di Banten hingga Sudan

Gelar Open House Virtual, Ganjar Sapa Warga Jateng di Banten hingga Sudan

Regional
Penyakit Syaraf Kambuh, Bupati Bener Meriah Dilarikan ke Medan

Penyakit Syaraf Kambuh, Bupati Bener Meriah Dilarikan ke Medan

Regional
H-1 Lebaran, Mensos Berikan Santunan Rp 285 Juta Kepada Korban Longsor di Solok

H-1 Lebaran, Mensos Berikan Santunan Rp 285 Juta Kepada Korban Longsor di Solok

Regional
12 Korban Tewas Longsor di Tapanuli Selatan Dapat Santunan Rp 180 Juta dari Kemensos

12 Korban Tewas Longsor di Tapanuli Selatan Dapat Santunan Rp 180 Juta dari Kemensos

Regional
Batasi Akses Keluar Masuk Medan, Walkot Bobby Tinjau Lokasi Penyekatan

Batasi Akses Keluar Masuk Medan, Walkot Bobby Tinjau Lokasi Penyekatan

Regional
Kabel Optik Telkom Sarmi-Biak Terputus, Pemprov Papua Tetap Upayakan Layanan E-Government

Kabel Optik Telkom Sarmi-Biak Terputus, Pemprov Papua Tetap Upayakan Layanan E-Government

Regional
Warga Kampung Nelayan Keluhkan Banjir, Walkot Bobby Instruksikan Bangun Tanggul

Warga Kampung Nelayan Keluhkan Banjir, Walkot Bobby Instruksikan Bangun Tanggul

Regional
Ridwan Kamil Lelang 4 Paket Premium Produk Kolaborasi Bersama Merek Lokal

Ridwan Kamil Lelang 4 Paket Premium Produk Kolaborasi Bersama Merek Lokal

Regional
Jelang PON XX 2021, Pemprov Papua Buat Tim Kecil untuk Koordinasi

Jelang PON XX 2021, Pemprov Papua Buat Tim Kecil untuk Koordinasi

Regional
Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X