10 Tahun Lumpur Lapindo, Bencana dan Keberuntungan

Kompas.com - 15/06/2016, 15:38 WIB
Heru Suwandi  berziarah kubur di tanggul penahan lumpur di lokasi yang diperkirakan sejajar dengan makam ayahnya yang terpendam lumpur Lapindo di Kecamatan Porong, Sidoarjo, Sabtu (6/4/2016). Sepuluh tahun sudah luberan lumpur merendam desanya dan membuat perubahan sosial bagi keluarga dan tetangga-tetangganya. KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTAHeru Suwandi berziarah kubur di tanggul penahan lumpur di lokasi yang diperkirakan sejajar dengan makam ayahnya yang terpendam lumpur Lapindo di Kecamatan Porong, Sidoarjo, Sabtu (6/4/2016). Sepuluh tahun sudah luberan lumpur merendam desanya dan membuat perubahan sosial bagi keluarga dan tetangga-tetangganya.
EditorLaksono Hari Wiwoho

KOMPAS - Sudah 10 tahun lumpur Lapindo menyembur di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Kepulan asap putih yang membubung di udara menandakan semburan masih aktif. Tak ada yang tahu kapan berhenti, tetapi miliaran meter kubik lumpur yang dikeluarkan telah membuat banyak perubahan dan mencerminkan sikap masyarakat, negara, dan Lapindo terhadap bencana.

Harwati (40) duduk di dalam gubuk di atas tanggul kolam lumpur Lapindo titik 21 Desa Siring, Kecamatan Porong, Kamis (26/5/2016). Seraya menunggu pengunjung, korban lumpur yang bekerja sebagai tukang ojek sepeda motor di kawasan semburan itu menyantap sebungkus nasi berlauk mujair asap.

Asap lumpur Lapindo yang berbau menyengat dan tidak sedap tak mengendurkan selera bersantap Harwati. Berbagi dengan Sudarwati (35), sesama tukang ojek, dia melalap makanannya hingga tandas. Mujair asap khas Desa Penatarsewu, tetangga Desa Siring itu, memang terkenal gurih.

"Hari ini sepi pengunjung. Ojekan juga sedikit sehingga tak semua tukang ojek dapat giliran. Saya sudah dua hari belum dapat uang. Nasi bungkus ini traktiran teman," ucap janda dua anak itu.

Selain sebagai korban lumpur, Harwati juga dikenal sebagai calo ganti rugi di desanya. Tugasnya menekan korban lain agar mau melepas tanah dan rumahnya dengan harga terendah. Biasanya korban ditakuti dengan tidak akan dibayar kalau tidak nurut.

Calo-calo seperti Harwati bergerilya dari lingkungan rumah tangga, RW, desa, kecamatan, kabupaten, hingga pemerintah pusat. Mereka tega memanfaatkan derita tetangga, orangtua, dan saudara demi memperkaya diri. "Waktu itu calo-calo diperlakukan istimewa oleh Lapindo," kata Harwati.

Keistimewaan lain, pembayaran ganti rugi aset para calo ini langsung dilunasi. Perlakuan itulah yang menggoda Harwati. Dia pun akhirnya berhenti jadi calo setelah rumah orangtuanya dilunasi dan mereka bisa membeli tanah di Desa Candi Pari, Porong.

"Lebih baik kerja ngojek, uangnya berkah dimakan anak saya, meski hasilnya pas-pasan, paling banyak Rp 1,2 juta per bulan," ujar perempuan yang akhirnya memilih berjuang bersama korban lumpur tersebut.

Bencana selalu mengakibatkan perubahan sosial di masyarakat. Namun, bencana akibat lupa memasang casing atau selubung bor saat mengebor di sumur Banjar Panji 1 milik Lapindo Brantas Inc itu menyebabkan perubahan sosial yang luar biasa.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lomba Paduan Suara Katolik di Papua, Panitia Berasal dari Lima Unsur Agama

Lomba Paduan Suara Katolik di Papua, Panitia Berasal dari Lima Unsur Agama

Regional
250 Mahasiswa Serentak Tanam Pohon di Situs Ratu Boko

250 Mahasiswa Serentak Tanam Pohon di Situs Ratu Boko

Regional
Pasca-Bom Bunuh Diri di Mako Polrestabes Medan, Jalan MH Said Ditutup

Pasca-Bom Bunuh Diri di Mako Polrestabes Medan, Jalan MH Said Ditutup

Regional
Dishub Jabar: Pembuatan Jalur Khusus Tambang Solusi Paling Rasional

Dishub Jabar: Pembuatan Jalur Khusus Tambang Solusi Paling Rasional

Regional
Kurir Sabu Jaringan Lapas Semarang Ditangkap di Kendal

Kurir Sabu Jaringan Lapas Semarang Ditangkap di Kendal

Regional
4 Fakta Terkini Bom di Medan, Korban Sementara 6 Orang hingga Meledak di Parkiran

4 Fakta Terkini Bom di Medan, Korban Sementara 6 Orang hingga Meledak di Parkiran

Regional
Djaduk Ferianto Meninggal Dunia, Butet Berharap Ngayogjazz 2019 Tetap Jalan

Djaduk Ferianto Meninggal Dunia, Butet Berharap Ngayogjazz 2019 Tetap Jalan

Regional
Anjing Pelacak Disiagakan untuk Deteksi Bahan Peledak di Polrestabes Medan

Anjing Pelacak Disiagakan untuk Deteksi Bahan Peledak di Polrestabes Medan

Regional
Pencuri Piring Ditangkap Saat Bekerja di Pesta Pernikahan

Pencuri Piring Ditangkap Saat Bekerja di Pesta Pernikahan

Regional
Ledakan Bom di Polrestabes Medan, Warga: Saya Langsung Ingat Anak

Ledakan Bom di Polrestabes Medan, Warga: Saya Langsung Ingat Anak

Regional
Butet Kartaredjasa: Djaduk Meninggal Dunia di Pangkuan Istri

Butet Kartaredjasa: Djaduk Meninggal Dunia di Pangkuan Istri

Regional
Detik-detik Bom Bunuh Diri di Mapolrestabes Medan, Saksi Teriak Bom, Warga Lari Ketakutan

Detik-detik Bom Bunuh Diri di Mapolrestabes Medan, Saksi Teriak Bom, Warga Lari Ketakutan

Regional
25 Makam di Tasikmalaya Dibongkar, Pelaku Hanya Ambil Tanah di Bawah Batu Nisan

25 Makam di Tasikmalaya Dibongkar, Pelaku Hanya Ambil Tanah di Bawah Batu Nisan

Regional
Kesaksian Warga Saat Bom di Medan: Rasanya Tanah seperti Terangkat...

Kesaksian Warga Saat Bom di Medan: Rasanya Tanah seperti Terangkat...

Regional
Ketagihan Judi Online, 2 Pemuda di Makassar Berkali-kali Mencuri

Ketagihan Judi Online, 2 Pemuda di Makassar Berkali-kali Mencuri

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X