"Mereka Bergandeng Tangan Erat dalam Kondisi Sakratulmaut"

Kompas.com - 27/05/2016, 12:33 WIB
Sayudi saat menunjukan lokasi menemukan tubuh Suwarjono tertimpa material bangunan rumah KOMPAS.com / Wijaya KusumaSayudi saat menunjukan lokasi menemukan tubuh Suwarjono tertimpa material bangunan rumah
|
EditorErlangga Djumena

BANTUL, KOMPAS.com — Cinta sejati itu setia dalam suka maupun duka, bahagia maupun susah, bahkan sehidup semati. Itulah kata-kata yang menggambarkan sepasang suami istri, Tumi (70) dan Suwarjono (72), warga Dusun Potrobayan, Srihardono, Pundong, Bantul.

Suami istri itu membuat haru warga Dusun Potrobayan karena dalam kondisi kritis akibat tertimpa material rumah yang ambruk karena gempa, keduanya saling menguatkan dengan saling berpegang tangan.

Kisah nyata ini diceritakan oleh Sayudi, Kepala Dukuh Potrobayan, Srihardono, Pundong, Bantul. Sayuti rumahnya sangat dekat dengan Tumi dan Suwarjono.

Sayuti merupakan salah satu saksi dari kisah cinta dua insan yang mengharukan itu. Kepada Kompas.com, Sayuti menuturkan, Tumi dan Suwarjono sudah cukup lama tinggal di Dusun Potrobayan, Srihardono, Pundong, Bantul. Seusai anaknya menikah, Tumi dan Suwarjono hanya tinggal berdua.


"Anaknya sudah menikah dan tinggal di beda desa. Jadi, Mbokde Tumi dan Pakde Suwarjono hanya tinggal berdua," ucap Sayudi, Kamis (12/5/2016).

Selama tinggal di Dusun Potrobayan, Tumi dan Suwarjono dikenal sangat ramah dan baik. Bahkan, oleh warga, kedua pasangan lanjut usia ini dikenal sangat romantis.

"Pokoknya tidak bisa dipisahkan, ke mana-mana itu selalu berdua. Romantis istilahnya kalau remaja-remaja saat ini bilang," ucapnya.

Saking setianya, mereka setiap hari makan sepiring berdua. Salah satunya pasti tidak akan mendahului makan. "Kalau makan pasti berdua, satu piring itu. Kalau Pakde Suwarjono belum lapar, ya Mbokde Tumi tidak makan, harus bareng," katanya.

Kesetiaan keduanya ini pun membuat kagum warga Dusun Potrobayan, Srihardono, Pundong, Bantul. Namun, naas, pada Sabtu, 27 Mei 2006, pukul 05.53 WIB, gempa bumi berkekuatan 6,3 skala Richter mengguncang Yogyakarta.

Akibat gempa bumi besar itu, semua rumah di Dusun Potrobayan, Srihardono, Pundong, Bantul, ambruk rata dengan tanah, kecuali dua rumah yang masih berdiri, tetapi tidak layak huni.

"Semua ambruk, rumah Mbokde Tumi dan Pakde Suwarjono juga ambruk," ucap Sayudi.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X