Ke Belanda, Ganjar Akan Sampaikan soal Ilmu "Titen" dari Tanah Jawa - Kompas.com

Ke Belanda, Ganjar Akan Sampaikan soal Ilmu "Titen" dari Tanah Jawa

Kompas.com - 09/05/2016, 07:07 WIB
Kompas.com/Nazar Nurdin Gubernur Jateng Ganjar Pranowo seusai berbicara dalam Forum Tahunan Pelaku Industri Jasa Keuangan 2016 di Semarang, Selasa (26/1/2016)

SEMARANG, KOMPAS.com – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo akan menyampaikan materi unik dalam konferensi dunia adaptasi perubahan iklim 2016 di Belanda yang berlangsung hingga 14 Mei mendatang. Materi yang disampaikan salah satunya mengenai local wisdom dari tanah Jawa, yakni ilmu titen.

Ilmu titen berisi amatan pengamatan pada fenoma alam, tradisi masyarakat, serta tanda-tanda alam sebelum bencana terjadi. Fenomena yang telah ada dalam masyarakat Jawa itu dibingkai dalam sebuah buku.

“Saya bawa buku kecil namanya ilmu titen. Isinya tentang local wisdom (kearifan lokal) berkaitan dengan early warning sistem yang dimiliki oleh masyarakat lokal di Jawa Tengah,” kata Ganjar, Minggu (8/5/2016).

Ganjar mengatakan, buku titen ini sengaja dipersiapkan untuk dipamerkan di ajang dunia. Buku titen berisi kearifan lokal masyarakat ketika menghadapi bencana melalui tanda-tanda alam. Melalui tanda alam, masyarakat terbiasa menanggulangi dan mengurangi resiko bencana yang akan datang.


“Buku ini akan saya perkenalkan, bagaimana rakyat di Jateng ini punya kearifan lokal di bidang kebencana alam,” tambah dia.

Buku 'titen' itu sengaja disiapkan sebagai bahan bersama untuk mengantisipasi potensi bencana yang terjadi.

Pengeluaran buku juga dilatarbelakangi bahwa Jateng telah dinyatakan sebagai daerah supermarket bencana. Semua bencana alam yang terjadi ada dan terjadi di Jawa Tengah.

"Ilmu titen itu, misalnya ketika lahar merapi sebelumnya ada awan menggumpal. Kemudian ada cerita 'Palu Janda' di Pemalang, cerita dari nenek moyang akan dikumpulkan jadi ilmu titen," ujar suami dari Siti Atiqoh ini.

Ganjar menyebutkan, secara kultural risiko bencana telah diketahui masyarakat. Rakyat pun telah mempunyai pengalaman dan cara menghadapi bencana sebelum adanya alat pendeteksi bencana.

“Masyarakat Indonesia ini punya kekuatan gotong royong, ada konsep rembugan antar village. Asing melihat itu sesuatu yang beda. Sistem komunal guyub itu tidak ada di negeri lain, makanya itu disampaikan juga,” ucap dia.


EditorErlangga Djumena

Close Ads X