Banyak Aparatur Desa Belum Kompeten, Pemuda Katolik Siap Turun Dampingi Desa

Kompas.com - 24/04/2016, 19:23 WIB
Karolina Margaret, Ketua Pusat Pemuda Katolik, dan Sekretaris Jendral Pemuda Katolik Kristo saat diterima masyarakat di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Pemuda Katolik melaksanakan rapat kerja nasional di Lamandau selama beberapa hari. Dokumen PribadiKarolina Margaret, Ketua Pusat Pemuda Katolik, dan Sekretaris Jendral Pemuda Katolik Kristo saat diterima masyarakat di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Pemuda Katolik melaksanakan rapat kerja nasional di Lamandau selama beberapa hari.
|
EditorAmir Sodikin

PALANGKARAYA, KOMPAS.com - Pendampingan aparatur desa untuk memperbaiki kualitas pembangunan bangsa terus didorong. Di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, dari 85 desa hanya terdapat 20 desa yang aparatur desanya memenuhi syarat.

Sisanya, banyak aparatur desa yang lama pendidikan rata-rata 7,2 tahun atau setara sekolah menengah pertama.

Hal itu terungkap saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pemuda Katolik di Lamandau, Kalimantan Tengah beberapa waktu lalu. Kegiatan tersebut juga diikuti oleh organisasi pemuda seperti Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Palangkaraya.

Rakernas tersebut dimulai pada 19 sampai 22 April 2016 dan menghasilkan tiga sikap Pemuda Katolik, meliputi pembangunan desa, pilkada, dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Sikap tersebut juga kemudian dilaporkan ke beberapa lembaga kementerian terkait.

“Harus ada perhatian khusus di desa untuk menjadi sentra pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan,” ungkap Ketua Pemuda Katolik (PK) Pusat Karolin Margaret Natasa saat dihubungi dari Palangkaraya, Minggu (24/4/2016).

Sekretaris Jendral Asosiasi Dosen Ilmu Pemerintahan Indonesia (ADIPSI) Gregorius Sahdan mengatakan, masih banyak aparatur desa yang tidak memahami fungsi dan tugas mereka.

Sebagian besar desa-desa di Indonesia tidak memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) dan sebagian besar kepala desa belum bisa membuat laporan pertanggungjawaban.

“Sudah menjadi tugas pemerintahan setingkat di atasnya seperti kecamatan dan kabupaten untuk mendampingi, tetapi ini dikomersilkan,” ungkap Sahdan.

Untuk mendapatkan pengetahuan soal sistem administrasi, aparatur desa harus merogoh kocek dengan meminta staf atau pegawai di tingkat kecamatan atau kabupaten untuk datang membantu. Padhal, hal itu diatur dalam undang-undang dan pemerintah desa tidak perlu mengeluarkan uang.

“Upaya Pemuda Katolik untuk mewujudkan pembangunan desa yang baik adalah dengan menggunakan kader-kader mereka yang ada di setiap daerah sampai tingkatan desa,” tutup Karolin.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jadi Penambang karena Pandemi, Suami Istri Ini Tewas Tertimbun Longsor di Tambang Emas Ilegal,

Jadi Penambang karena Pandemi, Suami Istri Ini Tewas Tertimbun Longsor di Tambang Emas Ilegal,

Regional
Memburu Mujahidin Indonesia Timur Pimpinan Ali Kalora di Poso, Polisi Sebut Kelompok Sudah Melemah

Memburu Mujahidin Indonesia Timur Pimpinan Ali Kalora di Poso, Polisi Sebut Kelompok Sudah Melemah

Regional
Cerita Indra Luluhkan Hati Melissa Wanita Asal Perancis, Awalnya Diabaikan, Tetap Chat via Facebook sampai Baper

Cerita Indra Luluhkan Hati Melissa Wanita Asal Perancis, Awalnya Diabaikan, Tetap Chat via Facebook sampai Baper

Regional
Bupati Luwu Utara Minta ASN Jadi Garda Terdepan Sukseskan Vaksinasi Covid-19

Bupati Luwu Utara Minta ASN Jadi Garda Terdepan Sukseskan Vaksinasi Covid-19

Regional
Belasan Ton Ikan di Danau Batur Mati, Ini Penyebabnya

Belasan Ton Ikan di Danau Batur Mati, Ini Penyebabnya

Regional
Terduga Pembunuh Pemilik Toko di Blitar Ditangkap, Pelaku Sempat Pura-pura Jadi Pembeli

Terduga Pembunuh Pemilik Toko di Blitar Ditangkap, Pelaku Sempat Pura-pura Jadi Pembeli

Regional
Cerita Ketua RT Saat Densus 88 Tangkap Terduga Teroris, Senapan Angin Disita

Cerita Ketua RT Saat Densus 88 Tangkap Terduga Teroris, Senapan Angin Disita

Regional
Polisi Akan Panggil Saksi Dugaan Rekayasa Kasus Narkoba Wakil Wali Kota Tegal

Polisi Akan Panggil Saksi Dugaan Rekayasa Kasus Narkoba Wakil Wali Kota Tegal

Regional
Demokrat Jambi Ancam Pecat Kader yang Terlibat GPK-PD, 2 Anggota Terindikasi

Demokrat Jambi Ancam Pecat Kader yang Terlibat GPK-PD, 2 Anggota Terindikasi

Regional
[POPULER NUSANTARA] Mantan Bupati Jember Faida Diperiksa Kejari | Warga Suriname Cari Keluarganya di Sleman

[POPULER NUSANTARA] Mantan Bupati Jember Faida Diperiksa Kejari | Warga Suriname Cari Keluarganya di Sleman

Regional
Setahun Pandemi, Cerita Para Ibu yang Berprofesi sebagai Dokter, Beban Ganda Jadi Guru hingga Urus Keluarga

Setahun Pandemi, Cerita Para Ibu yang Berprofesi sebagai Dokter, Beban Ganda Jadi Guru hingga Urus Keluarga

Regional
Fakta Konflik Wali Kota Tegal dan Wakilnya, Tampil Berdua tetapi Laporan ke Polisi Tak Dicabut

Fakta Konflik Wali Kota Tegal dan Wakilnya, Tampil Berdua tetapi Laporan ke Polisi Tak Dicabut

Regional
Hamil Tua, TL Tetap Mangkal Jadi PSK, Miliki 2 Anak Balita, Suami Kabur Entah ke Mana

Hamil Tua, TL Tetap Mangkal Jadi PSK, Miliki 2 Anak Balita, Suami Kabur Entah ke Mana

Regional
Fakta Penangkapan Terduga Teroris di Jatim, Perajin Kulit hingga Istri adalah Seorang Guru

Fakta Penangkapan Terduga Teroris di Jatim, Perajin Kulit hingga Istri adalah Seorang Guru

Regional
Hujan Disertai Angin Kencang di Blitar, Menara Telekomunikasi Roboh Timpa Mushala

Hujan Disertai Angin Kencang di Blitar, Menara Telekomunikasi Roboh Timpa Mushala

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X