Miris, Daging Bekantan Dijadikan Umpan untuk Memancing Kepiting

Kompas.com - 17/03/2016, 14:04 WIB
Seekor bekantan (Nasalis larvatus) bersembunyi di rerimbunan di tepi Sungai Hitam, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kawasan ini merupakan habitat bekantan. KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYASeekor bekantan (Nasalis larvatus) bersembunyi di rerimbunan di tepi Sungai Hitam, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kawasan ini merupakan habitat bekantan.
|
EditorErlangga Djumena
PONTIANAK, KOMPAS.com - Populasi primata jenis Bekantan (Nasalis Larvatus) yang hidup di kawasan mangrove di wilayah Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya diperkirakan hanya berkisar 200 hingga 350 ekor.

Monyet hidung panjang tersebut merupakan primadona endemik asli Kalimantan yang keberadaannya dilindungi undang-undang.

Namun, di kawasan Batu Ampar, nasib satwa tersebut bisa dibilang memprihatinkan. Daging bekantan dikabarkan dijadikan umpan yang digunakan masyarakat memancing kepiting.

Kondisi tersebut diungkapkan Manajer Program WWF Indonesia-Kalimantan Barat, Albertus Tjiu, Rabu (16/3/2016) usai kegiasatan Sosialisasi Program Peningkatan Produksi, Restorasi dan Konservasi Mangrove dan Gambut di Hotel Gardenia Resort, Kubu Raya, Kalbar.

Aktivitas masyarakat yang memancing menggunakan daging bekantan tersebut diketahui dari hasil survei dan penuturan masyarakat.

"Untuk perburuan dari investigasi kami sebelumnya, sebenarnya belum clear. Tapi dari perjalanan kerja kami di Kubu Raya, ada indikasi bekantan ini diburu dan malangnya daging bekantan digunakan sebagai umpan untuk memancing kepiting," kata dia.

Saat ini, pihaknya terus memantau perkembangan populasi bekantan yang berada di wilayah Kabupaten Kubu Raya, khususnya di hutan mangrove Kecamatan Batu Ampar.

"Sampai empat tahun ke depan akan terus dimonitoring, apakah tren jumlah populasi meningkat atau menurun, atau stabil," kata Albertus.

Albertus menambahkan, pihaknya bekerjasama dengan BKSDA Kalbar melakukan investigasi terkait perburuan bekantan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi dan mencegah perburuan satwa liar dilindungi di kawasan tersebut.

Untuk mendapatkan data yang lebih valid, WWF Indonesia akan melakukan investigasi ulang terkait temuan tersebut, sehingga bisa diketahui apa yang sebenarnya terjadi. Penggunaan daging bekantan sebagai umpan memancing kepiting, semakin mengancam keberadaan primata endemik tersebut.

Dalam menyikapi kondisi tersebut, terkait dengan pengelolaan sumber daya alam, perlu adanya semacam edukasi yang diberikan kepada masyarakat.

"Masyarakat perlu diedukasi dan diberi pemahaman, bahwa sebenarnya kepiting itu bisa ditangkarkan. Jadi jangan menggunakan daging satwa liar,apalagi bekantan yang dijadikan umpan pancing," katanya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Suami Pulang Mabuk, Wanita Ini Aniaya dengan Kapak hingga Tewas

Suami Pulang Mabuk, Wanita Ini Aniaya dengan Kapak hingga Tewas

Regional
Perjuangan Dokter Ririn Rawat Pasien Covid-19: Lihat Pasien Sembuh, Itu Sebuah Kepuasan...

Perjuangan Dokter Ririn Rawat Pasien Covid-19: Lihat Pasien Sembuh, Itu Sebuah Kepuasan...

Regional
Ada 74 Klaster Keluarga di Sleman Selama 2 Bulan Terakhir

Ada 74 Klaster Keluarga di Sleman Selama 2 Bulan Terakhir

Regional
Respons Pemkab Gresik Usai Video Keranda Jenazah Dihanyutkan Menyeberangi Sungai Viral

Respons Pemkab Gresik Usai Video Keranda Jenazah Dihanyutkan Menyeberangi Sungai Viral

Regional
Ada Siswa Positif Covid-19, Rencana Sekolah Tatap Muka di Jateng Terancam Ditunda

Ada Siswa Positif Covid-19, Rencana Sekolah Tatap Muka di Jateng Terancam Ditunda

Regional
Mobil Milik Seorang Dokter Tiba-tiba Terbakar di Parkiran RS Pekanbaru

Mobil Milik Seorang Dokter Tiba-tiba Terbakar di Parkiran RS Pekanbaru

Regional
Dirilis KPK sebagai Calon Wakil Kepala Daerah Terkaya, Muhidin: Alhamdulillah

Dirilis KPK sebagai Calon Wakil Kepala Daerah Terkaya, Muhidin: Alhamdulillah

Regional
Tertular dari Dosen, 48 Anak dan Pengurus Panti Asuhan Positif Covid-19

Tertular dari Dosen, 48 Anak dan Pengurus Panti Asuhan Positif Covid-19

Regional
Keluarga Mengamuk dan Tolak Pemakaman Pasien Corona Sesuai Prosedur Covid-19

Keluarga Mengamuk dan Tolak Pemakaman Pasien Corona Sesuai Prosedur Covid-19

Regional
Pengemudi 'Speedboat' yang Tabrakan di Musi Banyuasin Ditemukan Tewas

Pengemudi "Speedboat" yang Tabrakan di Musi Banyuasin Ditemukan Tewas

Regional
15 ASN Pemkab Ponorogo Positif Covid-19

15 ASN Pemkab Ponorogo Positif Covid-19

Regional
Intensitas Kegempaan Gunung Merapi Minggu Ini Lebih Rendah

Intensitas Kegempaan Gunung Merapi Minggu Ini Lebih Rendah

Regional
Video Hoaks Aliran Lahar Dingin Gunung Semeru Beredar di Medsos

Video Hoaks Aliran Lahar Dingin Gunung Semeru Beredar di Medsos

Regional
Tambah 3 Orang, Kini Ada 5 Anggota DPRD Lamongan Positif Covid-19

Tambah 3 Orang, Kini Ada 5 Anggota DPRD Lamongan Positif Covid-19

Regional
Angka Kematian akibat Covid-19 di Banyumas Meningkat, Tiap Hari Lebih dari 5 Orang

Angka Kematian akibat Covid-19 di Banyumas Meningkat, Tiap Hari Lebih dari 5 Orang

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X