Ajeng, Perempuan Pendobrak Diskriminasi Penyandang Tunarungu

Kompas.com - 08/03/2016, 21:00 WIB
Nia penyandang tunarungu yang memperagakan pantomin di tengah acara sosialisasi pemilihan kepala daerah bagi penyandang cacat pada November 2015 lalu. Nia adalah binaan Ajeng dalam mengembangkan potensi diri. KOMPAS.com/ENI MUSLIMAHNia penyandang tunarungu yang memperagakan pantomin di tengah acara sosialisasi pemilihan kepala daerah bagi penyandang cacat pada November 2015 lalu. Nia adalah binaan Ajeng dalam mengembangkan potensi diri.
|
EditorErlangga Djumena

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com — Seorang gadis belia pada pagi yang cerah itu mengayuh sepeda ontel di perbukitan. Lengang jalan raya, hanya seorang diri, membuat dia mempercepat kayuhan pedal sepedanya.

Jalan turunan curam tak ia pedulikan. Sepeda melaju kencang sampai akhirnya gadis itu terjatuh. Sakit di sekujur tubuhnya. Tanpa disadari, dia memegang sesuatu di tangannya.

Gadis lugu ini kemudian mendekatkan tangannya ke arah hidung. "Eeeee, rupanya kotoran kerbau yang tercium."

Begitulah Kantie Setyo Wilujeng (23) menerjemahkan sebuah pantomim yang diperagakan oleh Nia, seorang tunarungu di Lampung.

Aksi pantomim itu mendapat tepukan yang meriah dari peserta sosialisasi pelaksanaan pemilihan kepala daerah bagi masyarakat penyandang cacat pada November 2015 lalu.

Ajeng, begitu perempuan ini akrab disapa, mulai sering berkumpul dengan penyandang tunarungu sejak semester III.

"Awalnya, saya hanya ikut-ikut saja dalam sebuah gerakan untuk kesejahteraan tunarungu," kata dia.

Namun, setelah sekian lama, ia akhirnya merasa ingin terus melanjutkan hubungannya dengan penyandang tunarungu.

"Semakin dalam bergaul dan berbagi cerita, ternyata mereka tidak sedikit yang mengalami diskriminasi di dalam keluarga," ujar alumnus Jurusan Bimbingan Konseling Universitas Lampung tahun 2015 itu.

Nyaris, pendampingan bersama penyandang tunarungu ini dia jalankan seorang diri.

Menurut dia, banyak keluarga mereka tidak menerima kalau ada anggota keluarganya adalah penyandang tunarungu.

Mereka cenderung tersisihkan dari pergaulan masyarakat.

"Pelan-pelan saya sering adakan pertemuan dengan teman rungu dan menggali potensinya," tuturnya.

Ternyata, di balik kekurangannya, para penyandang tunarungu ini memiliki potensi yang luar biasa.

"Mereka punya keinginan belajar. Ada yang ingin menjadi seorang fotografer, komedian, bahkan ada juga yang bercita-cita menjadi seorang desainer grafis," ujar aktivis Gerkatin Lampung ini.

Ajeng dengan jaringan yang dia miliki menghubungkan antara komunitas penyandang tunarungu itu dan rekan-rekannya yang memiliki keahlian di bidang tersebut.

"Karena jarang sekali yang mengerti bahasa isyarat tunarungu, saya jadi sering mendampingi mereka, sampai sudah seperti pacarnya saja," tuturnya sambil tertawa.

Paling banyak, kata Ajeng, penyandang tunarungu di Lampung memiliki keahlian dalam pantomim.

"Ketika teman-teman rungu tampil menunjukkan keahliannya, saya selalu ajak orangtua mereka," katanya lagi.

Keluarga mereka terkejut, ternyata di balik kekurangannya, anak penyandang tunarungu memiliki potensi yang lebih dari manusia pada umumnya.

"Saya dengan kemampuan seadanya coba menyampaikan kepada orangtua mereka supaya tidak terlena dengan kekurangan," tambahnya.

Di Provinsi Lampung tercatat terdapat sekitar 120 penyandang tunarungu. Sebanyak 50 di antaranya berada di Kota Bandar Lampung.

Ajeng mengatakan, sebagian besar keluarga memaksakan penyandang tunarungu berkomunikasi secara oral. Kalaupun menggunakan bahasa isyarat, komunikasi itu masih alami sekali.

Selain memberi pemahaman tentang potensi kepada orangtua yang anaknya merupakan seorang tunarungu, Ajeng juga mengajarkan perbendaharaan isyarat kepada mereka.

"Saya ingin mereka hidup sejajar dengan yang lainnya karena mereka sebenarnya punya potensi lebih," tutupnya.

Memperingati Hari Perempuan Internasional setiap tanggal 8 Maret, redaksi Kompas.com menayangkan beberapa artikel yang mengangkat kisah-kisah inspiratif perempuan dari berbagai wilayah Indonesia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gunung Semeru Meletus Keluarkan Awan Panas dan Guguran Lava, Mengarah ke Lumajang

Gunung Semeru Meletus Keluarkan Awan Panas dan Guguran Lava, Mengarah ke Lumajang

Regional
BNPB Minta Warga Waspadai Lahar Dingin Pasca-letusan Gunung Semeru

BNPB Minta Warga Waspadai Lahar Dingin Pasca-letusan Gunung Semeru

Regional
Mantan Pejabat BNN Sumut Jadi Tersangka Dugaan Penggelapan Rp 756 Juta

Mantan Pejabat BNN Sumut Jadi Tersangka Dugaan Penggelapan Rp 756 Juta

Regional
Harga Cabai Rawit Merah di Cianjur Tembus Rp 100.000 Per Kg

Harga Cabai Rawit Merah di Cianjur Tembus Rp 100.000 Per Kg

Regional
Sungai di Manado Meluap, Warga Diminta Mengungsi

Sungai di Manado Meluap, Warga Diminta Mengungsi

Regional
Kronologi Kejar-kejaran Satgas Bea Cukai Vs Kapal Rokok Ilegal, Kapal Satgas Sempat Dilempari Bom Molotov

Kronologi Kejar-kejaran Satgas Bea Cukai Vs Kapal Rokok Ilegal, Kapal Satgas Sempat Dilempari Bom Molotov

Regional
Di Tengah Pandemi, Lapangan Migas di Sumsel Bukukan Kenaikan Produksi

Di Tengah Pandemi, Lapangan Migas di Sumsel Bukukan Kenaikan Produksi

Regional
BPPTKG Rekomendasikan Pengungsi di Luar Daerah Bahaya Letusan Merapi untuk Pulang

BPPTKG Rekomendasikan Pengungsi di Luar Daerah Bahaya Letusan Merapi untuk Pulang

Regional
Marah Tanah Warisan Ayahnya Digarap, Keponakan Aniaya Paman Hingga Tewas

Marah Tanah Warisan Ayahnya Digarap, Keponakan Aniaya Paman Hingga Tewas

Regional
PLN Pasang Telepon Satelit, Perlancar Koordinasi Penanganan Pasca-gempa Sulbar

PLN Pasang Telepon Satelit, Perlancar Koordinasi Penanganan Pasca-gempa Sulbar

Regional
Sumbar Siapkan 5 RS Rujukan bagi Warga yang Alami Efek Samping Vaksinasi

Sumbar Siapkan 5 RS Rujukan bagi Warga yang Alami Efek Samping Vaksinasi

Regional
Gubernur NTB Promosikan Sepeda Listrik Buatan Lokal ke Menpar

Gubernur NTB Promosikan Sepeda Listrik Buatan Lokal ke Menpar

Regional
Pegiat Bahasa Sunda Bersiap Sambut Hari Bahasa Ibu Internasional

Pegiat Bahasa Sunda Bersiap Sambut Hari Bahasa Ibu Internasional

Regional
Kematian Pasien Covid-19 di Atas 50 Tahun di Kulon Progo Terus Bertambah

Kematian Pasien Covid-19 di Atas 50 Tahun di Kulon Progo Terus Bertambah

Regional
Alumni Sekolah dan Komunitas Sosial Gelar Aksi Teaterikal Doakan Rahmania, Korban Sriwijaya Air SJ 182 Asal Kediri

Alumni Sekolah dan Komunitas Sosial Gelar Aksi Teaterikal Doakan Rahmania, Korban Sriwijaya Air SJ 182 Asal Kediri

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X