Lahar Dingin Kelud Menerjang, Warung Mbah Bajang Terendam Lumpur

Kompas.com - 25/02/2016, 10:07 WIB
Warung nasi milik Mbah Bajang yang merupakan satu-satunya bangunan rumah di tepi Kali Putih kemasukan lumpur. Namun, Rabu (24/2/2016) pagi itu, lumpur sudah surut, baru sore hari, lumpur kembali meluap 
Surya/Imam TaufiqWarung nasi milik Mbah Bajang yang merupakan satu-satunya bangunan rumah di tepi Kali Putih kemasukan lumpur. Namun, Rabu (24/2/2016) pagi itu, lumpur sudah surut, baru sore hari, lumpur kembali meluap
EditorCaroline Damanik
BLITAR, KOMPAS.com - Hujan deras yang mengguyur puncak Gunung Kelud selama beberapa hari ini membuat Kali Putih, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, diterjang lahar dan meluap, Rabu (24/2/2016) sore.

Lahar itu membawa tumpukan material gunung bercampur air yang mengalir deras. Warung nasi milik Mbah Bajang kebagian akibatnya.

"Tadi pagi saya masih buka dan melayani orang makan. Memang, lumpur masuk ke warung sejak kemarin. Namun, itu hanya sore hari. Namun, kalau pagi hari ya sudah surut karena lumpur hanya muncul sore hari" tutur Mbah Bajang.

Mbah Bajang, seorang kakek berusia 65 tahun, adalah pemilik warung nasi di Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, itu. Setiap hari, dia melayani para penambang pasir dan para sopir truk yang antre mengambil pasir.


Menurut dia, banjir air dan lumpur sudah biasa terjadi. Namun, kali ini aliran luapannya lebih deras.

"Lumpurnya hanya setumit. Itu sudah biasa, kalau Kali Putih lagi meluap airnya, warungnya sering kemasukkan air dan lumpur," tuturnya.

Kawasan ini jauh dari perkampungan sehingga tak ada satu pun rumah. Satu-satunya, bangunan rumah hanya warung Mbah Bajang itu. Namun demikian, tiap hari di sepanjang Kali Putih itu banyak penambang pasir tradisional, yaitu warga setempat atau warga Desa Karangrejo yang berjarak sekitar 3 km dari bibir kali.

Kalau sore, penambang yang berjumlah sekitar 100 orang itu sudah meninggalkan lokasi karena tak mungkin menambang malam hari karena selain gelap juga cukup berbahaya.

Kapolsek Garum AKP Rusmin, mengimbau warga untuk tidak beraktivitas di sepanjang Kali Putih. Polisi juga melakukan patroli.

"Kami sudah mengimbau sejak Selasa kemarin, agar para penambang menghentikan aktivitasnya. Itu seiring dengan munculnya lahar dingin, yang biasa muncul siang hari atau sehabis pukul 12.00 WIB," katanya.

Kades Karangrejo, Sugiana, menambahkan luapan lahar dingin di Kali Putih saat ini lebih deras dibandingkan sebulan lalu yang menghanyutkan delapan truk.

Mengapa demikian? Jawabnya karena sejak adanya larangan menambang dari Polres Blitar tak ada aktivitas penambangan lagi di sana sehingga material di kali semakin menumpuk.

"Meski muncul lahar dingin seperti dua hari ini, namun sudah sebulan ini tak ada aktivitas penambangan," ucapnya.

"Karena sudah lama tak ada aktivitas penambangan sehingga lumpur dengan mudah meluber ke warung Mbah Bajang," tambah dia.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cerita di Balik Ustaz Abdul Somad Mundur dari PNS UIN Suska Riau

Cerita di Balik Ustaz Abdul Somad Mundur dari PNS UIN Suska Riau

Regional
Pengakuan Pekerja Lokalisasi Sunan Kuning Sebelum Penutupan

Pengakuan Pekerja Lokalisasi Sunan Kuning Sebelum Penutupan

Regional
Walau Palembang Diguyur Hujan Lebat, Tapi Lokasi Karhutla Masih Membara

Walau Palembang Diguyur Hujan Lebat, Tapi Lokasi Karhutla Masih Membara

Regional
Mari Bantu Siswa-siswi SD di Flores Agar Tak Lagi Pikul Air 5 Km untuk Siram Toilet

Mari Bantu Siswa-siswi SD di Flores Agar Tak Lagi Pikul Air 5 Km untuk Siram Toilet

Regional
Kisah Dua Nenek Buta Kakak-Beradik yang Sakit-sakitan dan Setia Tinggal Bersama

Kisah Dua Nenek Buta Kakak-Beradik yang Sakit-sakitan dan Setia Tinggal Bersama

Regional
Bupati Madiun Jamin Anak-anak Pengungsi Wamena Tak Putus Sekolah

Bupati Madiun Jamin Anak-anak Pengungsi Wamena Tak Putus Sekolah

Regional
Kisah Bocah 3,5 Tahun Penderita Tumor Ganas, Hanya Bisa Terbaring dengan Perut Sebesar Bola Basket

Kisah Bocah 3,5 Tahun Penderita Tumor Ganas, Hanya Bisa Terbaring dengan Perut Sebesar Bola Basket

Regional
Fakta Ajudan Nekat Curi Uang Kapolres, Terdesak Cicilan Mobil hingga Terancam 5 Tahun Penjara

Fakta Ajudan Nekat Curi Uang Kapolres, Terdesak Cicilan Mobil hingga Terancam 5 Tahun Penjara

Regional
Kecanduan Game Online, Puluhan Pelajar Diobati di Rumah Sakit Jiwa Solo

Kecanduan Game Online, Puluhan Pelajar Diobati di Rumah Sakit Jiwa Solo

Regional
Kisah Relawan Jelajahi Gua Vertikal untuk Cari Air Bersih: Puluhan Tahun Akhirnya Kami Tidak Kekeringan Lagi

Kisah Relawan Jelajahi Gua Vertikal untuk Cari Air Bersih: Puluhan Tahun Akhirnya Kami Tidak Kekeringan Lagi

Regional
Dicabuli Guru Les Vokal hingga Hamil 8 Bulan, Siswi SMP Alami Trauma, Pilih Berhenti Sekolah

Dicabuli Guru Les Vokal hingga Hamil 8 Bulan, Siswi SMP Alami Trauma, Pilih Berhenti Sekolah

Regional
Joki Cilik Meninggal Saat Pacuan Kuda, Aktivis Kampanyekan #Stopjokicilik

Joki Cilik Meninggal Saat Pacuan Kuda, Aktivis Kampanyekan #Stopjokicilik

Regional
Kopi Sumowono, Awalnya untuk Panti Asuhan Kini Harganya Rp 5 Juta Per Kg

Kopi Sumowono, Awalnya untuk Panti Asuhan Kini Harganya Rp 5 Juta Per Kg

Regional
Daftar 20 Desa di Sleman yang Dilewati Tol Jogja-Solo dan Jogja-Bawen

Daftar 20 Desa di Sleman yang Dilewati Tol Jogja-Solo dan Jogja-Bawen

Regional
Duduk Perkara OTT Wali Kota Medan, demi Tutupi Biaya Perjalanan ke Jepang ...

Duduk Perkara OTT Wali Kota Medan, demi Tutupi Biaya Perjalanan ke Jepang ...

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X