Pondok Pesantren Al-Fatah, Oase Para Waria Pencari Tuhan

Kompas.com - 13/02/2016, 06:30 WIB
KOMPAS.com / Wijaya Kusuma Ketua Pondok Pesantren (Ponpes) Waria Al-Fatah Shinta Ratri
YOGYAKARTA,KOMPAS.com - Pondok Pesantren Al-Fatah ini mungkin menjadi satu-satunya di Indonesia atau bahkan di dunia yang seluruh santrinya adalah para waria.

Pondok pesantren yang berlokasi di Celenan, Kotagede, Yogyakarta ini sejak delapan tahun lalu menjadi tempat bagi para waria mempelajari agama Islam sekaligus semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

"Resminya 2008 lalu pondok pesantren ini didirikan," ujar Ketua Pondok Pesantren (Ponpes) Waria Al-Fatah Shinta Ratri saat ditemui Kompas.com, Kamis (12/02/2016).

Shinta menuturkan, sejak 2008 sebanyak 40 orang waria berbagai profesi menjadi santri di pondok pesantren ini.


"Sekarang ada 40 santri. Pekerjaanya macam-macam, ada yang di LSM, pelayan toko, pegawai salon sampai dengan pengamen," papar Shinta.

Hal yang luar biasa adalah, pembiayaan pondok pesantren ini dipenuhi dengan cara swadaya. Salah satu sumber pencarian dana adalah menyediakan kotak donasi sukarela bagi siapa saja yang ingin membantu.

"Kita swadaya. Ada kotak donasi, misalnya ada mahasiswa yang melakukan penelitian mereka sukarela memasukan (uang) ke dalam kotak," lanjut Shinta.

Menurutnya, di Pondok Pesantren Al-Fatah terdapat enam orang ustaz yang membimbing para waria ini.

Para tokoh agama ini dengan sukarela membimbing para waria itu tanpa mendapatkan honor.
Sama dengan pondok pesantren lainya, dengan bimbingan para ustaz para waria ini memperdalam ilmu agama Islam.

"Tempat para waria mencari Tuhan. Tempat belajar membaca huruf Arab, belajar baca Al-Quran, dan sharing soal hidup mereka," lanjut Shinta.

Selain itu, pondok Pesantren Al-Fatah juga menjadi tempat beribadah bagi para waria ini. Sebab, selama ini para waria selalu kesulitan mencari tempat beribadah karena sebagian orang menerima keberadaan mereka.

"Waria di Indonesia mayoritas beragama Islam, tapi mereka kesulitan ketika ingin beribadah," kata Shinta.

Padahal, lanjutnya, menjadi waria itu adalah takdir yang telah digariskan Tuhan dan manusia tidak bisa mengelak saat terlahir menjadi seorang waria.

Di sisi lain waria tetaplah manusia yang mempunyai hak untuk dekat dengan Tuhan, belajar agama dan beribadah.

Di dalam menjalankan ibadah, lanjutnya, para waria dibebaskan sesuai dengan kenyamanan hati mereka masing-masing. Ada waria yang hatinya nyaman mengenakan mukena namun ada juga yang lebih nyaman mengenakan sarung.

"Di sini dibebaskan memilih sesuai dengan kenyamanan hati mereka. Ada yang nyaman dengan mukena ada yang dengan menggunakan sarung," ucapnya.

Harapannya dengan keberadaan pondok pesantren Al-Fatah ini dapat membentuk karakter waria yang Islami dan takwa kepada Tuhan.

"Tujuannya membentuk waria yang beraga muslim semakin Islami. Lalu kita berharap agar pemerintah dapat memberikan hak yang sama," pungkasnya.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorErvan Hardoko
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X