Cerita Sinta, Gadis Tuna Rungu yang Raup Rupiah dari Batik

Kompas.com - 23/01/2016, 07:00 WIB
Sinta (24) gadis peyandang tuna rungu dan wicara asal  Desa Pancuranmas, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, yang pandai membatik. Kompas.com/Ika FitrianaSinta (24) gadis peyandang tuna rungu dan wicara asal Desa Pancuranmas, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, yang pandai membatik.
|
EditorCaroline Damanik
MAGELANG, KOMPAS.com - Bagi Sinta Dewi Ranti (24), menggambar dan membatik menjadi aktivitas yang begitu menyenangkan. Dengan melukis, dia dapat mengungkapkan seluruh perasaannya ditengah kondisinya yang menyandang tuna rungu dan wicara.

Kondisi itu tidak membuat Sinta patah arang. Sinta justru mampu menunjukkan karya-karya batiknya yang mempunyai nilai seni dan nilai jual yang tinggi. Bahkan perempuan berparas ayu itu sudah menjadikan batik sumber mata pencahariannya.

Saat ditemui di kediamannya di Dusun Sawahan, Desa Pancuranmas, Kecamatan Secang Kabupaten Magelang, Jumat (22/1/2016), Sinta sedang asyik membatik kain pesanan salah seorang pelanggannya. Di sudut ruangan, terdapat beberapa peralatan membatik seperti canting dan kain-kain batik yang sudah jadi dan setengah jadi.

"Dari kecil Sinta memang suka menggambar. Dia mulai membatik sendiri saat keluar dari pekerjaannya di perusahaan batik di pada pertengahan 2014 lalu," kata sang Ibu, Dwi Suswanti (51).


Dwi menceritakan, anak sulung empat bersaudara itu adalah lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, 2011 silam. Selepas dari SLB, dia mulai membatik sendiri.

"Saat itu sudah membatik di kain, lalu suka bikin suvenir batik, gantungan kunci dan lainnya. Tapi waktu itu belum dijual," kisah Dwi.

Suatu ketika, Sinta bekerja ikut pengusaha batik di Kota Magelang, namun penghasilan yang diterima Sinta tidak mencukupi untuk kebutuhannya sehari-hari.

Bahkan karya batiknya sering dihargai mahal oleh konsumen, tetapi uang yang diterimanya kecil. Sinta pun memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut.

“Sinta sangat kecewa, apalagi setelah tahu kalau hasil batik karyanya dijual dengan harga sangat mahal sampai jutaan rupiah per potong, tapi Sinta hanya dibayar sekedarnya bahkan pernah tidak dibayar," ungkap Dwi.

Tekun

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X