Jadi Terdakwa Kasus Pemerkosaan Anak Kandung, Oknum Polisi Tidak Ditahan

Kompas.com - 12/01/2016, 18:50 WIB
Sidang kasus pencabulan terhadap anak kandung di PN Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Terlihat terdakwa anggota Polres Kupang Kota Zeth Andreas Blegur (39) sedang duduk di kursi terdakwa Kompas.com/Sigiranus Marutho BereSidang kasus pencabulan terhadap anak kandung di PN Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Terlihat terdakwa anggota Polres Kupang Kota Zeth Andreas Blegur (39) sedang duduk di kursi terdakwa
|
EditorErvan Hardoko
KUPANG, KOMPAS.com — Bripka Zeth Andreas Blegur (39), anggota Polres Kupang Kota, NTT, yang menjadi terdakwa kasus pemerkosaan terhadap putri kandungnya, sampai saat ini belum ditahan.

Perlakuan terhadap Zeth yang diistimewakan itu membuat istrinya, Natalia Da Rosa (36), kecewa dan meminta pengadilan agar segera menahan pria itu.

Menurut Natalia, seharusnya pengadilan merespons kasus ini dengan memerintahkan penahanan Zeth. Terlebih lagi, Zeth menjadi terdakwa kasus pelecehan seks anak di bawah umur.

“Kenapa dia (Zeth) harus diperlakukan istimewa? Sebentar saya akan bertemu dengan pihak pengadilan untuk segera menahan dia,” kata Natalia kepada Kompas.com, PN Kelas I Kupang, Selasa (12/1/2016).

Natalia berharap kasus yang menimpa anaknya itu diproses sampai tuntas dan Zeth diberi hukuman seberat-beratnya.

Terkait masalah ini, juru bicara Pengadilan Negeri Klas I A Kupang, Jimmy Tanjung Utama, kepada sejumlah wartawan mengatakan, terdakwa tidak ditahan karena berbagai pertimbangan dari majelis hakim yang menyidangkan perkara itu.

Menurut Tanjung, keputusan untuk menahan seorang terdakwa merupakan wewenang hakim.

Jika hakim melihat ada kemungkinan terdakwa melarikan diri atau mengancam keselamatan saksi maka penahanan sangat dimungkinkan.

“Terdakwa (Zeth) sebelumnya divonis penjara selama enam bulan sejak 23 Juni 2015 karena menganiaya istrinya (kekerasan dalam rumah tangga). Terdakwa keluar penjara awal Januari ini," kata Jimmy.

"Pada Desember 2015 lalu berkas perkara pencabulan ini dilimpahkan ke pengadilan saat terdakwa masih menjalani hukuman, dan untuk penahanan terhadap terdakwa dalam kasus pencabulan semuanya tergantung majelis hakim,” kata Jimmy.

Sidang kedua kasus ini berlangsung pada Selasa siang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. Proses sidang berlangsung tertutup sehingga pengunjung dan wartawan harus puas menonton di luar sidang melalui jendela kaca depan.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X