Sleman Stop Pembangunan Apartemen

Kompas.com - 16/12/2015, 08:38 WIB
Properti masih menjadi favorit orang Indonesia di antara semua instrumen investasi. ThinkstockProperti masih menjadi favorit orang Indonesia di antara semua instrumen investasi.
EditorCaroline Damanik
SLEMAN, KOMPAS — Sesudah mendengar masukan dari berbagai pihak, Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, memutuskan menghentikan sementara pembangunan hotel, apartemen, dan kondotel hingga Desember 2021.

Penghentian dilakukan untuk mengantisipasi dampak negatif maraknya pendirian bangunan-bangunan komersial itu selama beberapa tahun terakhir di Sleman.

"Kebijakan ini kami keluarkan setelah adanya kajian tentang dampak pembangunan hotel, apartemen, dan kondotel. Jadi, kebijakan penghentian sementara ini tidak begitu saja muncul," ujar Penjabat Bupati Sleman Gatot Saptadi dalam temu media, Senin (14/12), di Sleman.

Kebijakan moratorium tersebut diatur dalam Peraturan Bupati (Perbup) Sleman Nomor 63 Tahun 2015 tentang Penghentian Sementara Pendirian Hotel, Apartemen, dan Kondotel di Wilayah Kabupaten Sleman.

Dalam Perbup yang ditandatangani Gatot pada 23 November 2015 itu disebutkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman tidak menerbitkan izin baru terhadap permohonan pendirian hotel berbintang, apartemen, dan kondotel sejak peraturan itu terbit hingga 31 Desember 2021.

Perbup itu juga menyatakan, Pemkab Sleman tidak menerbitkan izin baru terhadap permohonan pendirian hotel nonbintang di wilayah Kecamatan Turi, Pakem, dan Cangkringan. Artinya, selain di kecamatan yang merupakan daerah resapan air itu, pendirian hotel nonbintang masih bisa dilakukan di Sleman.

Gatot menjelaskan, kebijakan moratorium itu diterbitkan antara lain berdasarkan kajian ilmiah yang dilakukan Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada. Kajian yang dilakukan pada 2014 itu menyoroti dampak pembangunan hotel, apartemen, dan kondotel di Sleman.

"Selain kajian itu, kondisi sosial di masyarakat Sleman juga kami pertimbangkan," ujarnya.

Selama beberapa tahun terakhir, memang muncul aksi penolakan masyarakat terhadap pembangunan sejumlah apartemen di Sleman.

Berdasarkan catatan Kompas, sedikitnya ada empat apartemen di Sleman yang mendapat penolakan dari warga sekitar. Penolakan muncul karena masyarakat khawatir keberadaan apartemen akan berdampak negatif, misalnya mengurangi ketersediaan air tanah di lingkungan mereka dan menyebabkan kemacetan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Buntut Konflik Tanah: Polisi dan Istri Disandera, Rumah Rohaniawan Dirusak, 7 Orang Ditangkap

Buntut Konflik Tanah: Polisi dan Istri Disandera, Rumah Rohaniawan Dirusak, 7 Orang Ditangkap

Regional
Derita Nenek Theresia, Tinggal di Gubuk Bekas Toilet Warga Tanpa Listrik

Derita Nenek Theresia, Tinggal di Gubuk Bekas Toilet Warga Tanpa Listrik

Regional
Ketika Trayek Angkot di Tasikmalaya Jadi Istilah Transaksi Narkoba

Ketika Trayek Angkot di Tasikmalaya Jadi Istilah Transaksi Narkoba

Regional
Jenazah Tersangka Teroris Abu Alfat Dimakamkan di Medan, Sang Ibu Tak Sanggup Turun dari Mobil

Jenazah Tersangka Teroris Abu Alfat Dimakamkan di Medan, Sang Ibu Tak Sanggup Turun dari Mobil

Regional
Pabrik Sepatu Hengkang ke Jateng, Penganggurann Berpotensi Naik hingga Gubernur Banten Janjikan Investasi Baru

Pabrik Sepatu Hengkang ke Jateng, Penganggurann Berpotensi Naik hingga Gubernur Banten Janjikan Investasi Baru

Regional
Franz Magnis Suseno: Negara Harus Intoleran terhadap Intoleransi

Franz Magnis Suseno: Negara Harus Intoleran terhadap Intoleransi

Regional
Fakta Sidang Suap Bupati Muara Enim: Minta Mobil Lexus, Wakil Bupati dan 22 Anggota DPRD Ikut Terlibat

Fakta Sidang Suap Bupati Muara Enim: Minta Mobil Lexus, Wakil Bupati dan 22 Anggota DPRD Ikut Terlibat

Regional
[POPULER NUSANTARA] Cerita di Balik Perjuangan Hidup Dewi | 10 Pabrik Sepatu Pilih Hengkang ke Jateng

[POPULER NUSANTARA] Cerita di Balik Perjuangan Hidup Dewi | 10 Pabrik Sepatu Pilih Hengkang ke Jateng

Regional
Korban Robohnya Aula SMKN 1 Miri Dapat Bantuan Pengobatan dari Pemkab Sragen

Korban Robohnya Aula SMKN 1 Miri Dapat Bantuan Pengobatan dari Pemkab Sragen

Regional
Waspada, 'The Silent Killer' Penurunan Muka Tanah Ancam Wilayah Semarang

Waspada, "The Silent Killer" Penurunan Muka Tanah Ancam Wilayah Semarang

Regional
Fakta Pria 70 Tahun Ditemukan Tewas di Balikpapan, Diduga Korban Pembunuhan hingga Masih Diselidiki

Fakta Pria 70 Tahun Ditemukan Tewas di Balikpapan, Diduga Korban Pembunuhan hingga Masih Diselidiki

Regional
Batal Jadi Pembicara di Seminar Sesko TNI, Menhan Prabowo Rapat Terbatas dengan Presiden

Batal Jadi Pembicara di Seminar Sesko TNI, Menhan Prabowo Rapat Terbatas dengan Presiden

Regional
Dituding Rugikan Mitra Individu, Grab dan PT TPI Jalani Sidang di KPPU Medan

Dituding Rugikan Mitra Individu, Grab dan PT TPI Jalani Sidang di KPPU Medan

Regional
Ini Reaksi Umar Patek Saat Istrinya Resmi Jadi WNI, Tanda Cinta 'Saranghae' hingga 2,5 Tahun Menunggu

Ini Reaksi Umar Patek Saat Istrinya Resmi Jadi WNI, Tanda Cinta "Saranghae" hingga 2,5 Tahun Menunggu

Regional
Akhir Perjalanan SN, Pelaku Pelemparan Sperma dan Begal Payudara di Tasikmalaya

Akhir Perjalanan SN, Pelaku Pelemparan Sperma dan Begal Payudara di Tasikmalaya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X