Kompas.com - 30/10/2015, 12:17 WIB
Seorang warga negara asing sedang memotret proses peracikan kopi Gayo di salah satu Coffee Shop di Takengon, Aceh Tengah.
KOMPAS.com/ IWAN BAHAGIASeorang warga negara asing sedang memotret proses peracikan kopi Gayo di salah satu Coffee Shop di Takengon, Aceh Tengah.
|
EditorGlori K. Wadrianto
TAKENGON, KOMPAS.com - Dataran tinggi Tanah Gayo meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues di Provinsi Aceh, adalah penghasil kopi arabika terbesar di Asia Tenggara. Mirisnya, hingga saat ini belum ada balai penelitian kopi di sana.

"Pemerintah di tiga kabupaten penghasil kopi ini tidak punya visi dan misi yang jelas terhadap kopi Gayo," kata pengamat kopi Gayo Win Ruhdi Bathin di Takengon, Jum'at (30/10/2015).

"Coba kita lihat Pemerintah Daerah Jember yang terlebih dahulu memiliki balai penelitian kopi, sehingga menjadi pusat penelitian kopi di Indonesia," kata dia.

"Akibat kita tidak memiliki pusat penelitian kopi, petani di daerah ini lebih memilih mengambil bibit kopi dari berbagai orang, tanpa kejelasan genetik. Sehingga, hasilnya tidak seperti yang diharapkan," ujar Ruhdi.

Menurut dia, sebagai penghasil kopi di Asia Tenggara, salah satu dari tiga kabupaten tersebut seharusnya sejak lama menjadi pusat penelitian kopi di Indonesia.

"Kopi arabika sudah ada di Gayo sejak tahun 1908, kenapa kita tidak punya balai penelitian kopi, inilah kenapa saya katakan Pemerintah Daerah tidak punya visi misi yang jelas terhadap kopi," lanjut Ruhdi.

Kopi Gayo, kata Ruhdi, dikenal sebagai kopi spesial dan organik yang sangat disukai rasa dan aromanya, karena memiliki ciri khas tersendiri yang disukai konsumen dunia.

"Namun sayangnya, kita masih menjual kopi dalam bentuk mentah atau green been ke berbagai pasar di luar negeri," kata dia.

"Ke depan kita berharap, Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Provinsi Aceh mulai menjual kopi Gayo dalam bentuk setengah jadi atau roasted been, sehingga margin keuntungan lebih tinggi akan diperoleh petani lokal," paparnya.

Selama ini, margin keuntungan yang besar justru menjadi milik pengusaha dari luar negeri.

"Prospek kopi Gayo semakin cerah di masa depan, karena tren minum kopi kopi di dunia semakin meningkat. Sementara tidak semua kawasan di dunia bisa ditanami kopi, inilah kenapa peluang kopi Gayo semakin baik. Pemerintah Daerah harus mampu melihat peluang ini," kata Ruhdi.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Turunkan Angka Kemiskinan di Jateng, Ganjar Targetkan Pembangunan 100.000 RSLH

Turunkan Angka Kemiskinan di Jateng, Ganjar Targetkan Pembangunan 100.000 RSLH

Regional
8 Peristiwa Viral karena Gunakan Google Maps, dari Sekeluarga Tersesat di Hutan hingga Truk Masuk Jurang

8 Peristiwa Viral karena Gunakan Google Maps, dari Sekeluarga Tersesat di Hutan hingga Truk Masuk Jurang

Regional
Semangati Pengusaha Jasa Dekorasi, Wagub Jatim: Jangan Pernah Kendur dan Pesimis

Semangati Pengusaha Jasa Dekorasi, Wagub Jatim: Jangan Pernah Kendur dan Pesimis

Regional
Kepada Kepala Daerah di Jatim, Wagub Emil: Mari Kita Pastikan Tidak Ada Pungutan Liar di SMA/SMK

Kepada Kepala Daerah di Jatim, Wagub Emil: Mari Kita Pastikan Tidak Ada Pungutan Liar di SMA/SMK

Regional
Kisah Warga Desa Pana di NTT Alami Krisis Air Bersih, Kini Teraliri Harapan Pun Bersemi

Kisah Warga Desa Pana di NTT Alami Krisis Air Bersih, Kini Teraliri Harapan Pun Bersemi

Regional
DMC Dompet Dhuafa Gelar Aksi Bersih-bersih Rumah Warga Terdampak Gempa Banten

DMC Dompet Dhuafa Gelar Aksi Bersih-bersih Rumah Warga Terdampak Gempa Banten

Regional
Tanggapan Tim Ahli LPPM ULM, Usai Uji Coba Raperda Jalan Khusus DPRD Tanah Bumbu

Tanggapan Tim Ahli LPPM ULM, Usai Uji Coba Raperda Jalan Khusus DPRD Tanah Bumbu

Regional
BPS Catat Penurunan Angka Penduduk Miskin Jateng hingga 175.740 Orang

BPS Catat Penurunan Angka Penduduk Miskin Jateng hingga 175.740 Orang

Regional
Berdayakan Masyarakat Jateng, Ganjar Dapat Penghargaan dari Baznas

Berdayakan Masyarakat Jateng, Ganjar Dapat Penghargaan dari Baznas

Regional
Ada Kasus Omricon di Kabupaten Malang, Wagub Emil Pastikan Terapkan PPKM Mikro Tingkat RT

Ada Kasus Omricon di Kabupaten Malang, Wagub Emil Pastikan Terapkan PPKM Mikro Tingkat RT

Regional
Zakat ASN Pemprov Jateng 2021 Terkumpul Rp 57 Miliar, Berikut Rincian Penyalurannya

Zakat ASN Pemprov Jateng 2021 Terkumpul Rp 57 Miliar, Berikut Rincian Penyalurannya

Regional
Berencana Kembalikan Bantuan dari Ganjar, Fajar Malah Di-'bully' Warganet

Berencana Kembalikan Bantuan dari Ganjar, Fajar Malah Di-"bully" Warganet

Regional
Cegah Omicron di Jateng, Ganjar: Tolong Prokes Dijaga Ketat

Cegah Omicron di Jateng, Ganjar: Tolong Prokes Dijaga Ketat

Regional
Sambut Tahun Baru, Dompet Dhuafa Gelar Doa Bersama di Lapas Narkotika Gunung Sindur

Sambut Tahun Baru, Dompet Dhuafa Gelar Doa Bersama di Lapas Narkotika Gunung Sindur

Regional
Bantuan Tunai Kurang Efektif Entaskan Kemiskinan, Pemprov Jateng Genjot Pembangunan RSLH

Bantuan Tunai Kurang Efektif Entaskan Kemiskinan, Pemprov Jateng Genjot Pembangunan RSLH

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.