Usai Heboh Perayaan Pernikahan Gay, Gubernur Bali Akan Tertibkan "Wedding Organizer"

Kompas.com - 18/09/2015, 19:50 WIB
Gubernur Bali Made Mangku Pastika KOMPAS. com/SRI LESTARIGubernur Bali Made Mangku Pastika
|
EditorErvan Hardoko

DENPASAR, KOMPAS.com — Gubernur Bali Made Mangku Pastika berencana untuk menertibkan wedding organizer (WO) di Bali seusai kehebohan yang diakibatkan sebuah perayaan pernikahan gay di salah satu hotel di Ubud, Gianyar, Bali, pada Sabtu (12/9/2015).

Kabar menghebohkan ini semula diduga adalah pelaksanaan prosesi pernikahan. Namun, setelah diselidiki, ternyata hanya sebuah perayaan pernikahan pasangan ini di Amerika Serikat.

"Menurut saya, ini harus ditertibkan, terutama bagi WO-nya. Suasana Bali boleh saja (untuk latar perayaan), tapi jangan bawa-bawa agama. Kalau suasana Bali, ada gamelan, ada tarian, okelah, tapi jangan dong ada yang menyangkut kepercayaan kita," kata Pastika di Denpasar, Jumat (18/9/2015).

Mantan Kapolda Bali ini juga mengingatkan agar event organizer (EO) dan wedding organizer (WO) harus memahami batasan yang diperbolehkan dan dilarang. Para pemilik hotel juga harus memilah kegiatan yang bisa dilakukan di hotel mereka demi menjamin keamanan, kenyamanan, dan suasana kondusif di sebuah daerah.

"EO-nya harus tahu, WO-nya harus tahu, juga pihak hotel. Kalau sekadar perayaan, jangan pakai pemangku (pemimpin ritual agama Hindu). Jangan pakai banten (sesaji untuk ritual yang disakralkan). Apalagi penyelenggaranya orang Bali (Hindu), pastinya tahu dong, jadi sangat saya sayangkan yang di Ubud ini (perayaan pernikahan gay)," tegas Pastika.

Seperti diberitakan sebelumnya, pernikahan pasangan gay ini ramai diperbincangkan di media sosial, terutama setelah sejumlah foto yang diunggah memperlihatkan sosok pemangku dan dua gadis berpakaian khas Bali.

Ternyata dalam acara itu juga dilakukan ritual melukat atau bersih diri yang disertai dengan banten (sesaji) dan dilakukan dengan menggunakan ritual Hindu yang sangat disakralkan. Hal inilah yang membuat kemarahan banyak pihak karena dinilai melanggar etika agama dan adat istiadat. Saat ini kasus tersebut masih ditangani Polda Bali.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X