Debit Air Menurun, Tiga Turbin PLTA Saguling Mati

Kompas.com - 10/09/2015, 13:35 WIB
Warga melihat formasi tebing dan gua alam di kawasan Sungai Citarum yang tidak tercemar dekat Bendungan Saguling, 22 Maret 2015. AFP PHOTO / ROMEO GACADWarga melihat formasi tebing dan gua alam di kawasan Sungai Citarum yang tidak tercemar dekat Bendungan Saguling, 22 Maret 2015.
|
EditorCaroline Damanik
BANDUNG, KOMPAS.com - Musim kemarau berkepanjangan membuat operasionalisasi waduk Saguling terganggu. Penurunan debit air yang cukup drastis memaksa pihak PT Indonesia Power, selaku pengelola waduk Saguling, hanya mengoperasikan satu dari empat turbin yang ada.

Supervisor Senior Geotheknik dan Hidrologi Waduk PT Indonesia Powe Dani Jamaludin mengatakan, sejak kemarau ada penurunan debit air waduk yang cukup signifikan.

"Saat ini elevasi air waduk berada dititik 623. Biasanya suplai air untuk turbin itu dielevasi 626. Kalau di bawah 623, turbin bisa mati semua," kata Dani di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (10/9/2015).

Ahli Muda Pengelolaan Lahan dan Lingkungan PT Indonesia Power Amin Alimin memastikan bahwa penurunan debit tak mengganggu suplai listrik untuk pulau Jawa dan Bali.


"Suplai (listrik) kan bisa dari pembangkit lain seperti PLTU Kamojang, Suralaya dan lainnya karena sudah interkoneksi jadi tidak hanya mengandalkan Saguling saja, ada unit lain yang mengcover," jelasnya.

Dia menjelaskan, penyusutan debit air juga disebabkan tingginya populasi gulma atau eceng gondok di sepanjang Sungai Citarum.

"Eceng gondok itu cepat menyerap air. Mereka berkembang pesat ketika Sungai Citarum penuh dengan kotoran atau limbah," ujar Ali.

Tak hanya itu, buruknya kualitas air sungai, menurut Ali, sangat berbahaya bagi kelangsungan operasional waduk. Sifat air sungai yang terkontaminasi bersifat korosit dan mengancam sejumlah alat pembangkit listrik.

"Pengaruhnya akan mengganggu umur manfaat dari turbin kami, kandungan kimianya yang tinggi bisa membuat peralatan kita bolong," ungkapnya.

Menurut Ali, musim kemarau tahun ini cenderung lebih panjang dari tahun sebelumnya. Dengan kondisi seperti itu, pihaknya pun menyiapkan strategi agar pasokan listrik tetap terjaga.

"Kami tetap jaga sistem pola pembangkitan. Artinya, kami jaga juga sistem pembuangan air buat top load antara pukul 17.00 - 21.00 WIB. Bila perlu siang berhenti mengumpulkan air untuk sore hari," tutupnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X