Kompas.com - 31/08/2015, 19:30 WIB
Salah satu warisan budaya Kota Tua Sawahlunto yaitu songket silungkang dipamerkan dalam "Sawahlunto Kreatif" di Museum Tekstil Jakarta, Selasa (17/4/2013). Pameran ini akan berlangsung hingga 26 April mendatang
KOMPAS/RADITYA HELABUMISalah satu warisan budaya Kota Tua Sawahlunto yaitu songket silungkang dipamerkan dalam "Sawahlunto Kreatif" di Museum Tekstil Jakarta, Selasa (17/4/2013). Pameran ini akan berlangsung hingga 26 April mendatang
EditorCaroline Damanik
PALEMBANG, KOMPAS — Bahan baku tenun songket yang naik seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat membuat keuntungan perajin tenun songket di Sumatera Selatan turun. Kondisi ini memaksa perajin kecil memilih mengurangi menenun dan beralih ke pekerjaan lain.

Al Hijriah (45), Ketua Kelompok Usaha Perajin Songket (KUPS) di kawasan Sungki, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), mengatakan, saat ini harga bahan baku songket Palembang naik menjadi Rp 500.000 dari enam bulan lalu yang hanya Rp 340.000.

Bahan baku ini terdiri dari benang dan pernak-pernik pelengkap untuk membuat satu setel kain songket. Perajin yang tergabung di KUPS biasa mengambil bahan ini di pedagang songket di Pasar 16 Ilir untuk dikerjakan di rumah. "Upah kami nanti dipotong dari harga begitu menyerahkan yang sudah jadi," kata Al Hijrah di Palembang, Minggu (30/8).

Akibat kenaikan harga bahan, keuntungan perajin pun turun drastis. Setahun lalu, keuntungan perajin dari satu setel songket mencapai Rp 750.000. Sekitar enam bulan, keuntungan turun menjadi sekitar Rp 500.000. Kini, turun lagi menjadi sekitar Rp 250.000. Padahal, untuk menyelesaikan satu setel kain songket butuh waktu satu bulan.

Di kawasan Sungki, tenun songket dikerjakan ibu-ibu di rumah masing-masing. Awalnya, KUPS punya 65 anggota. Akibat keuntungan yang terus turun, sebagian anggotanya memutuskan berhenti menenun. Saat ini, hanya tersisa 30 perajin.

"Saat ini, mereka hanya setor songket dua bulan sekali. Bahkan, ada yang sampai empat bulan sekali. Saya sendiri juga hanya menenun kalau tak ada kerjaan. Kalau ada kerjaan lain saya memilih kerja itu," ujar Al Hijriah.

Berbeda dengan perajin kecil, pengusaha besar songket Palembang mengimbangi kenaikan harga bahan baku dengan meningkatkan keuntungan dari ekspor. Kendati penjualan dalam negeri menurun dan harga bahan baku naik, keuntungan pengusaha songket dari penjualan di luar negeri masih tertolong.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pemilik gerai songket Pesona Bari Songket, Eka Rachman, mengatakan, penjualan ke Inggris, Malaysia, dan Brunei masih dapat menolong turunnya keuntungan dari penjualan dalam negeri. "Pasar luar tak terdampak. Menguatnya dollar AS ini membuat harga songket yang dijual ke luar naik," ujarnya.

Tidak terdampak

Pengusaha songket di Sumatera Barat justru mengaku tak terdampak atas melemahnya rupiah. Para pengusaha kain songket yang ditemui di Sawahlunto International Songket Carnival (Sisca) 2015, di Sawahlunto, 28-29 Agustus, mengaku masih bisa meraup keuntungan tanpa harus menurunkan kualitas produk.

Yusnidar (46) dari Dolas Songket asal Desa Lunto Timur, Sawahlunto, mengatakan, ia dan pengusaha tenun songket lainnya belum merasakan dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Sejauh ini, pesanan masih tinggi.

"Dibanding sebulan lalu, penjualan malah meningkat sampai 50 persen. Pesanan dari kabupaten kota di Sumatera Barat terus berdatangan. Perajin malah keteteran memenuhi pesanan baik sarung maupun baju. Kalau dihitung, jika sebulan lalu pesanan hanya 30 potong, sekarang sampai 50 potong," kata Yusnidar.

Anita Dona Asri (29) yang juga dari Dolas Songket mengatakan mereka belum menaikkan harga. Hal itu karena harga bahan baku, seperti benang, masih stabil. Rata-rata, sarung masih dijual Rp 400.000 per helai dan baju Rp 300.000 per potong. Sementara harga kain tenun dengan pewarna alam lebih tinggi, yakni sekitar Rp 1.200.000 per helai.

Menurut Dona, inisiasi kegiatan-kegiatan yang mampu mendorong sektor usaha kecil-menengah tetap bergairah terus digalakkan oleh pemerintah. Pada karnaval yang menjadi rangkaian Sisca 2015 kemarin, Sawahlunto berhasil memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia untuk pengguna kain tenun songket terbanyak yang mencapai 17.920 orang. (IRE/ZAK)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

 Dorong Perputaran Ekonomi, Kang Emil Targetkan Seluruh Desa Miliki BUMDes pada 2023

Dorong Perputaran Ekonomi, Kang Emil Targetkan Seluruh Desa Miliki BUMDes pada 2023

Regional
Luncurkan Kredit Tanpa Agunan untuk Ibu-ibu Pedagang, Ganjar: Bunga Hanya 2 Persen Per Tahun

Luncurkan Kredit Tanpa Agunan untuk Ibu-ibu Pedagang, Ganjar: Bunga Hanya 2 Persen Per Tahun

Regional
Dikunjungi Gus Halim, Ketua Adat Tidung Minta Salimbatu Dijadikan Desa Religi

Dikunjungi Gus Halim, Ketua Adat Tidung Minta Salimbatu Dijadikan Desa Religi

Regional
Cegah Jual Beli Jabatan, Bupati Wonogiri Optimalkan Penerapan Sistem Meritokrasi

Cegah Jual Beli Jabatan, Bupati Wonogiri Optimalkan Penerapan Sistem Meritokrasi

Regional
Walkot Bobby Ajak HMI Sumut Berkolaborasi Dukung Program Pembangunan

Walkot Bobby Ajak HMI Sumut Berkolaborasi Dukung Program Pembangunan

Regional
Panen Raya, Pimpinan DPRD Kota Bogor Turun ke Sawah Bersama Petani

Panen Raya, Pimpinan DPRD Kota Bogor Turun ke Sawah Bersama Petani

Regional
Wonogiri Juara Satu IDSD, Bupati Jekek: Berkat Semangat Reformasi Pemangku Kepentingan

Wonogiri Juara Satu IDSD, Bupati Jekek: Berkat Semangat Reformasi Pemangku Kepentingan

Regional
Tunjukkan Kinerja Baik Bangun Kota Semarang, Walkot Hendi Dapat Penghargaan Pembangunan Daerah 2021

Tunjukkan Kinerja Baik Bangun Kota Semarang, Walkot Hendi Dapat Penghargaan Pembangunan Daerah 2021

Regional
Jabar Kerja Sama dengan Provinsi Chungcheongnam, Korsel, Kang Emil: Semoga Dongkrak Potensi Ekonomi

Jabar Kerja Sama dengan Provinsi Chungcheongnam, Korsel, Kang Emil: Semoga Dongkrak Potensi Ekonomi

Regional
Bupati Banjar Akui PAD Berkurang akibat UU Minerba

Bupati Banjar Akui PAD Berkurang akibat UU Minerba

Regional
Bobby Buka Balai Kota Medan untuk Warga, Dosen UINSU Berikan Apresiasi

Bobby Buka Balai Kota Medan untuk Warga, Dosen UINSU Berikan Apresiasi

Regional
Memahami Gaya Komunikasi 'Parkir Mobil' ala Gibran

Memahami Gaya Komunikasi "Parkir Mobil" ala Gibran

Regional
Tunjukkan Prestasi dalam Penanganan Pandemi, Kang Emil Raih 2 Penghargaan People of the Year 2021

Tunjukkan Prestasi dalam Penanganan Pandemi, Kang Emil Raih 2 Penghargaan People of the Year 2021

Regional
Berkat Ganjar, Gaji Guru Honorer yang Dahulu Rp 200.000 Kini Rp 2,3 Juta

Berkat Ganjar, Gaji Guru Honorer yang Dahulu Rp 200.000 Kini Rp 2,3 Juta

Regional
Dukung UMKM Jabar, Kang Emil Ikut Mendesain dan Pasarkan Produk di Medsos

Dukung UMKM Jabar, Kang Emil Ikut Mendesain dan Pasarkan Produk di Medsos

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.