15.000 Pasang Sandal Sitaan Hilang, Propam Diminta Turun Tangan

Kompas.com - 27/08/2015, 13:20 WIB
Ilustrasi KOMPASIlustrasi
|
EditorCaroline Damanik
MAKASSAR, KOMPAS.com - Propam Mabes Polri dan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) diminta segera periksa aparat polisi di Polrestabes Makassar menyusul hilangnya barang sitaan dan ditutupnya kasus penipuan dan penggelapan.

Koordinator Pekerja Anti Corrupption Committee (ACC) Kadir Wakanobun mengatakan, hilangnya 15.000 pasang sandal sitaan itu mencerminkan bahwa kepolisian tidak profesional. Apalagi kasus yang dilaporkan masyarakat sewenang-wenang dihentikan, padahal sudah ada tersangka yang telah ditetapkan.

"Kasus ini memperlihatkan ke masyarakat bahwa polisi tidak profesional dan cenderung abai terhadap barang sitaan, rasa aman untuk barang sitaan tidak bisa terjaga. Apa yang dilakukan oleh korban Wawa kami mendukung 100 persen. Polisi harus bertanggungjawab untuk segera melakukan ganti rugi. Polisi jangan lepas tangan disini kita liat sejauh mana keseriusannya ketika institusinya yang bermasalah. Terkait dengan SP3, baiknya Polrestabes Makassar diperiksa secara internal dan eksternal. Di sinim, polisi juga dituntut harus memberikan penjelasan kepada publik alasan-alasan kenapa harus SP3 kasus itu," katanya, Kamis (27/8/2015).

Sementara itu, salah satu komisioner Kompolnas Hamidah Abdurrahman mengatakan, pihaknya akan meminta penjelasan terlebih dahulu kepada Kapolda Sulselbar. Dia juga meminta Propam segera turun tangan mengusut kasus tersebut hingga tuntas.

"Tentu kami akan minta penjelasan terlebih dulu pada Kapolda Sulselbar. Kalau memang terjadi kehilangan, ini karena kelalaian pihak Polri. Apalagi sudah ada putusan hukum yang mengikat dan sepatutnya pihak kepolisian bertanggung jawab. Kompolnas minta agar Propam melakukan pemeriksaan mendalam terhadap dugaan penghilangan barang bukti ini. Kami akan menunggu lebih dulu jawaban Kapolda terhadap masalah ini sebelum melakukan tindakan," tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, Polrestabes Makassar dan Rumah Penyimpanan Barang Sitaan Negara (Rupbasan) diperintahkan mengganti rugi 15.000 pasang sandal sitaan yang hilang atau sekitar Rp 400 juta. Perintah itu dikeluarkan oleh PN Makassar diperkuat putusan MA berdasarkan gugatan seorang pengusaha, Daryanto Li alias Wawa warga Jl Cendrawasih No 295 B, Makassar.

15.000 pasang sendal itu disita polisi dan dititipkan ke Rupbasan pada tahun 2010 selama proses penyelidikan dan penyidikan laporan Wawa terkait kasus penipuan dan penggelapan. Polisi pun menetapkan Direktur PT KMA, Lie Yuyu sebagai tersangka. Namun entah mengapa, polisi menghentikan kasus itu dan barang sitaan pun hilang.

Wawa lalu menggugat Polrestabes Makassar dan Rupbasan di PN Makassar pada tahun 2012. PN Makassar memutuskan Polrestabes Makassar dan Rupbasan dinyatakan kalah dan mengganti seluruh kerugian penggugat. Putusan PN Makassar itu lalu diperkuat putusan MA pada tahun 2014, setelah kasasi Rupbasan ditolak.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polisi Aceh Perketat Wilayah Laut, Antisipasi TKI dari Malaysia

Polisi Aceh Perketat Wilayah Laut, Antisipasi TKI dari Malaysia

Regional
Masuk ke Kota Padang Wajib Gunakan Masker jika Tak Ingin Kena Denda

Masuk ke Kota Padang Wajib Gunakan Masker jika Tak Ingin Kena Denda

Regional
Kegigihan Napi Perempuan, Produksi Masker di Tengah Wabah Corona

Kegigihan Napi Perempuan, Produksi Masker di Tengah Wabah Corona

Regional
Ditemukan 21 Klaster Penyebaran Virus Corona di Jatim, Pelatihan Petugas Haji Terbesar

Ditemukan 21 Klaster Penyebaran Virus Corona di Jatim, Pelatihan Petugas Haji Terbesar

Regional
Dalam 3 Hari, Tiga PDP di Banjarmasin Meninggal, 2 Orang Positif Covid 19

Dalam 3 Hari, Tiga PDP di Banjarmasin Meninggal, 2 Orang Positif Covid 19

Regional
Sumbangan Berdatangan, Ribuan APD Siap Dibagikan kepada Tim Medis

Sumbangan Berdatangan, Ribuan APD Siap Dibagikan kepada Tim Medis

Regional
Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Halmahera Barat, Maluku Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Halmahera Barat, Maluku Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Regional
Pasien Positif Corona di Riau Bertambah Jadi 11 Orang

Pasien Positif Corona di Riau Bertambah Jadi 11 Orang

Regional
Kisah Haru Tiga Bocah di Makassar Bongkar Celengan untuk Tenaga Medis Beli Masker

Kisah Haru Tiga Bocah di Makassar Bongkar Celengan untuk Tenaga Medis Beli Masker

Regional
Bocah 5 Tahun Tiba-tiba Menghilang Saat Diajak Ibunya Isi Pulsa, Besoknya Ditemukan Tewas di Gorong-gorong

Bocah 5 Tahun Tiba-tiba Menghilang Saat Diajak Ibunya Isi Pulsa, Besoknya Ditemukan Tewas di Gorong-gorong

Regional
Gempa 6,1 M Guncang Maluku Utara, Warga di Sitaro, Sulut, Sempat Keluar Rumah

Gempa 6,1 M Guncang Maluku Utara, Warga di Sitaro, Sulut, Sempat Keluar Rumah

Regional
Cegah Corona, Pemkab Nias Selatan Tutup Akses Masuk Wilayah

Cegah Corona, Pemkab Nias Selatan Tutup Akses Masuk Wilayah

Regional
Tak Bayar Rp 700.000, Penumpang Ojol Ini Hanya Tinggalkan Sandal Jepit, Begini Ceritanya

Tak Bayar Rp 700.000, Penumpang Ojol Ini Hanya Tinggalkan Sandal Jepit, Begini Ceritanya

Regional
2 Desa di Rokan Hulu Dilanda Banjir

2 Desa di Rokan Hulu Dilanda Banjir

Regional
PDP di RSUD Sambas Meninggal, Riwayat Perjalanan Berobat Kanker di Malaysia

PDP di RSUD Sambas Meninggal, Riwayat Perjalanan Berobat Kanker di Malaysia

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X