Kompas.com - 24/08/2015, 19:59 WIB
Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly saat memberikan bantuan alat musik untuk anak-anak penghuni lapas di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) di Jalan Arcamanik, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (5/8/2015). 
KOMPAS.com/Rio KuswandiMenteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly saat memberikan bantuan alat musik untuk anak-anak penghuni lapas di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) di Jalan Arcamanik, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (5/8/2015).
|
EditorFarid Assifa
MEDAN, KOMPAS.com - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Klas I Tanjung Gusta, Medan, resmi berubah nama menjadi Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Klas I Tanjung Gusta. Atas perubahan tersebut, 105 orang sudah dipindahkan ke tiga lembaga pemasyarakatan.

Kepala LPKA Klas I Tanjung Gusta Windi Warto kepada wartawan mengatakan, perubahan nama tersebut sudah ditetapkan pada 5 Agustus lalu.

"Sudah di instruksikan Menkumham untuk mengubah namanya dan diselenggarakan secara nasional," kata Windi, Senin (24/8/2015).

Menurut dia, ada perbedaan antara lapas dan LPKA. Di kapas anak hanya mendapatkan pendidikan nonformal. Sedangkan di LPKA, harus ada pendidikan formal seperti SD ataupun SMP Negeri. Harapannya mereka dapat melanjutkan sekolah meskipun sedang menjalani hukuman pidana agar tak tertinggal.

"Kita targetkan akhir tahun ini sudah bisa berjalan. Kita barusan disurvei pihak Diknas pusat menanyakan kendala implementasi pendidikan formal di dalam. Kita masih kekurangan tenaga pengajar untuk di dalam," katanya.

Perbedaan lainnya, kata dia, LPKA merupakakan impementasi UU RI Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak yang sebelum ada UU tersebut anak disatukan dengan orang dewasa.

"Setelah ada UU itu, di atas 18 tahun tak boleh disatukan dengan anak," katanya.

Namun karena LPKA secara nasional baru ditetapkan 5 Agustus, menurut dia, tidak bisa serta merta dilakukan. Saat ini, pihaknya baru bisa memindahkan 105 orang ke tiga lapas lain, yakni 30 orang dipindahkan ke Lapas Klas I Tanjung Gusta, 40 orang ke Lapas Tebing Tinggi dan 35 orang ke Lapas Siborong-borong, mereka ini berusia 23 - 28 tahun.

Dari 543 orang penghuni LPKA Klas I Tanjung Gusta, masih ada sekitar 80 - 90 orang yang berusia di atas 18 tahun. Dia mengaku pihaknya kesulitan untuk melakukan pemindahan karena umumnya lapas di Sumut masih over kapasitas.

"Kita mau pindahkan tapi mereka teriak, jangan, jangan pindahkan kami, sudah kepenuhan kami. Di Lapas Klas I kami pindahkan 30. Udah teriak, mintanya 20 aja. Apalagi kalo sampe 100. Di Lapas Klas I sudah ada 2600-an orang. Di Rutan Klas I juga sudah ada 3600-an orang," jelas Windi.

"Paling-paling kita masih bisa pindahkan ke Siborong-borong. Tapi kan terlalu jauh, sedangkan biaya besar untuk memindahkan mereka," lanjut dia.

Menurut Windi, yang masih memungkinkan untuk pemindahan adalah di Lapas Siantar.

"Itu pun mereka bilang ke saya, kalo bapak lemparkan kami 20, kami serahkan 20 anak. Di Lapas Siantar ada 20 anak yang usianya di bawah 18 tahun. Kita akan tukaran," pungkasnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Disnaker Jabar Siap Awasi Pembagian THR oleh Perusahaan

Disnaker Jabar Siap Awasi Pembagian THR oleh Perusahaan

Regional
Terkait Fokus Kelola Anggaran, Bupati Jekek: Sudah Lewat 5 Program

Terkait Fokus Kelola Anggaran, Bupati Jekek: Sudah Lewat 5 Program

Regional
Emil Respons Positif Kerja Sama PT Agro Jabar dengan PT Agro Serang

Emil Respons Positif Kerja Sama PT Agro Jabar dengan PT Agro Serang

Regional
Jabar Jadi Provinsi Terbaik Penerapan PPKM Mikro, Kang Emil: Ini Tanda Kerja Keras Kita Konkret

Jabar Jadi Provinsi Terbaik Penerapan PPKM Mikro, Kang Emil: Ini Tanda Kerja Keras Kita Konkret

Regional
Soal Gerakan Cinta Zakat, Ganjar: Manfaatnya Hebat

Soal Gerakan Cinta Zakat, Ganjar: Manfaatnya Hebat

Regional
Ridwan Kamil: Gerakan Pramuka Harus Tumbuhkan Jiwa Kepemimpinan

Ridwan Kamil: Gerakan Pramuka Harus Tumbuhkan Jiwa Kepemimpinan

Regional
Semarang Jadi Kota Terbaik di PPD Jateng, Hendi: Kita Kawal untuk Realisasi Program

Semarang Jadi Kota Terbaik di PPD Jateng, Hendi: Kita Kawal untuk Realisasi Program

Regional
Wujudkan Masyarakat Maju, Bupati dan Wabup Wonogiri Siapkan 7 Program

Wujudkan Masyarakat Maju, Bupati dan Wabup Wonogiri Siapkan 7 Program

Regional
Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Regional
Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Regional
Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Regional
Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Regional
Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Regional
Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Regional
Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X