"Makanan Lam Prang", Menu Para Pejuang Saat Perang Kemerdekaan

Kompas.com - 31/07/2015, 16:20 WIB
Seorang petugas Musium Aceh sedang menjelaskan tentang makanan tradisional yang menjadi makanan bekal perang di Aceh kepada pengunjung pameran peringatan 100th Musium Aceh, khususnya kepada pelajar. *****K12-11 K12-11Seorang petugas Musium Aceh sedang menjelaskan tentang makanan tradisional yang menjadi makanan bekal perang di Aceh kepada pengunjung pameran peringatan 100th Musium Aceh, khususnya kepada pelajar. *****K12-11
|
EditorCaroline Damanik

BANDA ACEH, KOMPAS.com - Sepintas makanan-makanan ini dikenal sebagai makanan biasa. Ubi rebus, pisang rebus dan sagu kukus ditata apik di atas nampan dari anyaman daun pandan duri.

Sebuah kertas karton yang bertuliskan “makanan lam prang” ada di sampingnya. Tulisan itu berarti makanan-makanan dalam zaman perang.

Seorang perempuan berkerudung hitam mulai membuka tutup nampan lebih lebar dan mempersilakan para pengunjung untuk mencicipi makanan tersebut. Para pengunjung langsung antre dan mulai memilih makanan mana yang ingin dicicipi.

Menu bernama ‘Janeng’ juga dilirik oleh sejumlah pengunjung. Di kalangan masyarakat Aceh, Janeng memang dikenal sebagai penganan untuk bekal bepergian, termasuk bepergian untuk bergerilya alias berperang melawan penjajah belanda saat dilakukan oleh masyarakat Aceh lebih dari seratus tahun lalu.

Janeng adalah jenis umbi-umbian. Pohonnya kecil dan berduri kecil merambat seperti pohon sirih. Daunnya berwarna hijau bila masih muda. Biasanya tumbuh liar di hutan-hutan di bawah pohon yang ukurannya lebih besar dan teduh.


Janeng memiliki umbi buah besar yang menghujam ke bawah tanah. Dalam bahasa latin termasuk dalam anggota marga Amorphopallus campanulatus. Sekarang di Provinsi Aceh, varietas tanaman janeng semakin langka di hutan-hutan.

Pohon Janeng tumbuh di semak-semak belukar, berkembang baik di tempat-tempat yang lembap dan terlindungi dari sinar matahari. Tinggi pohon Janeng lebih dari 1 meter dengan ciri berbatang lunak, berduri kecil, dan berwarna hijau. Akarnya berserabut putih kotor. Buahnya berwarna putih dan berat buahnya bisa mencapai 7-10 kg.

Buah Janeng memiliki nilai gizi yang tinggi, dengan kandungan utama adalah karbohidrat sekitar 70-85 persen. Kandungan lain, seperti serat, vitamin, kalsium, zat besi, dan protein.

“Dulu, pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang, boh janeng atau buah janeng oleh para indatu kita dijadikan sebagai bahan pangan dan bekal yang dibawa ke hutan atau lokasi-lokasi berperang gerilya, dan di gampong (desa) sering juga dijadikan makanan pengganti beras,” ujar Asmah, perempuan berkerudung hitam tersebut, Jumat (31/7/2015).

Janeng dan beberapa makanan perang ini merupakan bagian dari ajang peringatan 100 tahun Museum Aceh yang digelar di Banda Aceh. Makanan yang menjadi makanan langka di mata anak dan remaja serta sebagian orang dewasa yang berkunjung ke Museum Aceh ini bisa dibilang sudah berusia 100 tahun.

Karena tingginya animo pengunjung untuk mencoba ransum perang prajurit Aceh ini, tak sampai dua jam, makanan yang sengaja disajikan secara gratis ini ludes tak bersisa.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kembali ke Rutan Kabanjahe, 167 Warga Binaan dapat Perlengkapan Mandi dan Tidur

Kembali ke Rutan Kabanjahe, 167 Warga Binaan dapat Perlengkapan Mandi dan Tidur

Regional
Warga Gunungkidul yang Tewas Terbakar Setelah Tabrak Kabel yang Menjuntai Hendak ke Pantai

Warga Gunungkidul yang Tewas Terbakar Setelah Tabrak Kabel yang Menjuntai Hendak ke Pantai

Regional
Gibran: Yang Penting Pilkada Solo Dinamis, Meriah, dan Suka Cita

Gibran: Yang Penting Pilkada Solo Dinamis, Meriah, dan Suka Cita

Regional
4 Warga di NTT Tersambar Petir, 2 Orang Tewas Seketika

4 Warga di NTT Tersambar Petir, 2 Orang Tewas Seketika

Regional
Sistem Imigrasi di Bandara Ngurah Rai Bermasalah, Petugas Data Manual

Sistem Imigrasi di Bandara Ngurah Rai Bermasalah, Petugas Data Manual

Regional
Jatuh Cinta pada Cokelat, Priscilla Jual Cokelat Rasa Rendang, Kopi, dan Kelapa

Jatuh Cinta pada Cokelat, Priscilla Jual Cokelat Rasa Rendang, Kopi, dan Kelapa

Regional
Dugaan Penyebab Remaja di Magetan Nekat Curi Motor Milik Ustaz

Dugaan Penyebab Remaja di Magetan Nekat Curi Motor Milik Ustaz

Regional
Kendalikan Inflasi, Pemprov Jabar Siap Bangun Pusat Distribusi Kebutuhan Pokok

Kendalikan Inflasi, Pemprov Jabar Siap Bangun Pusat Distribusi Kebutuhan Pokok

Regional
Diusung PDI-P, Tomy Yakin Menang di Pilkada Bulukumba, Kini Kumpulkan Dukungan Partai Lain

Diusung PDI-P, Tomy Yakin Menang di Pilkada Bulukumba, Kini Kumpulkan Dukungan Partai Lain

Regional
Presiden Jokowi Berpesan kepada Kapolda Maluku yang Baru

Presiden Jokowi Berpesan kepada Kapolda Maluku yang Baru

Regional
Ada Tugas Lain, Rektor Unnes Tak Hadiri Debat dengan Dosen yang Diduga Hina Jokowi

Ada Tugas Lain, Rektor Unnes Tak Hadiri Debat dengan Dosen yang Diduga Hina Jokowi

Regional
Gelar Pilkada, KPU Kabupaten Mojokerto Dibekali Anggaran Rp 52 Miliar

Gelar Pilkada, KPU Kabupaten Mojokerto Dibekali Anggaran Rp 52 Miliar

Regional
Kejati Babel Telusuri Kredit BRI Rp 39 Miliar yang Diduga Bermasalah

Kejati Babel Telusuri Kredit BRI Rp 39 Miliar yang Diduga Bermasalah

Regional
Perampokan dan Penyekapan di Toko Tesktil di Prabumulih Ternyata Rekayasa ART

Perampokan dan Penyekapan di Toko Tesktil di Prabumulih Ternyata Rekayasa ART

Regional
Senjata TNI Korban Helikopter MI-17 Belum Ditemukan, Polda Papua Minta Masyarakat Tak Sepelekan Imbauan

Senjata TNI Korban Helikopter MI-17 Belum Ditemukan, Polda Papua Minta Masyarakat Tak Sepelekan Imbauan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X