Sampah Jadi Makanan Pokok Sapi di Kecamatan Alak

Kompas.com - 18/07/2015, 18:16 WIB
Puluhan ternak sapi milik warga tengah asyik melahap tumpukan berbagai jenis sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur Kompas.com/Sigiranus Marutho BerePuluhan ternak sapi milik warga tengah asyik melahap tumpukan berbagai jenis sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur
|
EditorGlori K. Wadrianto
KUPANG, KOMPAS.com - Kebiasaan kawanan ternak sapi di wilayah Kecamatan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mungkin berbeda dengan di tempat lainnya. Bagaimana tidak? Makanan pokok ternak ini adalah tumpukan sampah yang berada di tempat pembuangan akhir (TPA).

Semua jenis sampah seperti plastik, kardus, bekas minuman gelas plastik dan berbagai sampah lainnya pun dilahap sampai habis. Kebiaasan yang aneh itu sudah dianggap hal yang lumrah bagi pemilik sapi maupun para pemulung yang setiap hari saling berbaur untuk mencari sampah.

Dua pemulung yang mendirikan kemah di sekitar TPA Alak, Yeremias Lenggu (70) dan Demus Manafe (56) ketika ditemui Kompas.com, Sabtu (18/7/2015) mengaku, kawanan sapi itu milik sejumlah warga di Kampung Lama dan Batu Kapur, Kelurahan Manulai II.

Menurut Yeremias, kawanan sapi itu sudah sejak lama makan sampah. ”Awalnya hanya satu sampai dua ekor sapi saja yang makan sampah. Tapi akhir-akhir ini mulai bertambah banyak hingga puluhan ekor. Bukan hanya sapi saja, tetapi ada kambing dan babi, tetapi kelihatan sapi yang lebih monopoli,” kata Yeremias yang sudah bekerja sebagai pemulung sejak 1992.

Yeremias mengatakan, sejak pagi hari sekitar pukul 09.00 Wita, saat mobil pengangkut sampah menurunkan material sampah, dia dan puluhan pemulung lain langsung menyerbu ke arah tumpukan sampah, bersama kawanan sapi yang jumlahnya lebih banyak dari pemulung.

"Kalau kita terlambat, semua sampah yang bagus dan bernilai dimakan habis oleh sapi,” kata Yeremias.

Akibat tak tertarik makan rumput dan terbiasa makan sampah sambung Demus Manafe, sapi hanya mengeluarkan air pada waktu buang air besar. “Puncaknya pada Bulan November sampai Desember 2014 lalu, sekitar 25 ekor sapi mati secara mendadak karena kita duga mereka (sapi) sembarang makan sampah seperti, paku, pecahan botol hingga obat nyamuk. Selain itu, selama empat bulan, yakni September sampai Desember 2014, truk pengakut sampah tidak buang sampah di TPA ini,” kata Demus.

Bahkan, lanjut Demus, yang terbaru pada Bulan Mei 2015, masih ada beberapa ekor sapi yang mati meskipun mobil pengangkut sampah telah beroperasi kembali di TPA itu. Namun begitu, para pemilik sapi tetap saja membiarkan hewan peliharaan mereka mengonsumsi sampah. Sebab, menurut Demus, sudah tidak ada lagi pilihan lain untuk pakan ternak.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gelar Rapid Test dan Swab Massal, Hasilnya 127 Warga Surabaya Reaktif, 8 Positif

Gelar Rapid Test dan Swab Massal, Hasilnya 127 Warga Surabaya Reaktif, 8 Positif

Regional
Gara-gara Pakai APD, Petugas Medis yang Jemput PDP Kabur Nyaris Diamuk Warga

Gara-gara Pakai APD, Petugas Medis yang Jemput PDP Kabur Nyaris Diamuk Warga

Regional
Nekat Curi Gabah Tetangga untuk Bermain Game Online, Pria Ini Babak Belur dan Terancam Hukuman 7 Tahun Penjara

Nekat Curi Gabah Tetangga untuk Bermain Game Online, Pria Ini Babak Belur dan Terancam Hukuman 7 Tahun Penjara

Regional
Petugas Ber-APD Dibentak, Diusir, dan Hampir Diamuk Warga Saat Evakuasi PDP yang Kabur

Petugas Ber-APD Dibentak, Diusir, dan Hampir Diamuk Warga Saat Evakuasi PDP yang Kabur

Regional
Akhirnya, Mobil PCR yang Membuat Risma Mengamuk, Tiba di Surabaya

Akhirnya, Mobil PCR yang Membuat Risma Mengamuk, Tiba di Surabaya

Regional
Singgung Soal Riwayat Pendidikan Jokowi di Media Sosial, Pria Ini Diamankan Polisi

Singgung Soal Riwayat Pendidikan Jokowi di Media Sosial, Pria Ini Diamankan Polisi

Regional
Dramatis, Polisi Ketakutan Saat Dihadang dan Dipeluk Keluarga Pasien Positif Corona yang Kabur

Dramatis, Polisi Ketakutan Saat Dihadang dan Dipeluk Keluarga Pasien Positif Corona yang Kabur

Regional
Gempa 5,7 M Guncang Melonguane di Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa 5,7 M Guncang Melonguane di Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Regional
Pria Lumpuh Tewas Terbakar Saat Istri Diisolasi karena Pulang dari Zona Merah Covid-19

Pria Lumpuh Tewas Terbakar Saat Istri Diisolasi karena Pulang dari Zona Merah Covid-19

Regional
Teror Diskusi CLS UGM Yogya: Rumah Digedor, Diancam, hingga Didatangi

Teror Diskusi CLS UGM Yogya: Rumah Digedor, Diancam, hingga Didatangi

Regional
Pura-pura Jual Kulkas di Medsos, Pasutri Tipu Ibu Rumah Tangga

Pura-pura Jual Kulkas di Medsos, Pasutri Tipu Ibu Rumah Tangga

Regional
Jokowi Sambut New Normal, Ini Kata Sejumlah Kepala Daerah

Jokowi Sambut New Normal, Ini Kata Sejumlah Kepala Daerah

Regional
Ragam Alasan Pengendara Pergi ke Puncak, Ingin Sate Maranggi hingga Sekadar Cari Angin

Ragam Alasan Pengendara Pergi ke Puncak, Ingin Sate Maranggi hingga Sekadar Cari Angin

Regional
Ada 36 Ribu Warga Blora Pulang Kampung karena Faktor Ekonomi dan Ketidakjelasan Nasib

Ada 36 Ribu Warga Blora Pulang Kampung karena Faktor Ekonomi dan Ketidakjelasan Nasib

Regional
Saat 'New Normal', Kendaraan Luar Daerah Tetap Dibatasi Masuk ke Kota Malang

Saat "New Normal", Kendaraan Luar Daerah Tetap Dibatasi Masuk ke Kota Malang

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X