Sungai Tercemar Limbah Pun Digunakan untuk Mandi dan Sikat Gigi...

Kompas.com - 28/05/2015, 12:44 WIB
Di sungai inilah, warga RT 15 Kelurahan Bumi Kedamaian Kota Bandarlampung memanfaatkan untuk MCK setiap harinya. Meski puluhan perusahaan membuang limbahnya di sungai itu. KOMPAS.com/Eni MuslihahDi sungai inilah, warga RT 15 Kelurahan Bumi Kedamaian Kota Bandarlampung memanfaatkan untuk MCK setiap harinya. Meski puluhan perusahaan membuang limbahnya di sungai itu.
|
EditorCaroline Damanik

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com
 — Lokasinya hanya 15 menit dari pusat pemerintahan, tetapi warga di RT 15 Kelurahan Bumi Kedamaian, Kecamatan Kedamaian, Kota Bandar Lampung, ini kesulitan mendapatkan air bersih.

Di sekitar permukiman 74 keluarga itu, banyak terdapat gudang dan pabrik RT tersebut. Sungai yang membatasi RT itu dengan RT lainnya kerap menjadi tempat pembuangan limbah perusahaan-perusahaan yang ada di sana.

Warga RT 15 pun tak ada pilihan. Meski tahu sungai itu dijadikan tempat pembuangan limbah, warga tetap menggunakannya untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus (MCK).

Sarah (35), warga RT setempat, bercerita, setiap pagi dan sore, warga berduyun-duyun mendatangi sungai kotor itu untuk mandi sebelum berangkat kerja. Dia mengaku memang kesulitan mendapatkan air bersih di permukiman tersebut.

"Ya mau bagaimana lagi, biarpun air itu berwarna hitam, berbau, dan tak layak pakai, tapi kami hampir semua warga di sini menggunakan air itu karena kami butuh," katanya.

Selain air sungai yang keruh itu, warga di sana memanfaatkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Setiap hujan, kami menampung air itu di sebuah drum-drum besar. Kami endapkan beberapa hari agar keesokannya bisa kami gunakan untuk masak dan minum," tutur dia.

Meski menggunakan air sungai untuk mandi dan mencuci, bahkan sikat gigi, menurut dia, warga, baik anak-anak maupun dewasa, tidak sering terserang penyakit kulit.

"Dulu sih dua tahun lalu pernah kulit kami melepuh karena ada pabrik yang buang limbah secara berlebihan, tapi sekarang alhamdulillah tidak ada penyakit. Mungkin kami sudah kebal ya," kata Sarah sambil tertawa.

Istri ketua RT 15 itu mengatakan memang perkampungannya kesulitan mendapatkan air bersih. Dahulu pernah lembaga PNPM membantu membuatkan sumur bor berkedalaman sekitar 30 meter.

"Ada beberapa titik sumur, tapi tak membuahkan hasil. Ya sudah, mau bagaimana lagi, terpaksa kami terus menggunakan air sungai yang sudah keruh itu," katanya.

Jikapun ingin membuat sumur bor, menurut Sarah, harus menembus kedalaman lebih dari 100 meter. Di lingkungan RT tersebut, ada perusahaan peternakan ayam yang sudah memfasilitasi sumur bor. Warga gratis mendapatkan air tersebut asalkan kuat mengantre dan bisa membawa pulang menggunakan sejumlah jeriken air layak pakai.

Kondisi seperti itu sudah berjalan bertahun-tahun. Sarah menilai, tak ada pihak yang peduli dengan kesulitan sanitasi yang mereka alami.

"Kami menyadari memang sudah takdirnya hidup susah punya air, tapi paling tidak ada sebuah lembaga yang mengajarkan kami dalam mengelola air keruh menjadi air layak konsumsi," tutupnya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X