Kapolda Papua: Ada Ancaman Setelah Pimpinan OPM Tewas Tertembak

Kompas.com - 28/05/2015, 09:20 WIB
|
EditorLaksono Hari Wiwoho

JAKARTA, KOMPAS.com — Polisi belum berhasil mengungkap pelaku penembakan yang menewaskan seorang warga dan melukai lima orang lain di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, Selasa (26/5/2015). Polisi mengakui ada ancaman terhadap warga sebelum peristiwa itu terjadi.

Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Patrige Renwarin mengatakan, insiden penembakan itu terjadi setelah polisi mengubrak-abrik wilayah Organisasi Papua Merdeka dan menembak mati salah seorang pimpinannya.

"Soal penembakan itu, kita belum tahu siapa itu pelakunya. Tapi memang ada ancaman setelah Leo Yogi tertembak dan meninggal dunia," ujar Patrige di kompleks Mabes Polri, Kamis (28/5/2015).

Catatan kepolisian, Leo Yogi adalah panglima tentara pembebasan nasional OPM di wilayah Paniai, Papua. Aparat Polda Papua menyergap markasnya dan melepas tembakan ke Leo pada 30 April 2015. Leo sempat dirawat di Unit Gawat Darurat RSUD Nabire, tetapi akhirnya meninggal dunia.


Situasi sempat memanas setelah kematian Leo. Dua pimpinan lain OPM, yakni Puron Wenda dan Enden Wanimbo, tampil di kalangannya dan menyerukan menentang TNI dan Polri. Keduanya juga mengancam setiap pendatang di tanah Papua.

Menanggapi situasi itu, Patrige menambahkan bahwa pada dasarnya ancaman-ancaman itu bukanlah barang baru. Kepolisian Papua siap menghadapi situasi yang ada. Namun, yang kepolisian khawatirkan adalah bagaimana masyarakat setempat hidup dengan rasa aman.

"Makanya, kita berupaya tetap persuasif ke mereka (OPM). Untuk mengurangi rasa takut terhadap saudara-saudara kita dan pendatang, Kapolsek Mulia telah mendatangi warga dan memberikan jaminan keamanan," ujar dia.

Pasca-insiden penembakan enam warga sipil, Patrige memastikan wilayahnya telah kondusif dan aman. Sejauh ini, pimpinan kepolisian setempat belum mempertimbangkan untuk penambahan personel di lapangan.

Kronologi penembakan

Selasa pukul 23.00 WIT, sejumlah warga lokal tengah bermain kartu di ruang tamu rumah milik Jufri Tandi Payung yang kebetulan warga pendatang. Rumah Jusfri berada di Kampung Usir, Distrik Mulia, Puncak Jaya, Papua. (Baca: Penembakan di Distrik Mulia Papua, 1 Tewas dan 3 Korban Masih Dirawat di RSUD)

Di tengah asyiknya permainan, lalu terdengar suara letusan senjata api yang sangat dekat. Suara berasal dari rumah bagian timur. Suara tembakan tersebut terdengar berkali-kali. Tak diketahui pasti siapa yang melepaskan berkali-kali peluru tajam tersebut.

Seusai berondongan tembakan, enam orang yang bermain kartu terkapar di lantai rumah. Pengga Enumbi (31) tertembak di kepala. Dia sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi akhirnya meninggal dunia.

Adapun lima warga lain mengalami luka tembak, yakni Suryanto Tandi Payung (26), terluka akibat tembak di bagian pantat sebelah kiri; Alfret Tandi Payung (28), tertembak di lengan tangan kanan; Yulianus Tandidatu (32), tertembak di tangan kiri bawah dan lengan kiri atas; Yogi Rerang (21), tertembak pada lengan kiri atas; dan Marten Tandi Payung (39), tertembak di lengan kanan atas.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X