Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kenapa Lebih Mementingkan Orangutan daripada Manusia di Hutan?

Kompas.com - 14/05/2015, 04:59 WIB
Kontributor Singkawang, Yohanes Kurnia Irawan

Penulis


PUTUSSIBAU, KOMPAS.com
— Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, mengajak seluruh elemen masyarakat di koridor Taman Nasional Betung Kerihun – Taman Nasional Danau Sentarum untuk tetap menjaga keanekaragaman hayati di sekitar desa. Kedua taman nasional tersebut terhubung oleh sungai Labian (Leboyan) yang menjadi nadi kehidupan tidak hanya hewan dan tumbuhan, tapi juga komunitas masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran nya.

“Saya mengajak para kepala desa di koridor TNBK-TNDS untuk menjaga dan memanfaatkan limpahan anugerah Tuhan ini secara bijak. Jika ada bekas aktivitas illegal logging, sebaiknya ditata kembali,” kata Muhammad Sukri, Sekretaris Daerah Kapuas Hulu di Putussibau, Selasa (12/5/2015) dalam rilis yang di terima Rabu (13/5/2014) malam.

Sukri pun menyampaikan, ketika ada pertanyaan, kenapa lebih mementingkan orangutan daripada orang? Ia menyebut manusia harus berani menjawab bahwa salah satu tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi, adalah untuk rahmat bagi seluruh isi alam.

“Termasuk manusia, satwa, bahkan dengan benda mati sekalipun,” ucapnya.

Imbauan serta ajakan tersebut disampaikan Sukri dalam Lokakarya Keanekaragaman Hayati dan Perbaikan Habitat Orangutan di Koridor TNBK – TNDS yang diselenggarakan pada 12-13 Mei 2015 di Putussibau. Kegiatan lokakarya ini dimotori oleh Forum Orangutan Indonesia (Forina), yang beranggotakan beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) dibidang lingkungan.

“Bagaimana rasanya kita diberikan satu harta unik, langka, dan bagaimana kita menjaganya? Mengapa sebagian dari kita memiliki hubungan spiritual dengan hutan dan beberapa satwa termasuk orangutan? Apa yang sebenarnya Tuhan sedang titipkan kepada kita?,” kata Sukri.

Sukri juga menyampaikan bahwa Kapuas Hulu sebagai Kabupaten Konservasi dengan sebagian wilayahnya adalah taman nasional adalah surga bagi keanekaragaman hayati dan manusia yang hidup di sekitarnya.

“Kalau ada bekas tebangan, secepatnya ditanami kembali,” pintanya.

Lebih lanjut Sukri menambahkan, manusia yang sudah hidup bertahun-tahun bahkan berabad-abad dengan memanfaatkan hasil hutan untuk kebutuhan sehari-hari, menciptakan hubungan yang saling terkait satu sama lainnya. Hutan lestari, karena manusia menjadikannya sebagai sehabat yang ramah.

“Di sini kita melihat sebenarnya manfaat dari ini semua bukan semata untuk orangutan, hutan, dan satwa-satwa tertentu saja, tetapi manusia sebagai penerima manfaat utama yang berkelanjutan. Tidak hanya sekarang, namun juga untuk masa depan” ungkap Sukri.

Sementara itu, Ketua Forina, Herry Djoko Susilo mengatakan, hingga kini pihaknya sudah melakukan sejumlah agenda kegiatan, di antaranya survei keanekaragaman hayati di lima desa yakni Labian Ira’ang, Mensiau, Labian, Sungai Ajung, dan Melemba.

”Kita sampaikan hasil survei itu, guna menyusun strategi perbaikan habitat orangutan berbasis masyarakat yang sinergi dengan rencana tata ruang Kabupaten Kapuas Hulu,” kata Herry Djoko.

Survei dan GIS ground check ini sudah dilaksanakan sejak April 2014 hingga April 2015. Di antaranya, melakukan analisis penutupan lahan, survei calon lokasi pelepasliaran orangutan, kampanye konservasi orangutan, restorasi, monitoring perburuan dan perdagangan orangutan, dan identifikasi kearifan lokal terkait konservasi orangutan.

Sebagian besar wilayah koridor, kata Herry, masih merupakan wilayah berhutan yang menjadi habitat bagi biodiversitas dari kelompok fauna dan flora, termasuk orangutan dan beberapa satwa liar lainnya.

“Kita berharap semua ini bermanfaat sebagai referensi untuk strategi perbaikan habitat orangutan berbasis masyarakat, sekaligus penyadaran konservasi orangutan bagi para pihak yang memiliki kepentingan dan dampak langsung atau pun tidak langsung dari keberadaan hutan, dan biodiversitas lainnya,” ucapnya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com