Gunung Karangetang Terus Erupsi, Warga Mulai Mengungsi

Kompas.com - 30/04/2015, 12:39 WIB
Lava pijar meluncur dari kawah Gunung Api Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro. Sulawesi Utara, akhir April 2015. Kompas.com/Ronny Adolof BuolLava pijar meluncur dari kawah Gunung Api Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro. Sulawesi Utara, akhir April 2015.
|
EditorCaroline Damanik

SIAU, KOMPAS.com - Gunung Api Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, terus memuntahkan lava pijar dan memaksa warga di Dusun Kulu dan Dusun Kolo-Kolo, Bebali, Kecamatan Siau Timur, mengungsi.

Wakil Bupati Sitaro, Siska Salindeho, meminta warganya untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti petunjuk pemerintah terkait evakuasi.

"Masyarakatnya juga hendaknya responsif terhadap anjuran pemerintah dan jangan mengabaikan tanda-tanda bahaya dari aktifitas Karangetang yang terus meningkat," ujar Salindeho, Kamis (30/4/2015).

Hingga saat ini, petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sitaro serta instansi terkait terus siaga untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan aktivitas salah satu gunung teraktif itu ke level yang lebih tinggi.

Buyung Mangangue, warga Sitaro, menjelaskan com bahwa aliran lava dari kawah Karangetang kini telah mendekati pemukiman warga di kedua dusun itu sehingga mereka harus dievakuasi. Karangetang kembali menyemburkan lava pijar sejak Kamis (23/4/2015) pekan lalu dan hingga kini terus mengeluarkan lava pijar.

Beberapa hari yang lalu, erupsi Karangetang juga menyebabkan hujan abu di beberapa desa dan membuat petugas harus membagikan masker. Dari situs Badan Geologi disebutkan Karangetang merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia, yang saban tahun erupsi.

Keaktifannya itu membuat status Siaga Level III yang dilekatkan pada Karangetang sejak 3 September 2013 hingga kini belum diturunkan. Karakteristik erupsinya umumnya berupa erupsi eksplosif tipe strombolian disertai dengan pertumbuhan kubah lava yang sering diikuti oleh kejadian awan panas guguran.

Bahaya Karangetang umumnya diakibatkan oleh awan panas guguran, longsoran guguran lava pijar dari kubah lava dan bahaya sekunder lahar. Risiko bahaya menjadi semakin tinggi karena Siau merupakan pulau dimana terdapat pemukiman di sekitar Karangetang dan beberapa kampung berjarak sangat dekat dengan pusat erupsi.

Aktivitas Karangetang pada saat ini didominasi oleh aktivitas di kedalaman dangkal yang berhubungan dengan pertumbuhan dan guguran dari kubah lava. Karangetang yang mempunyai ketinggian puncak 1.827 meter itu merupakan salah satu dari sekian banyak gunung berapi di Sulawesi Utara, seperti Lokon, Soputan, dan Awu. Pulau Siau sendiri berjarak sekitar 146 kilometer dari Manado.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Detik-detik Honda Jazz Tertabrak Kereta Api di Grobogan, Pengemudi Selamat meski Mobil Ringsek

Detik-detik Honda Jazz Tertabrak Kereta Api di Grobogan, Pengemudi Selamat meski Mobil Ringsek

Regional
BIN Gelar Rapid Test Massal di Kawasan Zona Merah Surabaya, 153 Orang Reaktif

BIN Gelar Rapid Test Massal di Kawasan Zona Merah Surabaya, 153 Orang Reaktif

Regional
Pasien Positif Covid-19 di Sulut Bertambah 17, Terbanyak dari Klaster Pasar Pinasungkulan Manado

Pasien Positif Covid-19 di Sulut Bertambah 17, Terbanyak dari Klaster Pasar Pinasungkulan Manado

Regional
Pilkada Diundur, Bakal Cagub Sumbar Siapkan Dana Ekstra sampai Rp 50 Miliar

Pilkada Diundur, Bakal Cagub Sumbar Siapkan Dana Ekstra sampai Rp 50 Miliar

Regional
Pemprov Sulsel Klaim 12 Kabupaten Sudah Aman dari Covid-19

Pemprov Sulsel Klaim 12 Kabupaten Sudah Aman dari Covid-19

Regional
Honda Jazz Remuk Tertabrak Kereta di Grobogan, Terseret 30 Meter lalu Jatuh ke Sawah

Honda Jazz Remuk Tertabrak Kereta di Grobogan, Terseret 30 Meter lalu Jatuh ke Sawah

Regional
Fakta Ayah Setubuhi 2 Anak Tiri hingga Hamil, Terungkap Saat Diinterogasi Keluarga hingga Pelaku Diamuk Warga

Fakta Ayah Setubuhi 2 Anak Tiri hingga Hamil, Terungkap Saat Diinterogasi Keluarga hingga Pelaku Diamuk Warga

Regional
Pada 31 Mei, Maluku Tak Ada Kasus Positif Corona Baru

Pada 31 Mei, Maluku Tak Ada Kasus Positif Corona Baru

Regional
Pemkot Banjarmasin Putuskan Tak Perpanjang PSBB

Pemkot Banjarmasin Putuskan Tak Perpanjang PSBB

Regional
Penjagaan Ketat Perbatasan yang Didukung Warga, Kunci Lebong Nihil Covid-19

Penjagaan Ketat Perbatasan yang Didukung Warga, Kunci Lebong Nihil Covid-19

Regional
Empat Wilayah di Sumsel Bersiap 'New Normal', Palembang Tak Masuk

Empat Wilayah di Sumsel Bersiap "New Normal", Palembang Tak Masuk

Regional
Petugas Berpakaian APD Diusir dan Nyaris Diamuk Warga, Pejabat Desa: Keluarga Keberatan dan Kurang Nyaman

Petugas Berpakaian APD Diusir dan Nyaris Diamuk Warga, Pejabat Desa: Keluarga Keberatan dan Kurang Nyaman

Regional
Kawasan Wisata Lombok Barat Tutup, Ratusan Kendaraan hendak Berkunjung Dipaksa Putar Balik

Kawasan Wisata Lombok Barat Tutup, Ratusan Kendaraan hendak Berkunjung Dipaksa Putar Balik

Regional
Usai Periksa Pasien Covid-19, Perawat Diancam hingga Trauma, Ganjar: Jangan Aneh-aneh, Kita Lagi Kondisi Sulit

Usai Periksa Pasien Covid-19, Perawat Diancam hingga Trauma, Ganjar: Jangan Aneh-aneh, Kita Lagi Kondisi Sulit

Regional
Dari 62 Kasus Positif Covid-19 di Sukabumi, 59 Pasien dari Klaster Institusi Negara

Dari 62 Kasus Positif Covid-19 di Sukabumi, 59 Pasien dari Klaster Institusi Negara

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X