Demam Akik, Batu Galian Sumur Pun Laku Dijual

Kompas.com - 19/03/2015, 15:00 WIB
Demam batu akik di Nunukan membuat batu galian sumur milik Kanti pun laku dijual. KOMPAS.com/SukocoDemam batu akik di Nunukan membuat batu galian sumur milik Kanti pun laku dijual.
|
EditorCaroline Damanik

NUNUKAN, KOMPAS.com
 — Kanti (45), warga Kampung Tator, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, tengah memilah batu yang dijual di lapak batu akik di Tanah Merah. Dia memilah batu berdasarkan harga karena batu yang berbeda warna itu biasa dijualnya mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 50.000 per biji.

Tak beberapa lama, seseorang menawar batu yang berwarna biru tua dengan harga Rp 10.000. Namun, Kanti menyebutkan harga batu itu adalah Rp 50.000 karena menurut dia batu tersebut memiliki alur yang bagus jika digosok. Setelah nego, mereka sepakat harga batu seperti batu koral itu Rp 20.000.

"Harganya macam-macam. Ada yang Rp 10.000, ada yang Rp 20.000, ada yang Rp 50.000. Tergantung penawaran saja," tuturnya, Kamis (19/3/2015).

Kanti mengaku tidak setiap hari berjualan batu mentah di Pasar Batu Akik Tanah Merah. Biasanya, dia mengumpulkan batu yang memiliki corak dan warna dari kebunnya sendiri membutuhkan waktu tiga hari.

Meski tidak mengaku berapa pendapatannya setiap kali jualan, selama mengobrol 15 menit, Kanti sudah mengantongi uang Rp 50.000. Kanti mengaku, kebanyakan batu yang dijualnya merupakan batu buangan saat menggali sumur di kebun.

"Daripada dibuang, saya jual saja di sini. Ternyata laku. Biasanya yang ngambil perajin akik di sini. Sisanya saya jual kayak gini. Hasilnya lumayanlah," tambahnya.

Selain batu mentah untuk kerajinan akik, Kanti mulai mengumpulkan batu fosil yang ternyata banyak terdapat di kebunnya. Batu fosil kayu yang dibawanya banyak yang tidak laku.

"Kalau yang ini batu fosil dari kayu. Ini tidak laku. Panjang saya punya, saya potong. Tapi, yakin nanti laku," ungkapnya.

Perajin akik di Nunukan belum banyak yang memoles batu fosil kayu. Padahal, lanjutnya, harga jual batu fosil kayu yang dipoles bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Aco, salah satu penjual batu akik di Tanah Merah, mengaku pernah mendatangkan batu fosil kayu yang telah dipoles dari Lampung. Batu itu dijualnya seharga Rp 20 juta.

"Satu buah ukuran tinggi 30 sentimeter ini dijual Rp 20 juta. Ada lima di sini sudah diborong semua oleh orang Malaysia," tuturnya.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Positif Covid-19 Setelah Pulang Takziah dari Jakarta, Guru TK Sempat ke Sekolah

Positif Covid-19 Setelah Pulang Takziah dari Jakarta, Guru TK Sempat ke Sekolah

Regional
Angka Covid-19 Jateng Tertinggi Nasional, Ganjar: Itu Karena Satgas Pusat Telat Input Data

Angka Covid-19 Jateng Tertinggi Nasional, Ganjar: Itu Karena Satgas Pusat Telat Input Data

Regional
Pemprov Jatim Siapkan 3 Jalan Penghubung dari Tol Trans Jawa ke Jalur Lintas Selatan

Pemprov Jatim Siapkan 3 Jalan Penghubung dari Tol Trans Jawa ke Jalur Lintas Selatan

Regional
Dua Pegawai KAI Positif Covid-19, Salah Satunya Masinis

Dua Pegawai KAI Positif Covid-19, Salah Satunya Masinis

Regional
3 Guru dan 2 Murid di Yogyakarta Positif Covid-19, Diduga Tertular di Sekolah

3 Guru dan 2 Murid di Yogyakarta Positif Covid-19, Diduga Tertular di Sekolah

Regional
Pemkot Probolinggo: Pesan Berantai Wakil Wali Kota Meninggal Hoaks

Pemkot Probolinggo: Pesan Berantai Wakil Wali Kota Meninggal Hoaks

Regional
Gara-gara Menangis Ditinggal Masak Ibunya, Bocah 2 Tahun Dianiaya Ayah hingga Tangannya Patah

Gara-gara Menangis Ditinggal Masak Ibunya, Bocah 2 Tahun Dianiaya Ayah hingga Tangannya Patah

Regional
Libur Panjang Akhir Oktober Dituding Jadi Penyebab Lonjakan Kasus Covid-19 di Jateng

Libur Panjang Akhir Oktober Dituding Jadi Penyebab Lonjakan Kasus Covid-19 di Jateng

Regional
Gigi Bangkai Paus yang Terdampar di Bali Hilang, KKP: Seluruh Tubuh Paus Tak Boleh Dimanfaatkan

Gigi Bangkai Paus yang Terdampar di Bali Hilang, KKP: Seluruh Tubuh Paus Tak Boleh Dimanfaatkan

Regional
Ketua FPI Pekanbaru dan Satu Anggotanya Diperiksa Polisi, Ini Penyebabnya

Ketua FPI Pekanbaru dan Satu Anggotanya Diperiksa Polisi, Ini Penyebabnya

Regional
UMK 2021 Kepri Ditetapkan, Tertinggi di Batam, Terendah di Tanjungpinang

UMK 2021 Kepri Ditetapkan, Tertinggi di Batam, Terendah di Tanjungpinang

Regional
Usai Acara Tur ke Bromo, 36 Pegawai Pemkab Brebes Positif Covid-19

Usai Acara Tur ke Bromo, 36 Pegawai Pemkab Brebes Positif Covid-19

Regional
KPK Ajukan 600 Izin Penyadapan, buat Pantau Pilkada hingga Anggaran Covid-19

KPK Ajukan 600 Izin Penyadapan, buat Pantau Pilkada hingga Anggaran Covid-19

Regional
Dipanggil Polda Jabar soal Rizieq Shihab, Bupati Bogor Ade Yasin: Saya Sakit...

Dipanggil Polda Jabar soal Rizieq Shihab, Bupati Bogor Ade Yasin: Saya Sakit...

Regional
Dinkes Salatiga Sebut Penambahan Kasus Covid-19 karena Gencar Tracing Kontak

Dinkes Salatiga Sebut Penambahan Kasus Covid-19 karena Gencar Tracing Kontak

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X