"Pulanglah Nak, Apa Ndak Kasihan dengan Ibu?"

Kompas.com - 16/03/2015, 16:48 WIB
KOMPAS.COM/ M Wismabrata Orang tua Lestari memegang foto Siti Lestari dan Bahrun Naim, Senin (16/3/2015).

SUKOHARJO, KOMPAS.com -
Surati hanya bisa menangis di depan ruang SPK Polres Sukoharjo, Jawa Tengah. Dia berharap puteri tercintanya, Siti Lestari, bisa segera ditemukan.

Siti, mahasiswa semester 10 Fakultas Farmasi Universitas Muhamadiyah Surakarta, Sukoharjo, itu diduga pergi dengan seorang mantan narapidana teroris ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok radikal Islam, ISIS.

Surati bersama suaminya, Sugiran, mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polres Sukoharjo, Senin (16/3/2015) siang, untuk melaporkan kehilangan puteri mereka, Siti Lestari.

Surati tidak kuasa menahan tangis saat menceritakan, saat tanggal 21 Januari 2015, anaknya meminta kiriman uang Rp 3,5 juta untuk membayar uang kuliah. Namun, setelah itu, Lestari hilang kontak. Surati dan Sugiran pun mulai mulai panik.

"Saat minta kiriman Rp 3,5 juta itu komunikasinya bagus, enggak ada marah-marah. Tapi setelah itu, kok sulit dihubungi," kata Sugiran.

Kekhawatiran keluarga memuncak setelah Lestari mengenalkan seorang pria bernama Bahrun Naim, pria asal Solo, saat bertemu dengan keluarga.

Keluarga gelisah saat mengetahui Bahrun adalah mantan narapidana kasus terorisme yang tertangkap Densus 88 di Solo pada tahun 2010. Keluarga pun menduga Lestari diajak Bahrun pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

"Informasi yang kami peroleh setelah kami coba cari Lestari, Bahrun sudah pergi ke Suriah," kata Sugiran.

Sembari menangis, Surati berharap puterinya segera ditemukan dan pulang ke Demak. Dia mengingatkan dirinya sangat merindukan puterinya tersebut karena pergi tanpa pamit.

"Pulanglah Nak, apa ndak kasian dengan ibu yang sakit-sakitan. Nanti kalau orangtuamu enggak ada (lagi) apa kamu enggak menyesal?" tuturnya lirih.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorCaroline Damanik

Close Ads X