Kematian Beruntun Orang Rimba dan Krisis Pangan di Jambi

Kompas.com - 03/03/2015, 15:33 WIB
Anak-anak rimba menempuh perjalanan menuju lokasi belajar bersama dalam Taman Nasional Bukit Duabelas, Sarolangun, Jambi, Jumat (26/4/2013). Pendidikan khusus melalui pendekatan budaya lokal yang dilaksanakan relawan dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi telah menjadikan lebih dari 400 anak rimba melek huruf.

KOMPAS/IRMA TAMBUNANAnak-anak rimba menempuh perjalanan menuju lokasi belajar bersama dalam Taman Nasional Bukit Duabelas, Sarolangun, Jambi, Jumat (26/4/2013). Pendidikan khusus melalui pendekatan budaya lokal yang dilaksanakan relawan dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi telah menjadikan lebih dari 400 anak rimba melek huruf.
EditorCaroline Damanik

JAMBI, KOMPAS.com — Kematian beruntun dialami Orang Rimba, warga suku pedalaman di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, sejak dua bulan terakhir. Kematian beruntun itu diduga disebabkan oleh krisis pangan dan air bersih.

Kematian terjadi pada 11 orang dari sekitar 150 warga Kelompok Terap dan Kelompok Serenggam, warga Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) di Kabupaten Batanghari dan Sarolangun, Jambi.

Menurut Fasilitator Kesehatan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Yomi Rivandi, Senin (2/3), di Jambi, sebagian besar warga, terutama anak-anak di kelompok itu, terjangkit batuk dan demam. Akibat kematian beruntun, Orang Rimba setidaknya sudah tujuh kali melangun, berpindah tempat hidup akibat kesedihan setelah kematian anggota kelompoknya. Sebagian besar lokasi melangun adalah pinggir desa dan perkebunan sawit.

Di daerah jelajah yang baru itu Orang Rimba menghadapi krisis pangan. "Kondisi ini diduga memicu kematian warga. Sebagian besar adalah balita," ujarnya.

Ia menjelaskan, dua kelompok Orang Rimba itu semula berdiam di wilayah Terap dan Serenggam. Akibat kematian anggotanya, kelompok ini melangun ke wilayah Desa Olak Besar, lalu Desa Baru, Desa Jernih, Sungai Selentik, dan Sungai Telentam di Desa Lubuk Jering. Kini kelompok itu pindah lagi ke wilayah Sungai Kemang, Desa Olak Besar. "Selama melangun, warga kekurangan sumber pangan sehingga menurunkan daya tahan tubuh saat banyak warga sakit," ujarnya.

Kondisi hutan yang menyempit tidak memungkinkan Orang Rimba melangun dalam hutan, tetapi ke desa di pinggir hutan. TNBD saat ini juga dalam kondisi paceklik. Hewan buruan juga makin sedikit.

Sudah ditinjau

Penanggung Jawab Pengobatan Puskesmas Durian Luncuk, Kabupaten Batanghari, dr Takwim, mengatakan sudah meninjau kondisi Orang rimba bersama timnya, pekan lalu. Ia mendapati sekitar 60 anak di kelompok itu terserang batuk parah, sebagian dalam kondisi demam. Sebagian besar anak juga dalam kondisi malnutrisi. Kondisi gizi buruk itu diduga memperburuk kesehatan anak-anak Rimba, dan kemungkinan memicu kematian.

Takwim menambahkan, dari sejumlah anak penderita demam yang dites darah, ada satu anak yang dinyatakan positif menderita malaria. Ia mengimbau kelompok itu agar membawa anak Rimba itu menjalani rawat inap di rumah sakit umum daerah. "Rawat inap belum dilakukan sebab orangtua anak itu sedang berburu di hutan selama beberapa hari," ujarnya.

Jumlah Orang Rimba saat ini sekitar 3.600 orang. Sekitar 2.000 warga Rimba hidup berpindah di TNBD. Sekitar 1.600 jiwa lainnya tersebar di perkebunan, hutan tanaman industri, dan dusun di luar taman nasional. Sumber penghidupan Orang Rimba di TNBD sebenarnya melimpah.

Namun, kawasan hutan terus digerogoti untuk kebun, mulai dari tepian taman nasional. Dari sekitar 130.000 hektar luas hutan Orang Rimba dalam TNBD di Kabupaten Sarolangun, Tebo, Merangin, dan Batanghari, kini hanya tersisa 60.400 hektar. (ITA)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pilkada, Dilema Pemilih di Tengah Pendemi, Ancaman Golput hingga Takut Corona

Pilkada, Dilema Pemilih di Tengah Pendemi, Ancaman Golput hingga Takut Corona

Regional
Mencari Jejak 'Mr Black'' Pemilik 30 Kg Sabu di Medan, Kirim Kurir yang Miliki 7 Identitas

Mencari Jejak "Mr Black"" Pemilik 30 Kg Sabu di Medan, Kirim Kurir yang Miliki 7 Identitas

Regional
5 Daerah yang Kini Masuk Zona Merah, Bandung hingga Kota Batu

5 Daerah yang Kini Masuk Zona Merah, Bandung hingga Kota Batu

Regional
Kisah ODHA di Semarang, Panggilan Jiwa Bantu Sesama hingga Bangkit Lawan Stigma

Kisah ODHA di Semarang, Panggilan Jiwa Bantu Sesama hingga Bangkit Lawan Stigma

Regional
Setelah Ada Tambang, Tiap Tahun Petani di Kukar Merugi karena Sawah Terendam Banjir

Setelah Ada Tambang, Tiap Tahun Petani di Kukar Merugi karena Sawah Terendam Banjir

Regional
Fakta Terbaru Pasca-demo di Rumah Mahfud MD, Ibunda Batal Diungsikan, Polisi Periksa Peserta Aksi

Fakta Terbaru Pasca-demo di Rumah Mahfud MD, Ibunda Batal Diungsikan, Polisi Periksa Peserta Aksi

Regional
Dokter Sardjono Meninggal karena Covid-19 Rabu Dini Hari, Sorenya Istri Juga Berpulang

Dokter Sardjono Meninggal karena Covid-19 Rabu Dini Hari, Sorenya Istri Juga Berpulang

Regional
Gempa 5,3 Magnitudo Guncang Kendari, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa 5,3 Magnitudo Guncang Kendari, Tak Berpotensi Tsunami

Regional
[POPULER NUSANTARA] Rumah Mahfud MD di Madura Didemo Massa | Jejak Ali Kalora Pemimpin MIT di Sulteng

[POPULER NUSANTARA] Rumah Mahfud MD di Madura Didemo Massa | Jejak Ali Kalora Pemimpin MIT di Sulteng

Regional
Istri Dokter Sardjono Meninggal, Diduga Tertular Covid-19 dari Suaminya

Istri Dokter Sardjono Meninggal, Diduga Tertular Covid-19 dari Suaminya

Regional
Diskusi soal Penanganan Covid-19, AHY Malam-malam Sowan ke Ganjar

Diskusi soal Penanganan Covid-19, AHY Malam-malam Sowan ke Ganjar

Regional
Menyusul Suaminya, Istri Dokter Sardjono Meninggal akibat Covid-19

Menyusul Suaminya, Istri Dokter Sardjono Meninggal akibat Covid-19

Regional
Kasus Covid-19 Melonjak, Lampu Jalan Protokol di Kota Tegal Dimatikan

Kasus Covid-19 Melonjak, Lampu Jalan Protokol di Kota Tegal Dimatikan

Regional
Pengasuh dan Pengurus Pondok Positif Covid-19, Seorang Santri Terpapar Corona

Pengasuh dan Pengurus Pondok Positif Covid-19, Seorang Santri Terpapar Corona

Regional
Kunjungi Kader di Daerah, AHY Ingin Ulang Kenangan Manis di Jawa Tengah

Kunjungi Kader di Daerah, AHY Ingin Ulang Kenangan Manis di Jawa Tengah

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X