Kompas.com - 24/02/2015, 16:51 WIB
Maroker Siregar, petenun ulos di Desa Huta Nagodang, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Minggu (22/2), mencelupkan benang hasil pintal ke dalam cairan pewarna alami yang terbuat dari daun salaon. Kerajinan ulos dari benang dengan pewarna alami sudah jarang digunakan seiring maraknya pewarna kimia yang memungkinkan pembuatan ulos lebih cepat dan praktis. KOMPAS/GREGORIUS MAGNUS FINESSOMaroker Siregar, petenun ulos di Desa Huta Nagodang, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Minggu (22/2), mencelupkan benang hasil pintal ke dalam cairan pewarna alami yang terbuat dari daun salaon. Kerajinan ulos dari benang dengan pewarna alami sudah jarang digunakan seiring maraknya pewarna kimia yang memungkinkan pembuatan ulos lebih cepat dan praktis.
EditorCaroline Damanik

MEDAN, KOMPAS.com — Sebagian besar jenis kain ulos atau tenun khas suku Batak di Sumatera Utara sudah tidak diproduksi lagi dan terancam punah. Selain kegagalan regenerasi petenun, hal itu terjadi karena ulos kian jarang digunakan pada kegiatan adat. Bahkan, pemasaran ulos kini mulai terdesak kain songket dari Padang dan Palembang.

Maroker Siregar (63), salah seorang pakar tenun ulos di Desa Huta Nagondang, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, Senin (23/2), mengatakan, sebagian besar ulos asal Batak yang sudah jarang diproduksi antara lain ulos raja, ulos ragi botik, ulos gobar, ulos saput (ulos yang digunakan pembungkus jenazah), dan ulos sibolang.

”Kebanyakan jenis ulos itu sudah tidak ada lagi yang membuatnya. Ini terjadi sejak tahun 2000-an. Kami khawatir Batak akan kehilangan ulos sebagai salah satu warisan nenek moyang,” kata Maroker.

Menurut Maroker, jenis-jenis ulos yang sudah tidak lagi diproduksi antara lain jenis ulos Batak yang pada zaman dulu biasa dikenakan kalangan bangsawan. Ada pula kain ulos yang pada zaman dulu digunakan sebagai pakaian sehari-hari, tetapi kini tidak lagi banyak dipakai karena dinilai terlalu mahal.

Petenun ulos lain di Tarutung, Tapanuli Utara, Sarsoi Simorangkir (45), mengatakan, jenis-jenis ulos produksi tangan tersebut sudah banyak digantikan dengan kain ulos pabrikan. Hal itu terjadi di sebagian besar sentra perajin ulos yang tersebar di Tapanuli Selatan (Sipirok), Tapanuli Utara (Tarutung, Muara, Meat), Toba Samosir (Panamean, Lagu Boti), dan Samosir (Lumban Suhisuhi, Mogang, Palipi).

KOMPAS Beberapa jenis ulos.

Menurut dia, petenun di daerah sentra produksi ulos itu saat ini hanya memproduksi ulos yang lazim digunakan untuk acara adat, antara lain sadum, ragi dup, songket Batak, dan ragi bolean. Jenis lain tidak ditenun lagi karena tak laku di pasaran.

Sarsoi menyebutkan, sebenarnya ada lebih dari 50 jenis motif ulos belum, termasuk turunan motifnya. Setiap motif memiliki arti tersendiri karena pada zaman dahulu, ulos menjadi media doa dari pemberi kepada penerima yang dimintakan kepada Sang Pencipta.

Terdesak songket

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Produksi sarung ulos yang biasa disebut mandar juga semakin tersisih. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tapanuli Utara Gibson Siregar mengatakan, masyarakat etnis Batak kini lebih memilih ulos yang dikerjakan dengan mesin dari pabrikan yang harganya jauh lebih murah.

Bahkan, sudah sejak lama masyarakat banyak beralih menggunakan tenun songket dari Padang, Sumatera Barat, dan Palembang, Sumatera Selatan.

Songket dipilih karena harganya lebih murah dan warnanya banyak yang cerah. Sementara motif ulos asli cenderung gelap. Gibson menambahkan, harga kain songket pabrikan di pasaran ada yang hanya Rp 100.000 per lembar. Sementara harga kain ulos tenun bisa mencapai lebih dari Rp 1 juta per lembar.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Buka Kejuaraan UAH Super Series, Ridwan Kamil Adu Kemampuan Tenis Meja dengan Ustadz Adi Hidayat

Buka Kejuaraan UAH Super Series, Ridwan Kamil Adu Kemampuan Tenis Meja dengan Ustadz Adi Hidayat

Regional
Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Regional
Peringati HSN 2021, Wagub Uu Nyatakan Kesiapan Pemprov Jabar Bina Ponpes

Peringati HSN 2021, Wagub Uu Nyatakan Kesiapan Pemprov Jabar Bina Ponpes

Regional
Ridwan Kamil Pastikan Pemerintah Gelontorkan Rp 400 Triliun untuk Bangun Jabar Utara dan Selatan

Ridwan Kamil Pastikan Pemerintah Gelontorkan Rp 400 Triliun untuk Bangun Jabar Utara dan Selatan

Regional
Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Regional
AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

Regional
Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Regional
9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

Regional
Capai Rp 72,46 Triliun, Realisasi Investasi Jabar per Januari-Juni 2021 Peringkat 1 Nasional

Capai Rp 72,46 Triliun, Realisasi Investasi Jabar per Januari-Juni 2021 Peringkat 1 Nasional

Regional
Temui Gus Yasin, Ridwan Kamil Sebut Jabar Ingin Berbagi Pengalaman dan Investasi di Kota Lama Semarang

Temui Gus Yasin, Ridwan Kamil Sebut Jabar Ingin Berbagi Pengalaman dan Investasi di Kota Lama Semarang

Regional
Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

Regional
Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

Regional
Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

Regional
Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

Regional
Kepada Dubes Australia, Ridwan Kamil: Jabar Nomor Satu Destinasi Investasi

Kepada Dubes Australia, Ridwan Kamil: Jabar Nomor Satu Destinasi Investasi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.