Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 24/02/2015, 16:51 WIB

MEDAN, KOMPAS.com — Sebagian besar jenis kain ulos atau tenun khas suku Batak di Sumatera Utara sudah tidak diproduksi lagi dan terancam punah. Selain kegagalan regenerasi petenun, hal itu terjadi karena ulos kian jarang digunakan pada kegiatan adat. Bahkan, pemasaran ulos kini mulai terdesak kain songket dari Padang dan Palembang.

Maroker Siregar (63), salah seorang pakar tenun ulos di Desa Huta Nagondang, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, Senin (23/2), mengatakan, sebagian besar ulos asal Batak yang sudah jarang diproduksi antara lain ulos raja, ulos ragi botik, ulos gobar, ulos saput (ulos yang digunakan pembungkus jenazah), dan ulos sibolang.

”Kebanyakan jenis ulos itu sudah tidak ada lagi yang membuatnya. Ini terjadi sejak tahun 2000-an. Kami khawatir Batak akan kehilangan ulos sebagai salah satu warisan nenek moyang,” kata Maroker.

Menurut Maroker, jenis-jenis ulos yang sudah tidak lagi diproduksi antara lain jenis ulos Batak yang pada zaman dulu biasa dikenakan kalangan bangsawan. Ada pula kain ulos yang pada zaman dulu digunakan sebagai pakaian sehari-hari, tetapi kini tidak lagi banyak dipakai karena dinilai terlalu mahal.

Petenun ulos lain di Tarutung, Tapanuli Utara, Sarsoi Simorangkir (45), mengatakan, jenis-jenis ulos produksi tangan tersebut sudah banyak digantikan dengan kain ulos pabrikan. Hal itu terjadi di sebagian besar sentra perajin ulos yang tersebar di Tapanuli Selatan (Sipirok), Tapanuli Utara (Tarutung, Muara, Meat), Toba Samosir (Panamean, Lagu Boti), dan Samosir (Lumban Suhisuhi, Mogang, Palipi).

KOMPAS Beberapa jenis ulos.

Menurut dia, petenun di daerah sentra produksi ulos itu saat ini hanya memproduksi ulos yang lazim digunakan untuk acara adat, antara lain sadum, ragi dup, songket Batak, dan ragi bolean. Jenis lain tidak ditenun lagi karena tak laku di pasaran.

Sarsoi menyebutkan, sebenarnya ada lebih dari 50 jenis motif ulos belum, termasuk turunan motifnya. Setiap motif memiliki arti tersendiri karena pada zaman dahulu, ulos menjadi media doa dari pemberi kepada penerima yang dimintakan kepada Sang Pencipta.

Terdesak songket

Produksi sarung ulos yang biasa disebut mandar juga semakin tersisih. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tapanuli Utara Gibson Siregar mengatakan, masyarakat etnis Batak kini lebih memilih ulos yang dikerjakan dengan mesin dari pabrikan yang harganya jauh lebih murah.

Bahkan, sudah sejak lama masyarakat banyak beralih menggunakan tenun songket dari Padang, Sumatera Barat, dan Palembang, Sumatera Selatan.

Songket dipilih karena harganya lebih murah dan warnanya banyak yang cerah. Sementara motif ulos asli cenderung gelap. Gibson menambahkan, harga kain songket pabrikan di pasaran ada yang hanya Rp 100.000 per lembar. Sementara harga kain ulos tenun bisa mencapai lebih dari Rp 1 juta per lembar.

Selain itu, banyak generasi muda yang enggan mempelajari teknik tenun dan motif-motif asli Batak. Karena kalah bersaing, sebagian perajin tenun di Tapanuli Utara beralih menenun kain sarung dengan corak songket.

Seniman yang juga budayawan Batak, Thomson HS, mengatakan, agar tetap lestari, ulos harus difungsikan kembali dan dibudayakan dalam kehidupan sehari-hari. Sejarah tenun di Tapanuli dan sekitarnya pada dasarnya lahir untuk kebutuhan keseharian, yang selanjutnya masuk dalam konsep adat.

Dia mencontohkan, hasil kerajinan tekstil di daerah lain seperti batik tulis di Jawa sampai saat ini masih dapat bertahan. Padahal, harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan batik cap. Batik tetap dibudayakan dan digunakan dalam kegiatan sehari-hari sehingga peminat tetap banyak.

Menurut Thomson, dari segi kualitas, ulos hasil tenunan lebih baik daripada ulos pabrikan, baik secara motif maupun nilai budaya. (GRE)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Fakta dan Kronologi Bentrokan Warga 2 Desa di Lombok Tengah, 1 Orang Tewas

Fakta dan Kronologi Bentrokan Warga 2 Desa di Lombok Tengah, 1 Orang Tewas

Regional
Komunikasi Politik 'Anti-Mainstream' Komeng yang Uhuyy!

Komunikasi Politik "Anti-Mainstream" Komeng yang Uhuyy!

Regional
Membedah Strategi Komunikasi Multimodal ala Komeng

Membedah Strategi Komunikasi Multimodal ala Komeng

Regional
Kisah Ibu dan Bayinya Terjebak Banjir Bandang Berjam-jam di Demak

Kisah Ibu dan Bayinya Terjebak Banjir Bandang Berjam-jam di Demak

Regional
Warga Kendal Tewas Tertimbun Longsor Saat di Kamar Mandi, Keluarga Sempat Teriaki Korban

Warga Kendal Tewas Tertimbun Longsor Saat di Kamar Mandi, Keluarga Sempat Teriaki Korban

Regional
Balikpapan Catat 317 Kasus HIV Sepanjang 2023

Balikpapan Catat 317 Kasus HIV Sepanjang 2023

Regional
Kasus Kematian akibat DBD di Balikpapan Turun, Vaksinasi Tembus 60 Persen

Kasus Kematian akibat DBD di Balikpapan Turun, Vaksinasi Tembus 60 Persen

Regional
Puan: Seperti Bung Karno, PDI-P Selalu Berjuang Sejahterakan Wong Cilik

Puan: Seperti Bung Karno, PDI-P Selalu Berjuang Sejahterakan Wong Cilik

Regional
Setelah 25 Tahun Konflik Maluku

Setelah 25 Tahun Konflik Maluku

Regional
BMKG: Sumber Gempa Sumedang Belum Teridentifikasi, Warga di Lereng Bukit Diimbau Waspada Longsor

BMKG: Sumber Gempa Sumedang Belum Teridentifikasi, Warga di Lereng Bukit Diimbau Waspada Longsor

Regional
Gempa Sumedang, 53 Rumah Rusak dan 3 Korban Luka Ringan

Gempa Sumedang, 53 Rumah Rusak dan 3 Korban Luka Ringan

Regional
Malam Tahun Baru 2024, Jokowi Jajan Telur Gulung di 'Night Market Ngarsopuro'

Malam Tahun Baru 2024, Jokowi Jajan Telur Gulung di "Night Market Ngarsopuro"

Regional
Sekolah di Malaysia, Pelajar di Perbatasan Indonesia Berangkat Sebelum Matahari Terbit Tiap Hari

Sekolah di Malaysia, Pelajar di Perbatasan Indonesia Berangkat Sebelum Matahari Terbit Tiap Hari

Regional
Kisah Pengojek Indonesia dan Malaysia di Tapal Batas, Berbagi Rezeki di 'Rumah' yang Sama...

Kisah Pengojek Indonesia dan Malaysia di Tapal Batas, Berbagi Rezeki di "Rumah" yang Sama...

Regional
Menara Pengintai Khas Dayak Bidayuh Jadi Daya Tarik PLBN Jagoi Babang

Menara Pengintai Khas Dayak Bidayuh Jadi Daya Tarik PLBN Jagoi Babang

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com