Mantan Bupati Karanganyar Divonis 6 Tahun Penjara

Kompas.com - 17/02/2015, 14:40 WIB
Mantan Bupati Karanganyar, Rina Iriani dalam sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa (17/2/2015) Kompas.com/Nazar NurdinMantan Bupati Karanganyar, Rina Iriani dalam sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa (17/2/2015)
|
EditorGlori K. Wadrianto
SEMARANG, KOMPAS.com - Mantan Bupati Karanganyar, Jawa Tengah, Rina Iriani Sri Ratnaningsih divonis penjara enam tahun dalam perkara korupsi dan tindak pidana pencucian uang.

Hakim pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang juga menjatuhkan denda Rp 500 juta atau setara dengan tiga bulan kurungan. "Menyatakan terdakwa secara sah dan meyakinkan korupsi bersama-sama dan pencucian uang," kata Ketua Majelis Hakim, Dwiarso Budi Santiarto, Selasa (17/2/2015).

Dalam pertimbangannya, hakim menyimpulkan, selama menjadi Bupati Karanganyar 2003-2008 dan 2008-2013, Rina telah melakukan korupsi serta menyamarkan uang yang didapat dari hasil korupsi.

Perbuatan Rina juga telah memenuhi semua unsur yang termaktub dalam Pasal 3 ayat 1 Undang undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan diganti menjadi Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat 1 Ke-1 KUHP jo 64 ayat 1. Unsur itu antara lain menyalahgunakan wewenang, menguntungkan diri sendiri atau orang lain, dan merugikan keuangan negara.

"Selaku Bupati Rina merekomendasikan Koperasi Serba Usaha (KSU) Sejahtera pimpinan suaminya, untuk mendapat alokasi bantuan dari Kementerian Perumahan Rakyat (Kemnpera). Hakim menanggap terdakwa telah menguntungkan orang lain," kata Dwiarso.

Hakim juga menjatuhkan uang pengganti kerugian negara yang dinikmati Rina sebesar Rp 7,873 miliar. Permintaan ini lebih rendah dari tuntutan jaksa yang meminta Rp 11,8 miliar. Hakim tidak sependapat karena ada sejumlah uang yang tidak dinikmati oleh Rina.

Uang pengganti tersebut juga harus dibayarkan dalam satu bulan setelah mempunyai putusan tetap. Jika tidak dibayar, jaksa diperbolehkan menyita harta bendanya. Jika tidak mencukupi akan diganti dengan pidana penjara selama tiga tahun.

"Uang sebesar Rp 4 miliar untuk tim sukses Rina ketika maju sebagai kepala daerah tidak dapat dibebankan pada terdakwa. Uang tersebut dibayarkan oleh suami Rina tanpa persetujuannya," tambah dia.

Atas putusan ini, Rina langsung menolak putusan. Sementara jaksa masih menunda untuk menyatakan sikap. Hakim Dwiarso lantas memberi waktu sepekan untuk menentukan sikap. "Demi Allah, saya tidak melakukan korupsi. Saya akan terus berjuang," kata Rina usai putusan.

Sebelumnya, Rina dituntut pidana 10 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar atau subsider enam bulan kurungan dan uang pengganti sebesar Rp 11,8 miliar. Jaksa juga meminta agar hak politik untuk dipilih dan memilih Rina sebagai warga negara agar dicabut. 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

'Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat'

"Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat"

Regional
Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Regional
Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Regional
Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Regional
Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Regional
Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Regional
Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Regional
Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X