Letusan Kelud dan Ketangguhan Masyarakat Hadapi Bencana

Kompas.com - 13/02/2015, 18:32 WIB
Tim ekspedisi TNI melihat kondisi Gunung Kelud pascaerupsi, Sabtu (22/3/2014). 
 SURYA/DIDIK MASHUDITim ekspedisi TNI melihat kondisi Gunung Kelud pascaerupsi, Sabtu (22/3/2014).
|
EditorFarid Assifa
KEDIRI, KOMPAS.com - Tanggal 13 Februari 2014 lalu, Gunung Kelud di Jawa Timur meletus hebat. Letusan dahsyat itu menyisakan beberapa kisah, di antaranya ketangguhan masyarakat sekitar dalam menghadapi bencana geologi itu.

Setahun lalu, gunung yang mempunyai ketinggian 1.731 meter di atas permukaan laut itu meletus eksplosif. Sekitar 150 juta meter kubik material vulkanis yang terdiri dari abu, pasir, dan bebatuan tersembur dari dalam perut gunung. Lava pijar menyembur setinggi 17 kilometer. Tingginya semburan itu berkorelasi dengan jangkauan jatuhnya abu sehingga sebarannya menimpa hampir seluruh Jawa.

Saat itu sekitar 180.000 jiwa yang ada di sekitar Gunung Kelud mengungsi ke daerah aman. Mereka berasal dari 3 kabupaten, yakni Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar serta Kabupaten Malang.

Pola penyelamatan para pengungsi itu menjadi kisah sukses penanganan bencana gunung api skala nasional. Bagaimana tidak, ribuan jiwa itu bisa dievakuasi dalam jangka waktu yang relatif singkat, hanya dua jam, yaitu mulai pukul 21.15 WIB hingga pukul 22.50 WIB. Proses evakuasi pun berjalan lancar dan tertib serta tidak memakan korban jiwa.

Fase penanganan pascabencana pun berlangsung cukup baik. Kurang dari setahun, kehidupan masyarakat Kelud berangsur membaik dan sudah kembali berjalan seperti sedia kala. Mereka kembali beraktivitas normal.

Tangguh

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Sutopo Purwonugroho mengatakan, kelancaran penanganan pengungsi Kelud berkat ketangguhan dan kesiapan masyarakat menghadapi bencana. Kesiapan ini jauh lebih baik daripada letusan yang terjadi pada tahun 2007.

Menurut Sutopo, segenap komponen seperti camat, kepala desa, tokoh masyarakat, TNI, Polri, para relawan, maupun pengamat gunung api bersatu padu melaksanakan peran mereka masing-masing. Mereka juga mendidik masyarakat untuk memahami makna informasi status gunung serta apa yang harus diperbuat dalam setiap status tersebut.

Salah satu bagian dari pendidikan itu, lanjut Sutopo, adalah dengan menggelar gladi lapang evakuasi yang dilakukan secara masal di tiga desa. Kegiatan tersebut juga disebarluaskan ke masyarakat lainnya melalui saluran radio amatir di bawah RAPI maupun radio komunitas agar menjangkau masyarakat luas.

"Informasi mengalir dari satu sumber melalui saluran yang ada, sehingga masyarakat dapat menerima informasi satu makna, satu tafsir, tunggal," kata Sutopo dalam siaran pers tentang makna setahun erupsi Kelud, Jumat (13/2/2015).

Menurut Sutopo, masyarakat sekitar Kelud menjunjung tinggi nilai hormat dan harmoni. Hormat dalam arti memberi apresiasi kepada peran setiap orang dan sebaliknya menjalani peran yang diberikan dengan disiplin dan setia.

Sedangkan, harmoni diartikan sebagai sikap hidup yang selaras dengan alam. Bagi masyarakat Kelud, hidup selaras dengan alam adalah penting. Mereka juga diberi kesadaran secara turun temurun bahwa abu Kelud adalah warisan bagi anak cucu kelak.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cerita di Balik Sukiyah, Hidup Seorang Diri dengan Berteman Gelap hingga Rambut Jadi Sarang Tikus

Cerita di Balik Sukiyah, Hidup Seorang Diri dengan Berteman Gelap hingga Rambut Jadi Sarang Tikus

Regional
Duduk Perkara Pembunuhan Pelajar SMA yang Hilang Ditemukan Jadi Tenggorak

Duduk Perkara Pembunuhan Pelajar SMA yang Hilang Ditemukan Jadi Tenggorak

Regional
Pipa PDAM Malang Pecah, Emil: Pemprov Jatim Upayakan Perbaikan

Pipa PDAM Malang Pecah, Emil: Pemprov Jatim Upayakan Perbaikan

Regional
Kisah Ardian, Mantan Pencuri Beras yang Kini Jadi Relawan Penolong Sukiyah dari Rambut 2 Meter Sarang Tikus

Kisah Ardian, Mantan Pencuri Beras yang Kini Jadi Relawan Penolong Sukiyah dari Rambut 2 Meter Sarang Tikus

Regional
Fakta Kapal TKI Ilegal Tenggelam di Selat Malaka, 9 Penumpang Belum Ditemukan hingga Polisi Tetapkan Dua Tersangka

Fakta Kapal TKI Ilegal Tenggelam di Selat Malaka, 9 Penumpang Belum Ditemukan hingga Polisi Tetapkan Dua Tersangka

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kisah Sukiyah, Rambut 2 Meter Jadi Sarang Tikus | Pembunuhan Pelajar SMA di Bengkulu

[POPULER NUSANTARA] Kisah Sukiyah, Rambut 2 Meter Jadi Sarang Tikus | Pembunuhan Pelajar SMA di Bengkulu

Regional
Atap Ruko Roboh Timpa 4 Anak, 1 Tewas di Tempat, 1 Kritis

Atap Ruko Roboh Timpa 4 Anak, 1 Tewas di Tempat, 1 Kritis

Regional
Bertemu Sukiyah yang Miliki Rambut 2 Meter Jadi Sarang Tikus Paling Menggetarkan Hati Ardian

Bertemu Sukiyah yang Miliki Rambut 2 Meter Jadi Sarang Tikus Paling Menggetarkan Hati Ardian

Regional
KM Wingston Tenggelam di Perairan Kualatanjung, Sumut, 8 Orang Selamat, 3 Hilang

KM Wingston Tenggelam di Perairan Kualatanjung, Sumut, 8 Orang Selamat, 3 Hilang

Regional
Sosok Ardian, Relawan Penolong Sukiyah dari Rambut 2 Meter Sarang Tikus: Mantan Residivis Keluar Masuk Penjara

Sosok Ardian, Relawan Penolong Sukiyah dari Rambut 2 Meter Sarang Tikus: Mantan Residivis Keluar Masuk Penjara

Regional
Dipaksa Bersetubuh oleh Ayah Kandung, Korban Alami Gangguan Kejiwaan

Dipaksa Bersetubuh oleh Ayah Kandung, Korban Alami Gangguan Kejiwaan

Regional
Ricuh Warga Mandala Medan karena Konflik Sosial, Bukan Agama

Ricuh Warga Mandala Medan karena Konflik Sosial, Bukan Agama

Regional
Faktor Umur, Neneng, Gajah Berusia 55 Tahun di Kebun Binatang Medan Mati

Faktor Umur, Neneng, Gajah Berusia 55 Tahun di Kebun Binatang Medan Mati

Regional
18 TKI Ilegal Gagal ke Malaysia Akibat Kapalnya Tenggelam, 9 Orang Masih Dicari

18 TKI Ilegal Gagal ke Malaysia Akibat Kapalnya Tenggelam, 9 Orang Masih Dicari

Regional
2 Hari Diguyur Hujan Deras, Kabupaten Lahat dan Empat Lawang Diterjang Banjir dan Longsor

2 Hari Diguyur Hujan Deras, Kabupaten Lahat dan Empat Lawang Diterjang Banjir dan Longsor

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X