OC Kaligis: Saya Sudah 48 Tahun Jadi Pengacara, Mana Mungkin Bisa Pengaruhi Saksi

Kompas.com - 10/02/2015, 18:25 WIB
Pengacara senior OC Kaligis KOMPAS/HENDRA A SETYAWANPengacara senior OC Kaligis
|
EditorFarid Assifa
SEMARANG, KOMPAS.com – Ketua Tim Kuasa Hukum Mantan Bupati Karanganyar Rina Iriani, OC Kaligis, masih menyimpan kekesalannya terkait kliennya yang kini masih ditahan di Rumah Tahanan Wanita Kelas II A Bulu Kota Semarang. Menurut Kaligis, alasan penahanan karena khawatir mempengaruhi saksi tidak mungkin terjadi, apalagi dilakukan oleh terdakwa yang merupakan kliennya. [Baca: Mantan Bupati Terkulai Lemas karena Akan Ditahan, Kuasa Hukum Minta Penundaan].

“Saya sudah 48 tahun jadi pengacara, mana mungkin bisa pengaruhi saksi. Alasan yang tidak bisa diterima,” kata Kaligis seusai sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang, Selasa (10/2/2015).

Menurut Kaligis, kasus yang menjerat Rina nantinya haruslah berakhir pada pemberian vonis bebas pada terdakwa. Hal demikian didasarkan klaim temuan dari Badan Pemeriksa Keuangan yang menyebut tidak ada indikasi kerugian negara dalam kasus Griya Lawu Asri.

Selain itu, dia juga menilai, bukti yang dibawa jaksa di persidangan tidak kuat. Apalagi, bukti yang ada hanya berupa fotokopi, sementara surat yang asli tidak dijadikan sebagai bukti yang menjerat kliennya.

“Bukti dari kami bilang hasil BPK menyebut saat bu Rina jadi Bupati tahun 2003-2013 tidak ada kerugian negara. Selain itu, ada juga surat dokumen palsu yang dibawa, itu ditandangani oleh orang lain,” beber Kaligis.

Pihaknya pun berharap agar hakim memberi vonis bebas pada terdakwa Rina Iriani.

“Bupati Kendal saja tidak ditahan. Kami mengimbau agar bisa divonis bebas,” serunya.

Rina dituntut pidana sepuluh tahun, denda Rp 1 miliar atau subsider enam bulan kurungan. Mantan Bupati Karanganyar itu dinilai secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 2 ayat 1 jo Pasal 18 UU 30/1999 yang ditambahkan dalam UU No 20/2001 tentang Pemberantasan Korupsi jo Pasal 65 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Rina juga dinilai bersalah melanggar dakwaan Pasal 3 UU No 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Sebelumnya, sidang putusan kasus Rina batal digelar lantaran majelis hakim belum siap, karena masih membutuhkan musyawarah. Kebutuhan waktu yang lebih lama diperlukan karena hakim harus menyimpulkan dua perkara yang menjerat Rina, yakni korupsi dan pencucian uang. [Baca: Sidang Selesai, Mantan Bupati Karanganyar Ingin Luncurkan Album Musik]



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

16.909 Guru dan Tenaga Kependidikan di DIY Bakal Divaksin Covid-19 Tahap 2

16.909 Guru dan Tenaga Kependidikan di DIY Bakal Divaksin Covid-19 Tahap 2

Regional
DPRD Sumbar Minta BPK Audit Dana Penanganan Covid-19 Rp 49 Miliar

DPRD Sumbar Minta BPK Audit Dana Penanganan Covid-19 Rp 49 Miliar

Regional
Relokasi Korban Longsor Nganjuk Harus Pertimbangkan Aspek Sosial-Budaya

Relokasi Korban Longsor Nganjuk Harus Pertimbangkan Aspek Sosial-Budaya

Regional
BCA Bantah Laporkan Ardi Soal Kasus Salah Transfer Rp 51 Juta: Itu Mantan Karyawan

BCA Bantah Laporkan Ardi Soal Kasus Salah Transfer Rp 51 Juta: Itu Mantan Karyawan

Regional
Asal-usul Tegal, dari Pelaut Portugis hingga Cerita Ki Gede Sebayu

Asal-usul Tegal, dari Pelaut Portugis hingga Cerita Ki Gede Sebayu

Regional
Tradisi Sarapan Para Raja di Keraton Yogyakarta, dari Teh, Susu Cokelat hingga Gudeg

Tradisi Sarapan Para Raja di Keraton Yogyakarta, dari Teh, Susu Cokelat hingga Gudeg

Regional
Hiperaktif, Bocah 9 Tahun Penyandang Disabilitas Diikat ke Pohon dan Dikurung Dalam Rumah

Hiperaktif, Bocah 9 Tahun Penyandang Disabilitas Diikat ke Pohon dan Dikurung Dalam Rumah

Regional
Asal-usul Kue Batang Buruk, Saksi Perjalanan Cinta Sang Putri Kerajaan Bintan

Asal-usul Kue Batang Buruk, Saksi Perjalanan Cinta Sang Putri Kerajaan Bintan

Regional
Pesona Mata Biru dari Siompu

Pesona Mata Biru dari Siompu

Regional
Terduga Pembunuh Pemilik Toko di Blitar Terekam CCTV, Kenakan Hoodie dan Masker

Terduga Pembunuh Pemilik Toko di Blitar Terekam CCTV, Kenakan Hoodie dan Masker

Regional
Gunung Merapi Kembali Keluarkan Awan Panas Guguran, Meluncur hingga 1.000 Meter

Gunung Merapi Kembali Keluarkan Awan Panas Guguran, Meluncur hingga 1.000 Meter

Regional
Imbas Ardi Dipenjara karena Pakai Uang Salah Transfer, Anaknya Tak Bisa Dibawa Berobat

Imbas Ardi Dipenjara karena Pakai Uang Salah Transfer, Anaknya Tak Bisa Dibawa Berobat

Regional
Teriakan “Adikku… Adikku…” Sambut Kedatangan Jenazah Korban Penembakan di Kafe RM Cengkareng

Teriakan “Adikku… Adikku…” Sambut Kedatangan Jenazah Korban Penembakan di Kafe RM Cengkareng

Regional
Bayi 6 Bulan Tinggal Bersama Ibunya di Tahanan, Karutan Lhoksukon Dihubungi Sejumlah Politikus

Bayi 6 Bulan Tinggal Bersama Ibunya di Tahanan, Karutan Lhoksukon Dihubungi Sejumlah Politikus

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 27 Februari 2021

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 27 Februari 2021

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X