Kompas.com - 08/02/2015, 16:02 WIB
Sejumlah warga di Ambon memburu pakaian bekas di kawasan Mardika, Jumat (6/2/2015). KOMPAS.com/ RAHMAN PATTYSejumlah warga di Ambon memburu pakaian bekas di kawasan Mardika, Jumat (6/2/2015).
|
EditorCaroline Damanik

AMBON, KOMPAS.com - Pedagang pakaian bekas impor di kawasan Pasar Mardika Ambon berharap pemerintah tidak menghalangi usaha mereka dengan mengeluarkan kebijakan yang melarang penjualan pakaian bekas.

“Kami dengar-dengar katanya sih akan ada larangan penjualan pakaian bekas. jika itu benar kami bermohon agar usaha kami selama ini jangan dihalangi,” ungkap Samiun saat ditemui, Minggu (8/2/2015).

Menurut Samiun, usaha penjualan pakaian bekas impor telah menjadi mata pencaharian banyak pedagang di Ambon sejak lama. Oleh karena itu, kebijakan tersebut dinilai hanya akan mematikan mata pencaharian pedagang.

“Terus terang saja, saya dan teman-teman disini sudah belasan tahun bahkan ada yang lebih dari 20 tahun berjualan pakaian bekas ini jadi kalau mau dilarang rasanya akan sangat tidak adil bagi kami,” ujarnya.

Menurut dia, para pedagang di Pasar Mardika kini mulai khawatir karena ada informasi yang beredar pemerintah akan melarang penjualan pakaian bekas. Selain itu, Samiun menilai tidak pernah ada pembelinya yang mengeluh kena penyakit kulit karena membeli pakaian bekas yang dijualnya.

“Belasan tahun saya menjual pakaian bekas tapi tidak ada warga yang mengeluh kena penyakit kulit. Lagian warga yang membeli pakaian bekas mereka juga tahu harus cuci dulu sampai bersih baru dipakai,” ungkapnya.

Pedagang lainnya, Ona, mengaku bisnis pakaian bekas sangat dirasakan manfaatnya tidak hanya bagi para pedagang tetapi juga bagi warga khususnya yang menengah ke bawah. Karena itu, jika ada niat pemerintah untuk melarang penjualan pakaian bekas maka dampaknya tidak hanya bagi pedagang tetapi juga bagi masyarakat miskin.

“Jujur saja Pak, warga yang datang membeli pakaian bekas itu umumnya warga menengah ke bawah. Mereka selalu mengatakan di toko pakaiannya mahal hanya bisa dibeli oleh orang kaya makanya mereka datang ke sini,” ujarnya.

Pemerintah lewat Kementerian Perdagangan sendiri menyebutkan bahwa penjualan pakaian bekas impor mengandung bakteri dan sangat berbahaya bagi kesehatan warga.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Golkar Gelar Baksos di Salatiga, Jateng, Warga: Kami Sekarang Kenal Pak Airlangga

Golkar Gelar Baksos di Salatiga, Jateng, Warga: Kami Sekarang Kenal Pak Airlangga

Regional
Jan Ethes Raih Medali Emas Kejuaraan Taekwondo Piala Wali Kota Solo

Jan Ethes Raih Medali Emas Kejuaraan Taekwondo Piala Wali Kota Solo

Regional
Kuatkan Program Ketahanan Pangan, Dompet Dhuafa Hadirkan 'Sentra Padi Subang'

Kuatkan Program Ketahanan Pangan, Dompet Dhuafa Hadirkan "Sentra Padi Subang"

Regional
Peduli Warga Terdampak Pandemi di Salatiga, Partai Golkar Gelar Baksos dan Pengobatan Gratis

Peduli Warga Terdampak Pandemi di Salatiga, Partai Golkar Gelar Baksos dan Pengobatan Gratis

Regional
Turunkan Angka Kemiskinan di Jateng, Ganjar Targetkan Pembangunan 100.000 RSLH

Turunkan Angka Kemiskinan di Jateng, Ganjar Targetkan Pembangunan 100.000 RSLH

Regional
8 Peristiwa Viral karena Gunakan Google Maps, dari Sekeluarga Tersesat di Hutan hingga Truk Masuk Jurang

8 Peristiwa Viral karena Gunakan Google Maps, dari Sekeluarga Tersesat di Hutan hingga Truk Masuk Jurang

Regional
Semangati Pengusaha Jasa Dekorasi, Wagub Jatim: Jangan Pernah Kendur dan Pesimis

Semangati Pengusaha Jasa Dekorasi, Wagub Jatim: Jangan Pernah Kendur dan Pesimis

Regional
Kepada Kepala Daerah di Jatim, Wagub Emil: Mari Kita Pastikan Tidak Ada Pungutan Liar di SMA/SMK

Kepada Kepala Daerah di Jatim, Wagub Emil: Mari Kita Pastikan Tidak Ada Pungutan Liar di SMA/SMK

Regional
Kisah Warga Desa Pana di NTT Alami Krisis Air Bersih, Kini Teraliri Harapan Pun Bersemi

Kisah Warga Desa Pana di NTT Alami Krisis Air Bersih, Kini Teraliri Harapan Pun Bersemi

Regional
DMC Dompet Dhuafa Gelar Aksi Bersih-bersih Rumah Warga Terdampak Gempa Banten

DMC Dompet Dhuafa Gelar Aksi Bersih-bersih Rumah Warga Terdampak Gempa Banten

Regional
Tanggapan Tim Ahli LPPM ULM, Usai Uji Coba Raperda Jalan Khusus DPRD Tanah Bumbu

Tanggapan Tim Ahli LPPM ULM, Usai Uji Coba Raperda Jalan Khusus DPRD Tanah Bumbu

Regional
BPS Catat Penurunan Angka Penduduk Miskin Jateng hingga 175.740 Orang

BPS Catat Penurunan Angka Penduduk Miskin Jateng hingga 175.740 Orang

Regional
Berdayakan Masyarakat Jateng, Ganjar Dapat Penghargaan dari Baznas

Berdayakan Masyarakat Jateng, Ganjar Dapat Penghargaan dari Baznas

Regional
Ada Kasus Omricon di Kabupaten Malang, Wagub Emil Pastikan Terapkan PPKM Mikro Tingkat RT

Ada Kasus Omricon di Kabupaten Malang, Wagub Emil Pastikan Terapkan PPKM Mikro Tingkat RT

Regional
Zakat ASN Pemprov Jateng 2021 Terkumpul Rp 57 Miliar, Berikut Rincian Penyalurannya

Zakat ASN Pemprov Jateng 2021 Terkumpul Rp 57 Miliar, Berikut Rincian Penyalurannya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.