Pasang Surut Pelestarian Rencong Aceh

Kompas.com - 08/02/2015, 13:25 WIB
Pedagang cendera mata menunjukkan produk rencong di salah satu toko cendera mata di Banda Aceh, Jumat (6/2). Pedagang mengaku rencong kurang diminati masyarakat. Pembeli dari luar Aceh umumnya ragu membeli rencong karena khawatir ditahan di bandara. Kondisi ini memicu penjualan rencong kurang optimal. Akibatnya, perajin sulit memasarkan rencong sehingga usaha produksi rencong pun semakin merosot dari tahun ke tahun. KOMPAS/Adrian FajriansyahPedagang cendera mata menunjukkan produk rencong di salah satu toko cendera mata di Banda Aceh, Jumat (6/2). Pedagang mengaku rencong kurang diminati masyarakat. Pembeli dari luar Aceh umumnya ragu membeli rencong karena khawatir ditahan di bandara. Kondisi ini memicu penjualan rencong kurang optimal. Akibatnya, perajin sulit memasarkan rencong sehingga usaha produksi rencong pun semakin merosot dari tahun ke tahun.
EditorCaroline Damanik

KOMPAS.com - Di sebuah bangunan berukuran 3 x 2 meter, tangan Faisal (24) tampak cekatan menggunakan kikir untuk menghaluskan sebuah besi kuningan sepanjang 30 sentimeter. Tatap matanya fokus merapikan setiap sisi logam itu hingga halus dan terbentuk menjadi senjata bernama rencong, sebuah senjata khas Aceh. Faisal adalah perajin rencong di Desa Baet Lampuot, Kecamatan Sibreh, Kabupaten Aceh Besar.

Baet Lampuot merupakan salah satu dari tiga desa yang menjadi pusat pembuatan rencong di Aceh Besar, selain Desa Baet Masjid Mesjid dan Desa Baet Meusagoe. Faisal menjadi perajin rencong mengikuti orangtuanya. Apalagi desa itu telah menjadi pusat pembuat rencong di Aceh jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. ”Saya membuat rencong mengikuti ayah saya, sedangkan ayah saya membuat rencong mengikuti kakek saya. Adapun kakek saya membuat rencong mengikuti buyut saya. Kami sudah turun-temurun menjadi pembuat rencong,” ujarnya ketika ditemui Kompas, Jumat (6/2).

Mayoritas perajin membuat rencong dengan cara tradisional. Proses pembuatan rencong dimulai dari melumerkan bahan, yakni besi kuningan ataupun besi putih. Kemudian, bahan itu dicetak menjadi mata rencong. Perajin bisa menghasilkan 15-20 mata rencong per kilogram bahan. Proses ini bisa memakan waktu 18-20 jam per hari.

Tahap selanjutnya, Faisal menerangkan, perajin harus membersihkan ataupun merapikan sisi mata rencong menjadi lebih halus. Setelah rencong halus, perajin membuat gagang dan sarung yang umumnya terbuat dari tanduk kerbau. Proses ini memakan waktu sekitar 10 jam per hari ”Tahapan ini butuh ketelitian sehingga perajin hanya bisa membuat rencong siap jual 1-2 unit per hari,” ucapnya.


Para perajin mengeluarkan modal membeli besi kuningan sekitar Rp 40.000-Rp 50.000 per kilogram ataupun besi putih sekitar Rp 20.000-Rp 25.000 per kilogram, sedangkan membeli bahan tanduk kerbau sekitar Rp 30.000 per pasang. ”Modal ini cukup tinggi bagi perajin. Apalagi perajin hanya mendapat keuntungan menjual rencong sekitar Rp 10.000-20.000 per unit,” kata Faisal.

Proses penjualan rencong biasanya disalurkan langsung perajin ke toko cendera mata di Banda Aceh ataupun diambil langsung oleh agen cendera mata ke desa itu. Kendati demikian, Faisal mengungkapkan, tidak semua rencong bisa laku terjual dalam sehari. Kadang rencong tidak laku karena masih banyak stok di toko cendera mata. Adapula toko ataupun agen cendera mata yang mengambil rencong, tetapi bayarnya nanti ketika rencong sudah laku terjual.

”Rencong banyak terjual hanya ketika ada acara besar di Aceh, seperti menjelang peringatan tsunami pada akhir tahun. Selebihnya, rencong sulit terjual karena wisatawan, terutama yang menggunakan pesawat terbang, takut membawanya ke bandara,” tuturnya.

Kelestarian terancam

Kepala Mukim Sibreh, Abubakar (51), mengatakan, pihaknya berupaya untuk mempertahankan tradisi rencong di tiga desa itu. Namun, besarnya modal dan tidak pastinya, keberlanjutan perajin rencong kian terancam. ”Bahkan, jumlah perajin rencong pun terus menyusut dari tahun ke tahun,” katanya.

Abubakar menggambarkan, jumlah tempat pembuatan rencong ada 68 dapur di tiga desa pada sekitar 10 tahun lalu atau pasca tsunami 2004. Ketika itu, para pembuat rencong mendapatkan bantuan modal dari Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh-Nias.

”Bantuan itu membuat para perajin semangat. Apalagi permintaan terhadap rencong tinggi, terutama dari para sukarelawan ataupun staf NGO yang membantu proses rekonstruksi dan rehabiliasi Aceh pasca tsunami,” ucapnya.

Pada perkembangannya, Abubakar menyampaikan, tempat pembuatan rencong berkurang menjadi hanya 34 dapur di tiga desa itu hingga saat ini. Jumlah perajinnya pun dari sekitar 200 orang 10 tahun lalu menjadi sekitar 100 orang. ”Kondisi itu akibat terus naiknya biaya modal dan tidak pastinya pasar. Apalagi perhatian pemerintah tidak ada sama sekali,” katanya.

Kini, Abubakar menuturkan, para perajin rencong banyak beralih profesi menjadi pekerja bangunan ataupun penjaga warung di Banda Aceh. Adapun perajin rencong yang tersisa sebagian besar berusia lebih dari 50 tahun.

Sejumlah perajin menilai, jika tidak ada perhatian yang lebih baik dari pemerintah, perajin rencong akan terus berkurang. Sangat boleh jadi 10 tahun lagi sudah tidak ada lagi rencong di Aceh, sebab tidak ada orang yang mau membuatnya,” ujar Mahdi Ismail (45), perajin rencong di Desa Baet Lampuot berapi-api.

Perubahan fungsi

Dosen sejarah pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) sekaligus Kepala Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya Unsyiah, Husaini Ibrahim, mengatakan, rencong adalah senjata tradisional khas Aceh. Senjata ini menjadi jati diri berupa simbol keyakinan, kewibawaan, dan keberanian masyarakat Aceh.

Rencong dikenal sejak awal masuk Islam ke Aceh antara abad 9-13 Masehi. Pembuatan rencong diilhami dari tulisan basmalah dalam aksara Arab. Untuk itu, rencong menjadi simbol keyakinan masyarakat Aceh yang mayoritas beragama Islam.

Keberadaaan rencong pun menjadi simbol kewibawaan masyarakat Aceh, terutama masa Kesultanan Aceh Darussalam antara abad 14-18 Masehi. Semakin mewah rencong yang digunakan menunjukkan semakin tinggi peran penggunaannya di tengah masyarakat.

Memasuki masa kolonial Belanda maupun Jepang di Aceh, rencong jadi simbol keberanian masyarakat Aceh dalam menghadapi ataupun melawan penjajah. Saat itu, semua masyarakat Aceh, terutama laki-laki menyematkan rencong dipinggangnya. ”Karena peran yang penting ketika itu, rencong dibuat hampir di seluruh Aceh,” ujarnya.

Namun, Husaini menerangkan, peran rencong kian berkurang ketika memasuki masa konflik di Aceh, terutama ketika terjadi pemberontakan DI/TII di Aceh pada 1950-an. Saat itu, masyarakat Aceh dilarang membawa rencong. Akibatnya, permintaan rencong berkurang. Hal ini memicu kian berkurangnya perajin rencong hingga tersisa di kawasan Aceh Besar dan Aceh Utara.

Husaini menambahkan, paling tidak rencong mulai dilirik lagi pasca tsunami 2004 atau perundingan damai antara Gerakan Aceh Merdeka dan Indonesia pada 2005. Rencong marak dibuat lagi menjadi cendera mata khas Aceh. Adapun di masyarakat, rencong digunakan untuk perlengkapan pakaian pesta pernikahan dan tari seudati.

Namun kondisi itu sangat riskan bagi keberadaan rencong. Apalagi rencong sebagai cendera mata hanya dicari oleh wisatawan. Di sisi lain, banyak wisatawan yang enggan membeli rencong karena takut tidak lolos di bandara. Kondisi ini dibenarkan oleh para pedagang rencong. ”Akibatnya, penjualan rencong cenderung rendah, yakni hanya 10-20 unit per bulan. Jumlah itu sangat kecil dibandingkan penjualan tas bordir khas Aceh sekitar 50 unit dan kaus khas Aceh mencapai 100 unit per bulan,” ujar Lina (22), penjaga toko cendera mata khas Aceh di Peunoayong, Banda Aceh.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Reza Fahlevi menuturkan, pihaknya sadar keberadaan rencong kian terancam. Apalagi minat generasi muda jadi perajin rencong sangat minim. ”Untuk itu, kami dan sejumlah instansi pemerintah terus melakukan sosialisasi dan mempromosikan rencong, serta berupaya menjaga pasarnya,” tuturnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber KOMPAS
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X