Pasang Surut Pelestarian Rencong Aceh

Kompas.com - 08/02/2015, 13:25 WIB
Pedagang cendera mata menunjukkan produk rencong di salah satu toko cendera mata di Banda Aceh, Jumat (6/2). Pedagang mengaku rencong kurang diminati masyarakat. Pembeli dari luar Aceh umumnya ragu membeli rencong karena khawatir ditahan di bandara. Kondisi ini memicu penjualan rencong kurang optimal. Akibatnya, perajin sulit memasarkan rencong sehingga usaha produksi rencong pun semakin merosot dari tahun ke tahun. KOMPAS/Adrian FajriansyahPedagang cendera mata menunjukkan produk rencong di salah satu toko cendera mata di Banda Aceh, Jumat (6/2). Pedagang mengaku rencong kurang diminati masyarakat. Pembeli dari luar Aceh umumnya ragu membeli rencong karena khawatir ditahan di bandara. Kondisi ini memicu penjualan rencong kurang optimal. Akibatnya, perajin sulit memasarkan rencong sehingga usaha produksi rencong pun semakin merosot dari tahun ke tahun.
EditorCaroline Damanik

”Bantuan itu membuat para perajin semangat. Apalagi permintaan terhadap rencong tinggi, terutama dari para sukarelawan ataupun staf NGO yang membantu proses rekonstruksi dan rehabiliasi Aceh pasca tsunami,” ucapnya.

Pada perkembangannya, Abubakar menyampaikan, tempat pembuatan rencong berkurang menjadi hanya 34 dapur di tiga desa itu hingga saat ini. Jumlah perajinnya pun dari sekitar 200 orang 10 tahun lalu menjadi sekitar 100 orang. ”Kondisi itu akibat terus naiknya biaya modal dan tidak pastinya pasar. Apalagi perhatian pemerintah tidak ada sama sekali,” katanya.

Kini, Abubakar menuturkan, para perajin rencong banyak beralih profesi menjadi pekerja bangunan ataupun penjaga warung di Banda Aceh. Adapun perajin rencong yang tersisa sebagian besar berusia lebih dari 50 tahun.

Sejumlah perajin menilai, jika tidak ada perhatian yang lebih baik dari pemerintah, perajin rencong akan terus berkurang. Sangat boleh jadi 10 tahun lagi sudah tidak ada lagi rencong di Aceh, sebab tidak ada orang yang mau membuatnya,” ujar Mahdi Ismail (45), perajin rencong di Desa Baet Lampuot berapi-api.

Perubahan fungsi

Dosen sejarah pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) sekaligus Kepala Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya Unsyiah, Husaini Ibrahim, mengatakan, rencong adalah senjata tradisional khas Aceh. Senjata ini menjadi jati diri berupa simbol keyakinan, kewibawaan, dan keberanian masyarakat Aceh.

Rencong dikenal sejak awal masuk Islam ke Aceh antara abad 9-13 Masehi. Pembuatan rencong diilhami dari tulisan basmalah dalam aksara Arab. Untuk itu, rencong menjadi simbol keyakinan masyarakat Aceh yang mayoritas beragama Islam.

Keberadaaan rencong pun menjadi simbol kewibawaan masyarakat Aceh, terutama masa Kesultanan Aceh Darussalam antara abad 14-18 Masehi. Semakin mewah rencong yang digunakan menunjukkan semakin tinggi peran penggunaannya di tengah masyarakat.

Memasuki masa kolonial Belanda maupun Jepang di Aceh, rencong jadi simbol keberanian masyarakat Aceh dalam menghadapi ataupun melawan penjajah. Saat itu, semua masyarakat Aceh, terutama laki-laki menyematkan rencong dipinggangnya. ”Karena peran yang penting ketika itu, rencong dibuat hampir di seluruh Aceh,” ujarnya.

Namun, Husaini menerangkan, peran rencong kian berkurang ketika memasuki masa konflik di Aceh, terutama ketika terjadi pemberontakan DI/TII di Aceh pada 1950-an. Saat itu, masyarakat Aceh dilarang membawa rencong. Akibatnya, permintaan rencong berkurang. Hal ini memicu kian berkurangnya perajin rencong hingga tersisa di kawasan Aceh Besar dan Aceh Utara.

Husaini menambahkan, paling tidak rencong mulai dilirik lagi pasca tsunami 2004 atau perundingan damai antara Gerakan Aceh Merdeka dan Indonesia pada 2005. Rencong marak dibuat lagi menjadi cendera mata khas Aceh. Adapun di masyarakat, rencong digunakan untuk perlengkapan pakaian pesta pernikahan dan tari seudati.

Namun kondisi itu sangat riskan bagi keberadaan rencong. Apalagi rencong sebagai cendera mata hanya dicari oleh wisatawan. Di sisi lain, banyak wisatawan yang enggan membeli rencong karena takut tidak lolos di bandara. Kondisi ini dibenarkan oleh para pedagang rencong. ”Akibatnya, penjualan rencong cenderung rendah, yakni hanya 10-20 unit per bulan. Jumlah itu sangat kecil dibandingkan penjualan tas bordir khas Aceh sekitar 50 unit dan kaus khas Aceh mencapai 100 unit per bulan,” ujar Lina (22), penjaga toko cendera mata khas Aceh di Peunoayong, Banda Aceh.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Reza Fahlevi menuturkan, pihaknya sadar keberadaan rencong kian terancam. Apalagi minat generasi muda jadi perajin rencong sangat minim. ”Untuk itu, kami dan sejumlah instansi pemerintah terus melakukan sosialisasi dan mempromosikan rencong, serta berupaya menjaga pasarnya,” tuturnya.

Halaman:


Sumber KOMPAS
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Warga Perbatasan RI-Malaysia Sulit Dapat BBM, Orang Sakit Terpaksa Ditandu 20 Km

Warga Perbatasan RI-Malaysia Sulit Dapat BBM, Orang Sakit Terpaksa Ditandu 20 Km

Regional
Perempuan Tanpa Busana Muncul di Belakangnya Saat Webinar, Ini Klarifikasi Dosen Uncen

Perempuan Tanpa Busana Muncul di Belakangnya Saat Webinar, Ini Klarifikasi Dosen Uncen

Regional
Wali Kota Bitung Berencana Pesan Ribuan Antivirus Corona Buatan Kementan

Wali Kota Bitung Berencana Pesan Ribuan Antivirus Corona Buatan Kementan

Regional
Tambah 9 Pasien, Positif Corona DIY Kini 396 Kasus

Tambah 9 Pasien, Positif Corona DIY Kini 396 Kasus

Regional
Sara Connor, Pelaku Pembunuhan Polisi di Bali Bebas Besok

Sara Connor, Pelaku Pembunuhan Polisi di Bali Bebas Besok

Regional
Wagub Positif Terinfeksi Covid-19, Seluruh Ruangan Kantor Gubernur Kaltim Disterilisasi

Wagub Positif Terinfeksi Covid-19, Seluruh Ruangan Kantor Gubernur Kaltim Disterilisasi

Regional
Dicopot karena Video TikTok Tari Ular di Atas Meja, Kadis Bondowoso Turun Jadi Staf

Dicopot karena Video TikTok Tari Ular di Atas Meja, Kadis Bondowoso Turun Jadi Staf

Regional
Ini Alasan 64 Kepala Sekolah di Riau Mengundurkan Diri dari Jabatannya

Ini Alasan 64 Kepala Sekolah di Riau Mengundurkan Diri dari Jabatannya

Regional
Kapal Nelayan Terbalik Dihantam Ombak di Pantai Ngrenehan Gunungkidul

Kapal Nelayan Terbalik Dihantam Ombak di Pantai Ngrenehan Gunungkidul

Regional
2 Bulan Tertahan di Papua Nugini, 94 WNI Akhirnya Kembali ke Tanah Air

2 Bulan Tertahan di Papua Nugini, 94 WNI Akhirnya Kembali ke Tanah Air

Regional
Dokter Sarankan Hati Hewan Kurban Tidak Dikonsumsi, Ini Alasannya

Dokter Sarankan Hati Hewan Kurban Tidak Dikonsumsi, Ini Alasannya

Regional
Wagub Kaltim Terinfeksi Covid-19: Tidak Batuk, Pusing, dan Demam

Wagub Kaltim Terinfeksi Covid-19: Tidak Batuk, Pusing, dan Demam

Regional
Kadis Bondowoso Dicopot karena Video TikTok Tari Ular di Atas Meja Bersama Perempuan

Kadis Bondowoso Dicopot karena Video TikTok Tari Ular di Atas Meja Bersama Perempuan

Regional
Covi dan Vivid, 2 Bayi Harimau Benggala Koleksi Semarang Zoo, Lahir Saat Pandemi

Covi dan Vivid, 2 Bayi Harimau Benggala Koleksi Semarang Zoo, Lahir Saat Pandemi

Regional
Konsumsi Sabu, Anak Salah Satu Pejabat di Kaltim Ditangkap Polisi

Konsumsi Sabu, Anak Salah Satu Pejabat di Kaltim Ditangkap Polisi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X