Kompas.com - 07/02/2015, 04:10 WIB
|
EditorBayu Galih

NUNUKAN, KOMPAS.com - Pemerintah Malaysia kembali mendeportasi 147 tenaga kerja Indonesia melalui pelabuhan Tunon Taka Nunukan Kalimantan Utara. Sebanyak 147 TKI tersebut diangkut menggunakan KM Labuan Ekspres yang sandar di pelabuhan Tunon Taka Nunukan, Jumat (6/2/2015) sekitar pukul 20.00 WITA.

Mayoritas TKI tersebut dipulangkan karena tidak memiliki dokumen sah. Sementara 23 TKI mengaku memiliki dokumen dan memasuki negara Malaysia secara legal, namun dokumen yang mereka miliki sudah kedaluwarasa.

Di antara TKI yang dideportasi melalui Nunukan, salah satunya adalah bayi bernama Bendeana. Bayi itu milik Nuraini (24), yang ditangkap polisi Malaysia usai melahirkan.

Nuraini bersama anaknya terpaksa menghuni tempat penampungan sementara (TPS) Rumah Merah Cimani.

”Saya ditangkap usai melahirkan. Saya di Malaysia kerja di kedai (toko). Ditangkap karena tidak memiliki dokumen.” ujar Nuraini, Jumat (6/2/2015).

Beberapa TKI yang dideportasi ke Nunukan bahkan lahir di Malaysia. Salah satunya adalah Rusdi, kelahiran Kuna, 24 September 1994. Rusdi mengaku bekerja sebagai nelayan. Meski memiliki surat lahir dari Negara Malaysia, namun Rusdi tetap dideportasi ke Nunukan. Rusdi mengaku akan mencari ibunya yang kebetulan pulang ke Majene, Sulawesi Selatan.

“Saya pakai surat beranak, tapi saya orang asing. Saya masuk di TPS Airpanas di Tawau selama satu bulan. Saya mau mencari ibu di Majene," ucapnya.

Sementara TKI bernama Sutiyah (43) yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat, mengaku dianiaya oleh majikan. Sutiyah yang mengaku bekerja sebagai pembantu pada salah satu keluarga yang tinggal di Jalan Bukit Raya Tawau Malysia ini mengaku melarikan diri dari majikannya karena sering dianiaya.

Sutiyah mengaku sering dipukul dengan alat alat dapur. Bahkan dia diancam akan dipukul jika bekerja lamban. Sutiyah juga diancam akan dijual kembali jika melawan kepada majikan.

Sutiyah akhirnya melarikan diri ke konsulat dan minta dipulangkan ke daerah asalnya. Sutiyah mengaku bekerja di Malaysia baru 2 bulan secara legal. Padahal pemerintah telah melarang pengiriman TKI di bidang informal.

“Saya minta dipulangkan saja ke kampung saya di Cirebon. Saya ndak mau lama-lama di sini,” ucap Sutiyah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bupati Arief Berikan Respons Positif akan Rencana IPB Dirikan Sekolah Peternakan Rakyat di Blora

Bupati Arief Berikan Respons Positif akan Rencana IPB Dirikan Sekolah Peternakan Rakyat di Blora

Regional
USAID dan CCBO Kagum dengan Aksi Warga Kelola Sampah di Makassar

USAID dan CCBO Kagum dengan Aksi Warga Kelola Sampah di Makassar

Regional
Peringati HUT Ke-127 Kota Negara, Bupati Jembrana Ikuti Pawai Budaya Jagat Kerthi

Peringati HUT Ke-127 Kota Negara, Bupati Jembrana Ikuti Pawai Budaya Jagat Kerthi

Regional
Sigap Atasi Inflasi di Riau, Gubernur Syamsuar Gencarkan Operasi Pasar

Sigap Atasi Inflasi di Riau, Gubernur Syamsuar Gencarkan Operasi Pasar

Regional
Peringati HUT Ke-77 RI, Bupati Blora Berkunjung ke Rumah Veteran dan Purnawirawan

Peringati HUT Ke-77 RI, Bupati Blora Berkunjung ke Rumah Veteran dan Purnawirawan

Regional
Bekerja Sama dengan TP PKK, Pemkab Jembrana Salurkan 15,1 Ton Beras Bansos

Bekerja Sama dengan TP PKK, Pemkab Jembrana Salurkan 15,1 Ton Beras Bansos

Regional
Kasus Covid-19 Naik, Bupati Wonogiri Minta Warga Taati Prokes

Kasus Covid-19 Naik, Bupati Wonogiri Minta Warga Taati Prokes

Regional
Momen HUT Ke-77 RI, Bupati Jekek Ajak Warga Bangun Kembali Harapan yang Hilang

Momen HUT Ke-77 RI, Bupati Jekek Ajak Warga Bangun Kembali Harapan yang Hilang

Regional
HUT Ke-77 RI, Walkot Madiun Minta Generasi Muda Isi Kemerdekaan dengan Hal-hal Positif

HUT Ke-77 RI, Walkot Madiun Minta Generasi Muda Isi Kemerdekaan dengan Hal-hal Positif

Regional
Pemkot Makassar Ajak Penyandang Disabilitas Rayakan HUT Ke-77 RI

Pemkot Makassar Ajak Penyandang Disabilitas Rayakan HUT Ke-77 RI

Regional
Momen HUT Ke-77 RI, Ganjar Ajak Mantan Napiter Berikan Pemahaman Bahaya Intoleransi dan Radikalisme

Momen HUT Ke-77 RI, Ganjar Ajak Mantan Napiter Berikan Pemahaman Bahaya Intoleransi dan Radikalisme

Regional
HUT Ke-77 RI, Pemkab Trenggalek Beri Ruang Berekspresi bagi Penari Anak-anak

HUT Ke-77 RI, Pemkab Trenggalek Beri Ruang Berekspresi bagi Penari Anak-anak

Regional
Peringati HUT Ke-77 RI, Desa Wisata Tebing Lingga Siap Kibarkan Bendera Merah Putih Raksasa

Peringati HUT Ke-77 RI, Desa Wisata Tebing Lingga Siap Kibarkan Bendera Merah Putih Raksasa

Regional
Peringati HUT Ke-72 Jateng, Bupati Blora Kenakan Pakaian Adat Sikep Samin

Peringati HUT Ke-72 Jateng, Bupati Blora Kenakan Pakaian Adat Sikep Samin

Regional
Bupati Jekek Minta Gerakan Pramuka Peka Terhadap Persoalan Bangsa dan Penderitaan Sesama

Bupati Jekek Minta Gerakan Pramuka Peka Terhadap Persoalan Bangsa dan Penderitaan Sesama

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.