Kerajinan Biji Jenitri Magelang Tembus hingga Australia

Kompas.com - 03/02/2015, 22:54 WIB
Imam Suhadak, perajin biji jenitri, di Dusun Sangubanyu, Desa Banyuwangi, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang. KOMPAS.com/Ika FitrianaImam Suhadak, perajin biji jenitri, di Dusun Sangubanyu, Desa Banyuwangi, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang.
|
EditorFarid Assifa
MAGELANG, KOMPAS.com - Imam Suhadak kini menikmati hasil kerja kerasnya setelah bertahun-tahun merintis kerajian biji pohon jenitri. Pria 38 tahun itu bisa memiliki rumah sendiri, menghidupi keluarga hingga menyediakan lapangan kerja bagi tetanga-tetangganya.

Suhadak tidak kecil hati meski usaha kerajinan biji jenitri termasuk tidak umum di tempat tinggalnya di Dusun Sangubanyu, Desa Banyuwangi, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di kaki gunung Sumbing itu, pohon jenitri masih tergolong langka. Kebanyakan warga bekerja sebagai petani di sawah maupu perkebunan. Namun bagi Suhadak, kondisi tersebut justru menjadi peluang untuk mengembangkan bisnis kerajinan biji jenitri.

"Biji jenitri memang belum banyak dikenal di sini (Magelang). Biji ini banyak ditemukan di Sumatera, Ambon, Sulawesi, Papua dan Kalimantan. Saya juga menanamnya tetapi hanya beberapa pohon saja," kata Suhadak ditemui Kompas.com di kediamannya, belum lama ini.

Di tangan Suhadak, biji-bijian berwarna cokelat kasar itu dibuat beragam kerajian menarik seperti tasbih atau Mala Buddha, kalung, gelang, bantalan jok mobil, bola pijatan hingga topi menyerupai bagian kepala arca Sidharta Gautama. Sejak dulu, Suhadak memang menyukai dunia desain sehingga tidak heran jika dia pun cukup mahir merangkai biji-biji dengan arsitektur alami itu menjadi kerajian yang unik dan mempunyai nilai jual tinggi.

“Awalnya saya memang senang menggambar dan desain, lalu saya mencoba merintis usaha jenitri ini. Saya coba bikin karya yang masih jarang dibuat di sini. Salah satunya mahkota Gajah Mada yang bentuknya mirip stupa Candi Borobudur," papar Suhadak yang dahulu bekerja sebagai teknisi galangan kapal di Cilincing, Jakarta.

Tembus ke luar negeri

Ia tidak menyangka, setelah diperkenalkan ke pasaran, banyak yang menyukai kerajinan hasil karyanya. Tidak tanggung-tanggung, topi Gajah Mada banyak disukai oleh orang-orang luar negeri seperti Tiongkok dan Nepal. Sedangkan Mala Buddha yang berisi 108 biji jenitri itu laris manis di negara Tiongkok, Hongkong, Korea, Jepang hingga Australia.

Menurut Suhadak, kerajinan biji jenitri, khususnya Mala, banyak dipakai untuk ritual ibadah umat Buddha. Namun, tidak sedikit pula yang mengenakan kerajinan ini untuk keperluan fashion, seperti di negara Hongkong dan Korea.

"Dulu saya masih door to door untuk mengenalkan produk saya ke masyarakat, lalu saya juga sering ikut pameran kerajinan di berbagai daerah. Tapi sekarang saya manfaatkan internet untuk promosinya," ujar Suhadak.

Harga yang ditetapkan untuk setiap produknya bervariasi. Misalnya, harga kalung atau tasbih Rp 25.000 per buah, bola pijat Rp 20.000, bantalan jok mobil antara Rp 500.000 - Rp 1 juta, paling mahal mahkota Gajah Mada berkisar antara Rp 1 juta - Rp 5 juta per buah.

"Harga tergantung jenis dan kesulitan rangkaian setiap produk. Namun harga juga tergantung keunikan ukiran alami pada kulit biji, semakin unik, maka semakin mahal harga per bijinya," jelas Suhadak.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pandemi Covid-19, Kerawanan Pilkada di Kabupaten Semarang Meningkat

Pandemi Covid-19, Kerawanan Pilkada di Kabupaten Semarang Meningkat

Regional
Partai Nasdem dan Gerindra Dukung Danny Pomanto di Pilkada Makassar 2020

Partai Nasdem dan Gerindra Dukung Danny Pomanto di Pilkada Makassar 2020

Regional
Belajar dari Kasus Balita Rafadan, Orang Miskin Dilarang Sakit?

Belajar dari Kasus Balita Rafadan, Orang Miskin Dilarang Sakit?

Regional
8 Destinasi Wisata Non Pendakian di Gunung Rinjani Dibuka 7 Juli 2020

8 Destinasi Wisata Non Pendakian di Gunung Rinjani Dibuka 7 Juli 2020

Regional
Tak Lagi Kantongi Izin, 14 Tempat Karaoke di Kota Tegal Nekat Beroperasi

Tak Lagi Kantongi Izin, 14 Tempat Karaoke di Kota Tegal Nekat Beroperasi

Regional
Tekan Covid-19, Jam Malam Diberlakukan di Sidoarjo, Sejumlah Jalan Ditutup

Tekan Covid-19, Jam Malam Diberlakukan di Sidoarjo, Sejumlah Jalan Ditutup

Regional
Bawa Senjata Tajam, Ratusan Warga Bongkar Paksa Peti Jenazah Covid-19 di Jeneponto, Polisi Buru Provokotor

Bawa Senjata Tajam, Ratusan Warga Bongkar Paksa Peti Jenazah Covid-19 di Jeneponto, Polisi Buru Provokotor

Regional
Pekan Depan, Polisi Periksa Legislator Penjamin Jenazah Covid-19 di Makassar

Pekan Depan, Polisi Periksa Legislator Penjamin Jenazah Covid-19 di Makassar

Regional
8 Pasien Positif di Grobogan Sembuh, 6 di Antaranya Warga Gubug

8 Pasien Positif di Grobogan Sembuh, 6 di Antaranya Warga Gubug

Regional
Suami Bunuh Pemuda yang Baru Dikenalnya Ternyata Residivis Kasus yang Sama

Suami Bunuh Pemuda yang Baru Dikenalnya Ternyata Residivis Kasus yang Sama

Regional
Puluhan Warga Datangi RS Minta Pasien Positif Corona Dipulangkan

Puluhan Warga Datangi RS Minta Pasien Positif Corona Dipulangkan

Regional
Satgas Covid-19 Diusir Saat Jemput Pasien Positif yang Kabur di Sumenep

Satgas Covid-19 Diusir Saat Jemput Pasien Positif yang Kabur di Sumenep

Regional
Mobil dengan Kaca Pecah Ditinggal Kabur Hebohkan Warga Jember

Mobil dengan Kaca Pecah Ditinggal Kabur Hebohkan Warga Jember

Regional
Kang Emil Optimis Kegiatan Keagamaan dan Pendidikan di Jabar Pulih dengan Cepat

Kang Emil Optimis Kegiatan Keagamaan dan Pendidikan di Jabar Pulih dengan Cepat

Regional
Usut Kasus Pengambilan Jenazah Covid-19 di Makassar, Polisi Telah Periksa 11 Saksi

Usut Kasus Pengambilan Jenazah Covid-19 di Makassar, Polisi Telah Periksa 11 Saksi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X